Mata Banua Online
Kamis, Februari 5, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Memotret Minimnya Literasi Kesehatan

by Mata Banua
4 Februari 2026
in Opini
0
Nindita Enhar Satuti, S.Tr.Kes., M.Tr.TGM (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti Bidang Kesehatan).

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi menjadi keterampilan mendasar yang tidak bisa ditawar. Masyarakat hari ini hidup dalam situasi paradoks: informasi tersedia melimpah, tetapi pemahaman justru tertinggal. Kondisi ini sangat terasa dalam isu kesehatan. Berbagai kabar simpang siur, klaim berlebihan, hingga promosi berkepentingan kerap lebih dipercaya dibandingkan penjelasan ilmiah yang sahih. Akibatnya, keputusan kesehatan sering kali diambil bukan berdasarkan pengetahuan, melainkan asumsi, tren, atau bujuk rayu iklan.

Pengalaman menghadapi berbagai persoalan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir—mulai dari lonjakan kasus diabetes, obesitas, penyakit jantung, hingga masalah gizi kronis seperti stunting—menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya pada ketersediaan layanan kesehatan, tetapi pada rendahnya pemahaman masyarakat terhadap informasi kesehatan itu sendiri. Hal serupa juga tampak pada persoalan kesehatan gigi dan mulut yang kerap dipandang sepele, padahal berdampak besar terhadap kualitas hidup. Gigi berlubang, penyakit gusi, hingga kehilangan gigi dini masih sangat tinggi, terutama pada anak-anak dan kelompok usia produktif. Dalam banyak kasus, yang lebih sulit dilawan bukan penyakitnya, melainkan misinformasi dan sikap abai yang menyertainya.

Berita Lainnya

Memahami Hutan, Menyayangi Ibu dan Menyelamatkan Kehidupan

Memahami Hutan, Menyayangi Ibu dan Menyelamatkan Kehidupan

4 Februari 2026
Mengubur Mentalitas “Nebeng Haji”

Mengubur Mentalitas “Nebeng Haji”

3 Februari 2026

Sayangnya, kondisi literasi Indonesia secara umum masih memprihatinkan. Berbagai laporan internasional menempatkan Indonesia di posisi bawah dalam hal minat baca dan pemahaman informasi. Rendahnya budaya membaca dan berpikir kritis ini berdampak langsung pada kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi kesehatan. Banyak orang mudah percaya pada satu potongan informasi tanpa verifikasi, terlebih jika dikemas menarik dan menjanjikan solusi instan. Hal ini terlihat jelas pada maraknya mitos kesehatan gigi, seperti anggapan bahwa gigi berlubang pada anak tidak perlu dirawat karena akan tanggal sendiri, atau bahwa sakit gigi cukup diatasi dengan obat pereda nyeri tanpa perawatan profesional.

Salah satu aspek literasi yang sangat krusial adalah literasi kesehatan. The Institute of Medicine mendefinisikan literasi kesehatan sebagai kemampuan individu untuk memperoleh, memahami, dan menggunakan informasi serta layanan kesehatan guna membuat keputusan yang tepat bagi kesehatannya. Literasi kesehatan bukan sekadar tahu istilah medis, melainkan mencakup kemampuan menimbang manfaat dan risiko, memahami anjuran tenaga kesehatan, serta bersikap kritis terhadap klaim yang beredar. Dalam konteks kesehatan gigi dan mulut, literasi ini mencakup pemahaman tentang pentingnya perawatan preventif, kebiasaan menyikat gigi yang benar, pemeriksaan rutin, serta keterkaitan kesehatan mulut dengan penyakit sistemik seperti diabetes dan penyakit jantung.

Dalam konteks Indonesia, literasi gizi menjadi bagian penting dari literasi kesehatan yang masih lemah. Minimnya pemahaman tentang gizi seimbang membuat masyarakat—termasuk orang tua muda—mudah terjebak pada narasi kepraktisan yang ditawarkan industri pangan. Iklan susu formula, makanan bayi kemasan, dan produk instan lainnya sering dipersepsikan sebagai solusi modern, padahal tidak selalu sejalan dengan kebutuhan biologis dan tumbuh kembang anak. Pola konsumsi tinggi gula sejak usia dini juga berdampak langsung pada meningkatnya risiko karies gigi pada anak, yang ironisnya sering kali dianggap sebagai masalah kecil.

Literasi gizi yang rendah menjadi pintu masuk berbagai persoalan serius, mulai dari gizi buruk hingga stunting. Ketika orang tua tidak memahami kebutuhan nutrisi anak secara utuh, keputusan pemberian makanan sering kali didasarkan pada popularitas produk, bukan kandungan gizinya. Kondisi ini semakin kompleks ketika di tingkat akar rumput, rekomendasi yang diberikan justru datang dari oknum tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi penjaga etik dan pengetahuan ilmiah. Dampaknya tidak hanya pada status gizi, tetapi juga pada kesehatan gigi dan mulut anak yang rentan mengalami kerusakan dini akibat pola makan tidak sehat.

Idealnya, tenaga kesehatan berperan sebagai pendidik yang mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut, bukan sebagai perpanjangan tangan industri. Ibu seharusnya didampingi untuk mengolah makanan bayi dari bahan lokal yang segar dan bergizi, sekaligus diedukasi tentang kebiasaan perawatan mulut sejak dini. Ketika praktik sebaliknya terjadi, maka yang tercederai bukan hanya etika profesi, tetapi juga masa depan generasi.

Padahal secara alamiah, pemberian ASI merupakan fondasi terbaik bagi kesehatan bayi, termasuk perkembangan rahang dan rongga mulut. ASI bukan hanya sumber nutrisi lengkap, tetapi juga berperan dalam pembentukan fungsi oral yang optimal. Regulasi pemerintah terkait ASI eksklusif sejatinya sudah cukup jelas. Namun, lemahnya pengawasan dan rendahnya literasi masyarakat membuat aturan tersebut kerap tidak berjalan optimal di lapangan.

Di sisi lain, pola konsumsi masyarakat juga mengalami pergeseran signifikan. Makanan cepat saji dan ultra-proses kini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Harga terjangkau, rasa yang menggugah, serta kemudahan akses membuat makanan jenis ini semakin digemari. Sayangnya, di balik kepraktisan tersebut tersembunyi risiko kesehatan jangka panjang. Kandungan gula, garam, dan lemak tidak sehat yang tinggi tidak hanya memicu penyakit degeneratif, tetapi juga mempercepat kerusakan gigi dan jaringan pendukungnya.

Ironisnya, fenomena ini terjadi di negeri yang kaya akan sumber pangan alami. Indonesia memiliki keragaman hayati yang luar biasa, dengan ratusan jenis sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan. Potensi ini seharusnya menjadi modal utama untuk membangun pola konsumsi gizi seimbang dan kesehatan gigi yang lebih baik. Namun tanpa literasi kesehatan yang memadai, kekayaan tersebut tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan berbagai regulasi dan pedoman kesehatan, termasuk promotif dan preventif di bidang gigi dan mulut. Namun regulasi tidak akan efektif tanpa pemahaman yang utuh di tingkat masyarakat. Edukasi kesehatan yang diberikan pun kerap bersifat parsial, sehingga justru membingungkan. Produk yang diizinkan beredar bukan berarti aman dikonsumsi berlebihan. Di sinilah pentingnya literasi: kemampuan memahami batas, konteks, dan dampak jangka panjang.

Miskinnya literasi kesehatan—termasuk kesehatan gigi dan mulut—bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah kolektif bangsa. Jika dibiarkan, ia akan terus melahirkan generasi yang rentan penyakit dan mudah dimanipulasi informasi. Karena itu, investasi pada literasi kesehatan harus menjadi agenda bersama. Dengan masyarakat yang paham, kritis, dan sadar kesehatan sejak dini, cita-cita membangun generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing bukanlah sekadar wacana, melainkan keniscayaan.

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper