
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut investasi emas memberikan potensi keuntungan yang besar. Dalam setahun terakhir, kenaikan harga emas disebut bisa mencapai sekitar 60 persen.
Menurut Airlangga, kinerja emas dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan instrumen tersebut menjadi pilihan investasi yang menarik bagi masyarakat. “Kalau investasi di emas ini setahun sudah 60 persen kenaikannya. Jadi mau investasi di mana lai, Pak Pandu? Ini terbukti dari BSI maupun Pegadaian,” ujar Airlangga dalam peluncuran Indonesia Bullion Ecosystem Roadmap di Jakarta.
Ia juga menyinggung kinerja PT Pegadaian yang dinilai cukup kuat dalam bisnis emas. Perusahaan pelat merah itu mencatat rasio pengembalian aset (return on assets/ROA) sekitar 6,7 persen.
Selain itu, jumlah nasabah emas Pegadaian juga terus bertambah. Saat ini tercatat sekitar 5,7 juta nasabah dengan total tabungan emas mencapai 19,25 ton.
Airlangga mengatakan total emas yang dikelola Pegadaian bahkan mencapai sekitar 141,7 ton. Menurut dia, angka tersebut lebih besar dibandingkan emas yang dikelola Bank Indonesia. “Jadi pengelolaan emas Pegadaian ini lebih tinggi dari Bank Indonesia. Jadi silakan diakuisisi, Bu Destry,” kata Airlangga.
Saat ini pemerintah sedang mendorong penguatan ekosistem bullion bank di Indonesia. Hingga kini terdapat dua penyelenggara utama, yakni PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Anggoro Eko Cahyo menyampaikan minat masyarakat terhadap investasi emas melalui perbankan syariah juga meningkat.
Sepanjang 2025, jumlah nasabah emas BSI tumbuh sekitar 40 persen. Volume perdagangan emas mencapai sekitar 4 ton. “Dua bulan ini saja sudah 2,7 ton. Jadi kelihatannya tahun ini bisa dua kali lipat trading-nya,” ujar Anggoro.
Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan membenarkan, saat ini Pegadaian mengelola sekitar 141 ton emas dari berbagai produk dan layanan. Ia mengatakan emas yang dikelola itu berasal dari berbagai sumber, mulai dari produk bullion, titipan emas, pembiayaan berbasis emas, hingga tabungan emas milik masyarakat.
“Emas yang kami kelola saat ini sekitar 141 ton. Ini terdiri dari berbagai tipe produk bullion, termasuk titipan emas, modal kerja emas bullion trading, serta tabungan emas masyarakat,” ujar Damar.
Pegadaian juga mencatat tabungan emas masyarakat mencapai sekitar 19,2 ton yang berasal dari sekitar 5,6 juta nasabah. Produk ini menjadi salah satu instrumen investasi yang terus diminati karena dapat diakses dengan nominal kecil.
Untuk memperluas akses investasi emas, Pegadaian meluncurkan aplikasi digital Tring pada Oktober 2025. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mulai menabung emas dengan nominal mulai dari Rp 10.000.
Menurut Damar, hingga akhir 2025 aplikasi tersebut telah digunakan sekitar 4,8 juta pengguna dengan total transaksi mencapai 21,2 juta kali. Dari aktivitas itu tercatat transaksi emas sekitar 4,8 ton atau setara sekitar 50 persen dari total penjualan emas Pegadaian.
Selain layanan digital, Pegadaian juga mengembangkan infrastrukturpendukung ekosistem emas nasional, termasuk melalui produk Galeri 24 yang memproduksi emas batangan. Sepanjang 2025, produksi emas Galeri24 tercatat mencapai 10,2 ton.
Ke depan, Pegadaian juga menargetkan peningkatan sertifikasi internasional bagi produk emasnya. Saat ini sertifikasi yang dimiliki masih berada pada level SME, namun perusahaan menargetkan peningkatan menuju sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) dalam beberapa tahun mendatang.
Damar menambahkan penguatan ekosistem bullion bank juga akan didukung pembentukan Indonesia Bullion Market Association yang melibatkan sekitar 11 perusahaan di industri emas nasional. Asosiasi tersebut ditargetkan dapat diresmikan pada Juni 2026. rep/mb06

