
BANJARMASIN – Guru Haji Saiful Anshari mengimbau kaum Muslimin dengan perbedaan puasa Ramadhan jangan “tumbur” atau dalam bahasa Banjar maksudnya jangan menjadi persoalan atau ramai dipersoalkan.
“Karena dalam penetapan awal bulan hijriah/kamariah dasarnya sama, hanya pendekatan yang berbeda,” ujar Guru Saiful dalam tausyiah di Masjid Assa’adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, sesudah shalat Subuh, Selasa (17/2).
Pengasuh salah satu pondok tahfiz (penghafal Al Qur’an) dj Kota Banjarmasin ini, menyampaikan imbauan tersebut saat pengajian rutin “Sifat 20” atau tarekat Asysy’ariah, karena masih ada kaitan dengan puasa Ramadhan, dan materi kali ini tentang Sifat Allah – Sami’an (Maha Mendengar).
“Kemahamendengaran dan Kemahatahuan Allah berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yaitu manusia yang sangat terbatas. Dan tak ada yang menyerupai Kemahamendengaran dan Kemahatahuan Allah, ” ujar Guru Saiful.
Pada kesempatan itu, Guru Saiful kembali mengingatkan keutamaan salawat yang bukan saja nama Nabi Muhammad SAW tertulis di Arsy Allah dan pintu Surga, tapi juga mahar Nabi Adam Alaihi Salaam (AS) kawin dengan Siti Hawa adalah salawat.
“Oleh karena itu bagi kaum Muslim dianjurkan memperbanyak membaca/mengucap salawat. Insya Allah kelak akan dipertemukan dengan Rasulullah SAW di Surga,” ujar Guru Saiful.
Dalam pengajian Sifat 20 tersebut,. Guru Saiful juga menerangkan hal-hal yang berkenaan dengan puasa antara lain jangan menggibah karena bisa membatalkan pahala puasa.
“Pasalnya menggibah pekerjaan paling mudah dan kadang tak terasa bahwa pembicaraan itu gibah atau suatu perbuatan dosa,” ujar Guru Saiful sembari mengilustrasi bahwa orang yang tak suka menggibah mendapat kasih sayang Allah.
Sebagai contoh mayat yang kain kafannya masih utuh walau beberapa tahun meninggal dunia dan dalam temuan saat membangun flyover Kayu Tangi Banjarmasin. “Ketika ditanya keluarga tentang amalan si mayat, ternyata selama hidup yang bersangkutan tak pernah melakukan gibah,” demikian Guru H Saiful Anshari. ant

