
SURABAYA – Harga emas yang trennya menanjak beberapa waktu belakangan memicu lonjakan minat investasi logam mulia oleh warga di Surabaya. Banyak dari masyarakat yang kemudian berbondong-bondong untuk bisa berburu emas batangan.
Fenomena tersebut tampak di sejumlah gerai emas, salah satunya di distro emas Galeri24 Dinoyotangsi, Surabaya. Sejak sebelum matahari menyingsing, sejumlah orang bahkan dilaporkan rela untuk menunggu di halaman gerai emas tersebut untuk bisa memperoleh emas batangan.
Salah satu warga Pandegiling, Surabaya, Lia (29), mengaku mulai tertarik untuk berkecimpung dalam investasi emas seiring dengan harga gramasinya yang terus melonjak.
Meski begitu, dirinya masih membeli logam mulia dengan denominasi kecil. “Harga emas ini naik terus dari hari ke hari ya. Jadi saya tertarik investasi emas, mulai dari kecil-kecil dulu aja, 1,2, atau 5 gram, anggap kayak nabung juga,” beber Lia, Rabu.
Sementara itu, Manajer Distro Galeri24 Dinoyotangsi Surabaya Dwi Ariyanto menjelaskan bahwa grafik pembelian emas saat ini cukup melonjak. Fenomena tersebut menurutnya sudah berlangsung sejak tahun-tahun sebelumnya. “Trennya sama kayak tahun lalu tetap naik karena memang permintaannya banyak, tetapi dari segi stok [emas fisik] terbatas,” ucap Dwi.
Menurutnya, harga emas yang semakin memuncak hingga Januari 2026 turut mendorong masyarakat untuk membeli emas di berbagai tempat, baik di gerai emas maupun instansi resmi penjual emas batangan. “Otomatis nasabah berbondong-bondong untuk cari beraneka alternatif investasi dari berbagai toko maupun instansi pemerintah resmi yang menjual emas batangan,” jelasnya.
Dwi menyebut, stok yang tersedia beberapa waktu terakhir di Galeri24 masih didominasi oleh emas yang diproduksi secara mandiri. Sementara untuk emas Antam serta UBS saat ini stoknya tengah kosong. “Jadi yang bisa kita upayakan itu stok yang dari pabrik, dari pabrik kita sendiri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dwi mengungkap minat masyarakat yang tinggi juga nampak dari antrean yang sudah terjadi sejak pagi hari. Ia menyebut, emas dengan gramasi kecil hingga menengah masih menjadi primadona. “Ukuran denom favorit sebenarnya masih 1, 2, 5, dan 10 gram, itu yang cepat banget habisnya,” terangnya.
Menurut Dwi, bila stok emas yang dipunyai sedang dalam kondisi normal dan melimpah, otomatis jumlah antrean bisa jauh lebih panjang. “Kalau stok normal melimpah itu antrean bisa sampai 100 lebih, tapi karena memang stoknya terbatas sesuai dengan ketersediaan gramasi emasnya, itu paling banyak kisaran 20 sampai 50 antrean itu sudah habis,” ungkapnya.
Dirinya menjelaskan, latar belakang emas batangan masih menjadi barang rebutan untuk dibeli oleh nasabah karena fluktuasinya yang relatif stabil, mudah untuk disimpan, dan risikonya lebih kecil bila dibanding produk emas lainnya.
“Karena memang dari segi fluktuasinya dia lebih stabil terus simpannya juga lebih gampang, risikonya juga lebih kecil untuk emas batangan,” bebernya.
Namun, dengan keterbatasan emas fisik yang kian menipis membuat sebagian warga juga beralih ke jenis alternatif investasi emas yang lain, seperti emas perhiasan. bisn/mb06

