Oleh: Nanang Qosim (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Da’i Muda, Pengurus Takmir Masjid, Peneliti dan Penulis Buku)
Ramadan selalu datang sebagai jeda spiritual di tengah rutinitas kehidupan yang semakin bising dan cepat. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang refleksi kolektif bagi umat Islam untuk menata ulang relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Puasa, dalam makna terdalamnya, adalah latihan pengendalian diri sekaligus ujian kepekaan sosial. Karena itu, setiap tradisi yang tumbuh di bulan Ramadan idealnya menguatkan dua dimensi tersebut: hablum minallah dan hablum minannas.
Salah satu tradisi yang terus menguat dari tahun ke tahun adalah buka puasa bersama. Fenomena ini tidak lagi terbatas di masjid atau rumah-rumah sederhana, tetapi menjalar ke ruang-ruang institusional: kantor pemerintahan, BUMN, perusahaan swasta, markas militer dan kepolisian, hotel, restoran, hingga event-event Ramadan yang dikemas megah. Undangan buka puasa bahkan sudah mulai beredar sejak pekan pertama Ramadan, dan mencapai puncaknya pada pekan kedua dan ketiga. Di satu sisi, ini pertanda baik: ada gairah untuk berbagi dan bersilaturahmi. Namun di sisi lain, fenomena ini juga mengundang refleksi kritis: apakah buka puasa bersama masih menjadi medium pemaknaan spiritual, atau perlahan bergeser menjadi seremoni sosial belaka.
Islam secara tegas menempatkan memberi makan orang berbuka sebagai amal yang bernilai tinggi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda bahwa “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi). Pesan hadis ini jelas: esensi buka puasa bukan pada kemewahan hidangan, melainkan pada niat berbagi dan empati sosial, terutama kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Silaturahmi Kolektif
Di titik inilah, tradisi buka puasa bersama seharusnya menemukan makna terdalamnya sebagai silaturahmi kolektif. Bukan silaturahmi eksklusif antar-elite, tetapi perjumpaan lintas lapisan sosial yang menghidupkan rasa kebersamaan. Ramadan adalah bulan di mana sekat-sekat sosial idealnya mencair, bukan justru mengeras dalam bentuk jarak simbolik antara “yang mengundang” dan “yang diundang”.
Pengalaman menghadiri berbagai acara buka puasa bersama—baik di kediaman pejabat, kantor institusi, maupun ruang publik lainnya—menyajikan potret yang beragam. Ada suasana hangat yang tulus, tetapi tak jarang pula tampak gestur-gestur seremonial yang terasa dipaksakan. Kursi undangan dengan label nama, meja-meja yang secara tidak tertulis mengelompokkan status sosial, hingga interaksi yang lebih sibuk dengan kamera ponsel daripada dengan manusia di sekitarnya. Pemandangan saling sapa yang semestinya menghadirkan keakraban kadang berubah menjadi formalitas penuh citra.
Padahal, substansi silaturahmi dalam Islam jauh melampaui basa-basi. Rasulullah Saw menegaskan dalam hadis shahih riwayat Bukhari bahwa silaturahmi memiliki dampak spiritual dan sosial yang besar: ia dicintai Allah dan Rasul-Nya, melapangkan rezeki, serta memanjangkan umur. Terlepas dari perdebatan makna “memanjangkan umur” secara literal atau metaforis, pesan utamanya terang: silaturahmi adalah energi kehidupan yang menumbuhkan keberkahan.
Sayangnya, dalam sebagian acara buka puasa bersama, pesan-pesan Ramadan justru tereduksi oleh kepentingan lain. Tausyiah yang seharusnya menjadi ruang penguatan spiritual terkadang bergeser menjadi panggung retorika yang sarat muatan politis. Ada penceramah yang terlalu jauh mengaitkan mimbar Ramadan dengan agenda kekuasaan, bahkan tanpa disadari terjebak dalam glorifikasi tuan rumah. Di sinilah kehati-hatian diperlukan, sebab Ramadan bukan milik kelompok atau kepentingan tertentu, melainkan ruang suci umat secara keseluruhan.
Lebih dari itu, konteks kekinian menuntut kita untuk membaca ulang makna buka puasa bersama di era digital. Hari ini, hampir setiap momen berbuka diunggah ke media sosial. Foto hidangan, swafoto bersama pejabat, hingga dokumentasi acara menjadi konsumsi publik. Tidak salah, tentu saja. Namun yang patut dijaga adalah niat dan pesan di baliknya. Apakah unggahan tersebut menginspirasi kepedulian sosial, atau sekadar mempertegas jarak antara yang “punya akses” dan yang terpinggirkan?
Bulan Keberpihakan
Ramadan sejatinya adalah bulan keberpihakan. Keberpihakan pada kaum dhuafa, anak yatim, musafir, dan mereka yang sering luput dari sorotan. Karena itu, acara buka puasa bersama akan jauh lebih bermakna ketika dihadiri oleh suara-suara yang jarang terdengar. Tangis anak yatim, senyum fakir miskin, dan doa orang-orang sederhana justru menjadi penanda bahwa Ramadan hadir secara nyata, bukan simbolik.
Di tengah kesibukan tugas dan amanah profesional, memilih untuk hadir atau tidak dalam undangan buka puasa juga menjadi bagian dari etika personal. Tidak semua undangan harus dipenuhi, terlebih jika berbenturan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Dalam Islam, amanah adalah prioritas. Namun ketika kesempatan hadir terbuka, bahkan hanya sejenak, silaturahmi tetap bisa terjaga dengan niat yang lurus.
Evaluasi Kolektif
Memasuki bulan Ramadan dan menjelang akhir Ramadan nantinya, momentum buka puasa bersama seharusnya semakin diarahkan sebagai ruang evaluasi kolektif. Bagi para pemangku kebijakan, ini adalah kesempatan menyapa masyarakat tanpa jarak formal, mendengar aspirasi secara langsung, dan menumbuhkan empati yang sering terkikis oleh rutinitas birokrasi. Bagi masyarakat, ini ruang untuk merasakan kehadiran negara secara manusiawi, bukan semata administratif.
Maka pada akhirnya, buka puasa bersama bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bisa menjadi jembatan emas yang menghubungkan nilai-nilai langit dengan realitas bumi, asalkan ditata dengan kesadaran dan keikhlasan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi agenda tahunan yang berlalu tanpa jejak makna.
Ramadan mengajarkan kita bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada kemeriahan, tetapi pada perubahan sikap. Semoga tradisi silaturahmi kolektif di bulan suci Ramadan dari awal sampai akhir terus disempurnakan, agar benar-benar menjadi ruang dakwah yang hidup—menguatkan iman, menumbuhkan solidaritas, dan memanusiakan manusia. Dari sanalah akhirnya Idul Fitri akhirnya akan kita sambut bukan sekadar sebagai hari raya, tetapi sebagai tanda kelulusan spiritual yang nyata. Semoga.

