BANJARMASIN – Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin melalui Sekdaprov, HM Syarifuddin menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kalsel di Gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin, Kamis (5/2) malam.
Gubernur Kalsel, H Muhidin dalam sambutan tertulis dibacakan Sekdaprov Kalsel, HM Syarifuddin menyampaikan apresiasi atas kontribusi organisasi tersebut dalam melahirkan kader-kader terbaik bangsa.
“Saya atas nama Pemprov Kalsel mengucapkan selamat ulang tahun ke-79 HMI dan semoga HMI tetap kokoh, konsisten dalam perjuangan, dan terus mencetak kader unggul bagi bangsa dan daerah,” ujarnya.
H Muhidin menegaskan, HMI bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan kawah candradimuka lahirnya pemimpin nasional dan daerah, termasuk tokoh-tokoh yang kini berperan dalam pembangunan Kalimantan Selatan.
Momentum ini, lanjut H Muhidin, harus menjadi ajang refleksi sekaligus proyeksi masa depan, khususnya dalam menjaga nilai keislaman dan keindonesiaan serta kemampuan beradaptasi menghadapi dinamika zaman.
Menurut Gubernur Muhidin, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, karena itu kader HMI diharapkan hadir sebagai penggerak sosial dengan bekal intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas yang kuat.
Pemprov Kalsel juga membuka ruang kolaborasi dengan seluruh elemen pemuda dan mahasiswa, termasuk HMI guna memperkuat pembangunan daerah. Gagasan kritis dan kontrol sosial dari mahasiswa dinilai penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan berpihak kepada rakyat.
“Kami berharap kader HMI terus meningkatkan kapasitas diri, menjaga integritas serta peka terhadap persoalan umat dan bangsa,” pesannya.
Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Kalsel, Abdi Aswadi menegaskan pentingnya adaptasi digital dan penguatan kaderisasi dalam momentum Milad ke-79 HMI yang diperingati pada 5 Februari 2026.
Abdi mengingatkan, sejak berdiri pada 14 Rabiul Awal 1366 H (5 Februari 1947), HMI telah melewati berbagai tantangan sejarah, mulai dari agresi militer hingga era reformasi. Saat ini, tantangan utama HMI bukan lagi konflik fisik, melainkan perkembangan pesat digitalisasi.
“Organisasi yang tidak melek digital akan tertinggal. Digitalisasi harus menjadi materi wajib dalam Basic Training agar kader siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Abdi juga menyoroti pentingnya peta jalan pasca kuliah bagi kader HMI melalui kolaborasi dengan KAHMI, agar kader memiliki arah dan kesiapan berkontribusi di masyarakat.
Dalam penguatan internal, Abdi menyebut perkembangan signifikan cabang HMI di Kalsel, dari sebelumnya lima cabang penuh dan tiga cabang persiapan, kini menjadi tujuh cabang penuh dan satu cabang persiapan. Menurutnya, kaderisasi tetap menjadi inti proses HMI dalam membentuk kader yang sadar jati diri dan potensi.
Di sisi eksternal, Badko HMI Kalsel memposisikan diri sebagai mitra strategis sekaligus kritis Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Pendekatan dialog dikedepankan, namun aksi akan menjadi pilihan terakhir jika tidak ada ruang penyelesaian.
Selama hampir dua tahun kepemimpinannya, Badko HMI Kalsel aktif mengadvokasi isu daerah, mulai dari perlindungan kader di Hulu Sungai Selatan hingga pengawalan kasus pertambangan emas ilegal di Tanah Laut.
“HMI akan terus menjadi penyambung lidah rakyat dan mengawal kebijakan pemerintah demi kemaslahatan Kalimantan Selatan,” pungkasnya.
Acara ditutup prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang HMI, sekaligus harapan agar organisasi ini terus tumbuh, solid, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan daerah. rfq/adpim/ani

