Nanang Qosim, S.Pd.I., M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)
Kurang beberapa hari lagi, Ramadhan akan kembali hadir di tengah-tengah kita. Sebelum memasukinya, kita menginginkan suasana bathin yang kondusif. Salah satunya, menghilangkan sifat yang bisa merusak ibadah kita dalam beribadah di bulan Ramadhan nantinya.
Sebagai bulan yang istimewa, Ramadhan adalah bulan yang menjadi candu bagi umat Islam, bulan yang selalu didambakan oleh umat Islam. Pelbagai harapan kerap muncul dan bertebaran saat memasuki bulan Ramadhan.
Bulan yang penuh dengan keistimewaan, dibandingkan bulan-bulan yang lain. banyak keistimewaan yang ada pada bulan Ramadhan, seperti rahmat Tuhan bertebaran di mana-mana, ampunan Tuhan terbuka lebar-lebar, pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu, serta pahala dilipatgandakan. Berkah yang sangat besar pada bulan Ramadhan menjadikan umat Islam semakin rajian beribadah. Pada bulan Ramadhan semua aktivitas penuh dengan simbol-simbol keislaman.
Bahkan penyiar dan iklan di telivisipun mendadak Islami. Begitulah realitas keberagamaan kita pada bulan Ramadhan. Ramadhan menjadi tempat menyucikan diri, meski sesekali hanya banyak berbau formalitas. Aktivitas sedekah pada bulan Ramadhan juga meningkat drastis. Zakat harta bagi umat Islam yang mencapai nisab juga banyak dibagikan pada bulan Ramdahan.
Masjid-masjid penuh dengan sedekah orang yang ingin berbagi buka puasa. Sehingga tidak susah pada bulan suci ini mencari makanan berbuka, atau bahkan tak susah pula mencari makanan agar bisa bertahan hidup selama satu bulan. Kemurahan rezeki Tuhan tidak lain sebagai bagian dari berkah yang diberikanNya pada bulan yang sangat disucikan oleh umat Islam. Sehingga Ramadhan memberi banyak manfaat bagi masyarakat miskin. Mereka yang selama ini kesulitan mendapat makanan, pada bulan Ramadhan sangat mudah. Bahkan kadang sangat istimewa, sebab banyak buka puasa bersama, yang secara khusus diberikan kepada masyarakat miskin, yang di dalamnya disedikan makanan-makanan berkualitas, enak, dan berharga mahal.
Lebih dari itu, masyarakat miskin juga banyak mendapat bantuan uang, sembako, pakaian, dan bentuk materi lain yang sangat menguntungkan bagi masyarakat miksin. Sebab zakat harta dan sedekah orang-orang kaya diberikan pada bulan Ramadhan secara besar-besaran. Momen Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, yang jika melakukan kebaikan pahalanya dilipatgandakan, menjadikan bulan ini disukai banyak orang dalam melakukan aktivitas keagamaan. Siapapun pasti tergiur dengan pahala yang banyak, maka menjadi hal wajar bila aktivitas kebaikan pada bulan ini meningkat sangat drastis. Begitu sebaliknya, aktivitas kemaksiatan ataupun kejahatan menurun drastis, bahkan tempat-tempat maksiat biasanya tutup pada bulan Ramadhan. Sehingga, Ramadhan menjadi bulan yang sangat ramah dan tenang penuh kedamaian, sebagai bagian dari cara Tuhan menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan.
Berkah lain yang ada pada bulan Ramadhan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat miskin, tetapi juga dirasakan oleh orang-orang kaya, terutama mereka yang menjadi pengusaha ataupun pedagang. Aktivitas perekonomian pada bulan Ramadhan meningkat drastis. Kebutuhan masyarakat pada bulan ini naik sedemikian rupa. Selain kebutuhan pokok, banyak pula masyarakat yang mengonsumsi kebutuhan-kebutuhan sekunder, terutama puncaknya nanti menjelang hari raya. Aktivitas perdagangan pasti sangat pesat sekali. Sehingga meningkatnya kebutuhan masyarakat ini memberi dampak positif bagi peningkatan hasil para pengusaha dan pedagang. Mereka mendapat berkah yang luar biasa pada bulan Ramadhan, sebagai dampak dari meningkatnya kebutuhan dan budaya konsumtif masyarakat.
Paradoks Ramadhan
Tetapi pada satu sisi masyarakat dihadapkan pada paradoks Ramadhan. Meningkatnya kebutuhan dan budaya konsumtif masayarakat pada bulan Ramadhan, menjadikan banyak pengusaha dan pedagang mengambil keuntungan yang berlebihan dari momen penting ini. Mereka banyak menaikkan harga kebutuhan masyarakat, barang-barang mendadak menjadi mahal, bahkan sudah bisa dirasakan menjelang awal Ramadhan. Sehingga Ramadhan yang kita yakini sebagai bulan penuh berkah, pada satu sisi menjadi bencana perekonomian masyarakat, akibat ulah pengusaha dan pedagang yang mengambil keuntungan secara berlebihan. Sudah bukan rahasia lagi bila pada bulan Ramadhan harga kebutuhan melonjak naik. Kesempatan menaikkan harga kebutuhan pokok secara berlebihan semakin mudah. Kemudian yang menjadi korban adalah masyarakat miskin dan menengah ke bawah, mereka merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kita memang dihadapkan pada sesuatu yang paradoks di bulan Ramadhan. Ramadhan pada satu sisi memberikan kabar gembira bagi masyarakat, selain sebagai bulan ibadah yang kita yakini penuh berkah, juga Ramadhan banyak berdampak baik bagi kesejahteraan masyarakat miskin dengan banyaknya zakat harta dan sedekah yang diberikan orang-orang kaya. Sehingga masyarakat miksin menjadi sangat mudah memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tetapi di sisi lain, meningkatnya kebutuhan dan budaya konsumtif yang berkembang di masyarakat pada bulan Ramadhan membuat para pengusaha dan pedagang menaikkan harga kebutuhan pokok secara berlebihan. Harga makanan, minyak, pakaian, dan beragam kebutuhan lainnya mendadak naik pada bulan Ramadhan. Sehingga yang menjadi korban dalam hal ini, juga masyarakat miskin dan menengah ke bawah yang tidak kebagian zakat harta ataupun sedekah yang diberikan orang kaya. Atau meskipun mendapat bagian zakat harta dan sedekah, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya selama satu bulan.
Komitmen Keberagamaan
Ketika menghadapi paradoks ini, tentu kita mempertanyakan komitmen keberagamaan umat Islam Indonesia? Agama Islam sejatinya mengajarkan nilai-nilai yang agung tentang relasi sosial. Hassan Hanafi misalnya dalam rekonstruksi teologisnya, mengemukakan bahwa keyakinan teologis sejatinya mengajarkan manusia agar memperhatikan kesatauan tujuan, kesatuan kelas, kesatuan nasib, kesatuan tanah air, kesatuan kebudayaan, dan kesatuan kemanusiaan, sebagai bentuk reaktif dari keyakinan teologis yang selama ini dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Sebab agama hadir sebagai pijakan nilai yang mestinya menggerakkan manusia membangun keadaban hidup dalam harmoni kesejahteraan bersama.
Maka puasa, yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan, mestinya memberi efek yang positif bagi kesejahteraan hidup bermasyarakat. Sebab puasa, seperti pandangan Muhammad Ibrahim At-Tuwaijiri, menjadi sarana untuk mendidik dan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan yang telah ditentukan. Makna takwa disini sangat komprehensif dan universal, menyangkut hubungan vertikal dan horizontal dengan sesama manusia.
Maka bila puasa dijalankan dengan baik, nisacaya problem kenaikan harga kebutuhan pokok secara berlebihan pada bulan Ramadhan tidak akan terjadi. Sebab menaikkan harga kebutuhan pokok secara berlebihan sama saja dengan mencekik perekonomian masyarakat miskin. Sangat nyata dampaknya sangat buruk bagi perekonomian masyarakat. Tindakan mencekik perekonomian masyarakat tentu dilarang oleh agama, sebab Islam hadir sebagai agama rahmat, yang mestinya menggerakkan setiap penganutnya berjuang mewujudkan kehidupan bersama yang sejahtera dan berkeadilan. Semoga.
