Oleh: Zubi Mahrofi
Sejak 28 Januari, layar perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih sering memerah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam tren koreksi, menandai fase konsolidasi setelah delapan hari sebelumnya mencetak rekor di atas 9.100 poin.
Tekanan yang cukup dalam bahkan memaksa BEI mengaktifkan protokol krisis dengan melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit di tengah sesi.
Bagi sebagian pelaku pasar, momen itu memicu kekhawatiran. Namun bagi investor lainnya, volatilitas adalah bagian dari siklus yang tak terpisahkan dari pasar modal.
Pergerakan IHSG kali ini tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam pusaran sentimen global, mulai dari arah kebijakan suku bunga global, hingga faktor teknikal yang lazim muncul di awal tahun.
Salah satu sorotan utama datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang menjadi rujukan banyak manajer investasi internasional. Pada 27 Januari, MSCI mengumumkan sikap kehati-hatian terhadap pasar saham Indonesia.
Dalam tinjauan Februari, MSCI tidak menambahkan saham Indonesia baru ke dalam indeksnya, juga tidak melakukan kenaikan kelas antarsegmen indeks. Alasannya karena transparansi data free float (saham beredar yang diperdagangkan), konsistensi struktur kepemilikan, serta risiko ketidakstabilan bagi investor institusional global.
Bagi pasar, keputusan ini bukan sekadar teknis. MSCI menggunakan data free float untuk menghitung Foreign Inclusion Factor (FIF), yang menentukan bobot suatu saham dalam indeks global. Semakin besar free float yang diakui, semakin besar pula potensi aliran dana asing.
Tak heran jika setiap evaluasi MSCI kerap diikuti penyeimbangan portofolio oleh investor global. Proses ini mekanis, tetapi dampaknya nyata.
Pada periode 26-30 Januari, investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp13,93 triliun. Arus keluar dana ini memberi tekanan tambahan bagi IHSG.
Namun menariknya, di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan justru meningkat. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 29,28 persen menjadi Rp43,76 triliun dari Rp33,85 triliun pada pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi naik 1,59 persen menjadi 3,82 juta kali per hari.
Di sisi lain, basis investor domestik terus bertumbuh. Hingga akhir Januari 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 21.037.426 single investor identification (SID), bertambah 673.218 SID dibanding akhir 2025. Angka ini menjadi bantalan penting di tengah fluktuasi dana asing yang cenderung keluar pasar.
Penting dicatat, efek MSCI umumnya bersifat jangka pendek. Setelah fase penyesuaian selesai, harga saham akan cenderung kembali bergerak mengikuti fundamentalnya. Tekanan akibat penyeimbangan investor asing justru menjadi momen akumulasi bagi investor yang percaya pada prospek jangka panjang.
Respons pemerintah
Gejolak IHSG mendapat perhatian langsung pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Agenda reformasi mencakup demutualisasi bursa, peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen agar selaras standar global, serta pengetatan transparansi beneficial ownership dan kejelasan afiliasi pemegang saham.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, dan membangun kepercayaan investor internasional.
Pemerintah juga menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik manipulatif yang merusak kredibilitas pasar modal dan berpotensi menghambat arus Penanaman Modal Asing (PMA).
MSCI memberikan waktu hingga Mei untuk melihat perkembangan dan perbaikan regulasi di pasar modal Indonesia.
Koreksi dan kebangkitan
Jika menengok ke belakang, fase koreksi bukan hal baru bagi IHSG. Sejarah menunjukkan, setiap tekanan besar pada akhirnya diikuti pemulihan.
Pada 18 Maret 2025, IHSG sempat anjlok 5,02 persen ke level 6.146,91. Belum genap sebulan, pada 8 April pagi, indeks kembali terperosok 9,16 persen ke level 5.914,28, yang juga memicu trading halt.
Namun pemulihan terjadi relatif cepat. IHSG menguat kembali dan menembus level 8.000 untuk pertama kalinya pada Agustus 2025. Pada akhir 2025, indeks ditutup di 8.646,93, yang kemudian menembus rekor baru ke atas 9.134,80 poin pada 20 Januari 2026.
Siklus inilah yang kerap menjadi pengingat bahwa pasar saham bergerak dalam fluktuasi. Di tengah tekanan tersebut, investor harus melihat bahwa indikator fundamental ekonomi domestik relatif stabil.
Fondasi domestik kokoh
Di tengah volatilitas, indikator fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan.
Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,04 persen pada kuartal III-2025. Inflasi berada dalam rentang asumsi APBN. Cadangan devisa per Desember 2025 mencapai 156,5 miliar dolar AS, setara 6,2 bulan impor.
Defisit fiskal tetap terjaga di bawah 3 persen. Pertumbuhan kredit mencapai 9,6 persen, sementara dana pihak ketiga tumbuh dua digit, 13,83 persen. Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) perbankan berada di level kuat 25,87 persen. Rasio utang terhadap PDB pun masih di bawah batas aman 60 persen.
Data-data positif dari dalam negeri ini menjadi jangkar di tengah arus sentimen global yang bervariasi.
Bagi investor jangka panjang, koreksi bukan sekadar grafik menurun. Ia adalah fase penyesuaian harga, ruang untuk menakar ulang valuasi, dan kesempatan masuk di harga yang lebih rasional.
Volatilitas akibat MSCI dan arus dana global merupakan konsekuensi integrasi Indonesia dalam sistem keuangan dunia. Namun selama fondasi ekonomi domestik tetap solid dan reformasi pasar modal berjalan, potensi pertumbuhan jangka panjang tetap terbuka.
Didukung edukasi pasar modal yang semakin luas serta kemudahan akses informasi membuat investor lebih memahami bahwa fluktuasi adalah bagian tak terpisahkan dari investasi saham.
IHSG mungkin sedang dalam tren terkoreksi di awal tahun 2026 ini. Tetapi seperti ombak di lautan, pasar saham selalu bergerak naik dan turun. Bagi mereka yang memahami ritmenya, setiap gelombang bukan ancaman, melainkan peluang untuk melaju lebih jauh. (ant)

