
TANGERANG – Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengecam keras pencegatan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 oleh Israel di perairan internasional serta perlakuan terhadap para relawan, termasuk sembilan WNI yang telah dipulangkan ke Indonesia.
Ia menegaskan tindakan pencegatan terhadap kapal kemanusiaan dan perlakuan terhadap relawan sipil tidak dapat dibenarkan.
“Tindakan sewenang-wenang yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional,” kata Sugiono dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu (25/5).
Ia mengatakan pemerintah Indonesia juga mengecam perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan oleh militer Israel.
Pada kesempatan yang sama, Sugiono memastikan sembilan WNI peserta misi GSF 2.0 telah tiba dengan selamat di Indonesia pada Minggu.
“Sembilan saudara-saudara kita tersebut tiba dengan selamat di tanah air. Kami dari Kementerian Luar Negeri mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan koordinasi dari semua pihak,” ujarnya.
Menurut Sugiono, keberhasilan pembebasan dan pemulangan para WNI itu merupakan hasil koordinasi intensif pemerintah RI.
“Keberhasilan evakuasi dan pembebasan ini merupakan buah dari kerja keras serta koordinasi intensif yang dilakukan pemerintah Indonesia secara berlapis,” katanya.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui Direktorat Pelindungan WNI mengoptimalkan jalur diplomasi dengan melibatkan lima perwakilan RI di kawasan strategis.
Kelima perwakilan tersebut yakni Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, dan KBRI Roma.
Sugiono juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Turkiye, Yordania, dan Mesir yang membantu proses penjemputan sembilan WNI tersebut dari Ashdod, Israel.
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfattah A.K. Al-Sattari menyebut sembilan WNI tersebut sebagai pahlawan.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia terhadap Palestina.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah serta rakyat Indonesia,” kata Al-Sattari.
Ia menambahkan dirinya percaya Palestina akan segera merdeka.
Kemlu RI sebelumnya menyampaikan kapal misi kemanusiaan GSF 2.0 yang membawa sembilan WNI dicegat militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, pada 18 Mei 2026.
Para WNI tersebut kemudian ditahan di kota Ashdod, Israel.
Setelah serangkaian langkah diplomatik dan kekonsuleran yang dilakukan pemerintah RI bersama berbagai pihak, termasuk GSF dan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sembilan WNI itu dibebaskan pada 21 Mei 2026.
Mereka kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan di Istanbul, Turkiye, sebelum kembali ke Indonesia.
Sementara, sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penahanan Zionis Israel kembali ke tanah air melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, pada Minggu sore.
Kepulangan sembilan WNI yang bergabung dalam pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 ke tanah air itu, menjalani perjalanan panjang setelah berhasil keluar dari penahanan otoritas Israel. Mereka sebelumnya dievakuasi oleh Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan RI sebagai langkah perlindungan terhadap warga Indonesia.
Dalam perjalanan kembali ke tanah air, para WNI ini diterbangkan menumpang pesawat Emirates pada Sabtu (23/5) pukul 19.35 waktu Istambul-Dubai. Kemudian, kembali diterbangkan melalui rute Dubai-Jakarta pada Minggu (24/5) pukul 04.10 dengan ketibaan di Indonesia pukul 15.30 WIB.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono turut hadir dalam penjemputan kepulangan sembilan WNI tersebut. Pihaknya menyampaikan apresiasi kepada semua lembaga yang terlibat dalam pembebasan warganya itu.
“Hari ini kita kedatangan teman-teman dari aktivis kemanusiaan, yang kita ketahui mereka telah ditahan oleh militer Israel. Dan kemudian mereka berada dalam kondisi selamat,” ucap Menlu Sugiono dalam konferensi pers saat penjemputan itu.
Ia mengatakan, pemerintah Indonesia telah memastikan sembilan warganya yang tergabung sebagai relawan flotilla kemanusiaan ke Jalur Gaza dalam kondisi selamat dan aman.
Dia menambahkan, selama upaya pembebasan pihaknya melakukan koordinasi dan negosiasi dengan beberapa lembaga negara agar bisa mengembalikan para sandera dari militer Israel.
“Terima kasih kepada Presiden dan DPR RI yang sudah membantu mendorong dalam pembebasan WNI kita, kami sampaikan juga kepada Pemerintah Turkiye, Jordan, Mesir yang juga telah membantu dalam upaya pemulangan warga kita dan juga membantu penjemputan saudara kita,” ujarnya.
Sebelumnya, seluruh relawan GSF dari berbagai negara dikonfirmasi telah dibebaskan dari penjara di Israel. Mereka telah dideportasi dan diterbangkan keluar dari wilayah Israel menuju Turkiye.
Setelah tiba di Istanbul, kesembilan WNI peserta flotilla kemanusiaan ke Jalur Gaza tersebut sempat menjalani serangkaian proses pemeriksaan lanjutan terlebih dahulu sebelum dapat terbang pulang ke tanah air.
“Akan ada proses testimoni, visum, dan tes kesehatan oleh pihak Turkiye,” ucap Duta Besar Indonesia untuk Turkiye, Achmad Rizal Purnama.
Adapun dari sembilan WNI yang ditahan oleh Zionis Israel itu, ternyata tak luput dari kekerasan fisik yang dilakukan personel militer negara tersebut. Dimana mereka mengaku dipukuli, ditendang, dan disetrum saat ditahan. Ant


