JAKARTA – Fenomena ‘Rojali’ alias rombongan jarang beli diprediksi mewarnai pergerakan konsumen di pusat perbelanjaan menjelang dan selama momentum Ramadan 2026. Meski demikian, mereka dianggap tetap memberi kontribusi terhadap pergerakan ekonomi.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan perubahan perilaku belanja masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
Budihardjo menjelaskan, konsumen kini cenderung datang ke mal untuk melihat-lihat terlebih dahulu, membandingkan harga, hingga mengecek ketersediaan produk di kanal online sebelum benar-benar melakukan transaksi.
“Fenomena Rojali memang saat ini orang beda ya cara belinya, dia nggak langsung beli, tetapi lihat-lihat dulu cek harga, foto-foto produk, cek di online, cek di mal-mal sebelah, sehingga memang itu [fenomena Rojali] wajar. Namun yang pasti mereka akan ke mal tuh pasti akan melakukan lifestyle,” kata Budihardjo.
Menurutnya, meskipun tidak langsung berbelanja, kehadiran pengunjung tetap memberikan kontribusi ekonomi, khususnya bagitenant makanan dan minuman.
Hippindo menyebut tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap terjaga lantaran mal masih menjadi destinasi pemenuhan kebutuhan gaya hidup, khususnya bagi konsumen dari segmen menengah ke atas.
Adapun, untuk pembelian pakaian, Budihardjo menyebut konsumen umumnya baru akan melakukan transaksi mendekati Hari Raya Idulfitri, sekitar dua minggu sebelum Lebaran. Hal ini seiring meningkatnya kepastian anggaran dan pencairan tunjangan hari raya (THR).
Meski demikian, Budihardjo menuturkan fenomena Rojali tidak menghilangkan optimisme pelaku ritel terhadap kinerja Ramadan tahun ini. Hippindo optimistis seluruh segmen konsumen tetap akan berbelanja sesuai kelas dan kebutuhan masing-masing, baik di ritel menengah ke bawah, menengah, hingga premium.
Di samping itu, dia menjelaskan pusat perbelanjaan premium tetap memiliki pasar tersendiri, sementara mal dengan segmen menengah dan bawah tetap ramai oleh konsumen yang berburu kebutuhan Lebaran dengan harga terjangkau.
Di tengah fenomena rojali, Budihardjo menilai sektor ritel makanan dan minuman (food and beverage/F&B) masih menjadi penopang utama pergerakan ekonomi di mal. Dia bahkan menyebut masuknya sejumlah merek restoran baru, termasuk konsep premium, turut menjaga traffic pengunjung selama Ramadan. Orang berbelanja makanan di pusat perbelanjaan Orang berbelanja makanan di pusat perbelanjaan.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengatakan pada Ramadan permintaan akan mengalami kenaikan tiga hingga empat lipat dari hari biasannya untuk keperluan keluarga maupun katering, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lonjakan permintaan ini harus di barengi dengan ketersediaan stok yang berlimpah guna menjaga psikologi pasar sehingga antara demand dan supply ada seimbang sehingga harga harga terjaga dan terjangkau oleh masyarakat,” kata Sarman. bisn/mb06

