Mata Banua Online
Kamis, Januari 29, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Nisfu Sya’ban: Momentum Membersihkan Hati dan Menata Relasi

by Mata Banua
28 Januari 2026
in Opini
0
Nanang Qosim, S.Pd.I., M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam selalu dipertemukan dengan momentum spiritual yang sarat makna, salah satunya adalah malam Nisfu Sya’ban. Malam pertengahan bulan Sya’ban ini sejak lama menempati posisi khusus dalam tradisi keislaman, baik dalam khazanah keilmuan maupun praktik keberagamaan umat. Sejumlah ulama klasik dan kontemporer mencatat adanya keutamaan tertentu pada malam tersebut, meski dengan penekanan yang beragam.

Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, DR Ahmad Asy-Syarbashi, dalam karyanya Yas’alunaka fi ad-Din wa al-Hayat, menyebut bahwa Nisfu Sya’ban memiliki nilai spiritual tersendiri. Pandangan ini berangkat dari sejumlah riwayat hadis yang menyebutkan bahwa pada malam tersebut Allah Swt melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada makhluk-Nya, dengan pengecualian tertentu. Pesan utama dari berbagai riwayat itu sejatinya bukan terletak pada seremoni, melainkan pada dorongan untuk membersihkan diri—baik secara spiritual maupun sosial.

Berita Lainnya

Ketika Bantuan Menggeser Keadilan

Ketika Bantuan Menggeser Keadilan

28 Januari 2026
Wajah Baru Diklat Petugas Haji, Menempa Pelayan Tamu-tamu Allah

Wajah Baru Diklat Petugas Haji, Menempa Pelayan Tamu-tamu Allah

27 Januari 2026

Keutamaan Khusus

Rasulullah Saw menegaskan adanya keutamaan khusus pada pertengahan bulan Sya’ban melalui sabdanya: “Innallaha layaththali’u lailatan-nisfi min sya’bana, fayagfiru lijami’i-khalqihi illa limusyrikin au musyahinin.” Artinya: “Sesungguhnya Allah Swt muncul pada malam nisfu Sya’ban, Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik (mensekutukan Allah Swt) dan mereka yang berseteru” (HR Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, jilid II, hal.399).

Hadis ini memberi pesan teologis yang kuat sekaligus sosial yang mendalam. Allah Swt memberikan ampunan kepada seluruh hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, kecuali mereka yang masih terjerat kemusyrikan dan mereka yang memelihara permusuhan. Pesan ini sangat relevan untuk dibaca ulang dalam konteks masyarakat modern yang ditandai oleh polarisasi, konflik kepentingan, bahkan memburuknya relasi sosial, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Nisfu Sya’ban, tidak semata mengarahkan tentang hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan semata, tetapi juga menegaskan pentingnya rekonsiliasi dan keharmonisan horizontal antarsesama. Pengampunan ilahi disyaratkan dengan kebersihan hati manusia dari kebencian, dendam, dan permusuhan. Dalam konteks kekinian, pesan ini terasa sangat aktual ketika media sosial kerap menjadi arena saling hujat, fitnah, dan pembunuhan karakter.

Pertanyaan mendasarnya kemudian adalah: bagaimana seharusnya umat Islam memaknai dan menghidupkan Nisfu Sya’ban? Beberapa riwayat menyebutkan anjuran untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah dan berpuasa pada siang harinya. Namun, para ulama menegaskan bahwa anjuran ini harus dipahami dalam kerangka ibadah yang proporsional, bukan berlebihan, apalagi disandarkan pada praktik-praktik yang tidak memiliki landasan kuat.

Jangan Lewatkan Amal

Dalam konteks pembinaan spiritual, Rasulullah Saw menuntun umatnya agar tidak melewatkan malam Nisfu Sya’ban tanpa amalan, sebagaimana sabdanya: “Idza kana lailatun nisfi min sya’bana faqumu lailaha washumu naharaha.” Artinya: “Apabila malam nisfu Sya’ban (tiba) dirikanlah salat malamnya dan puasalah di siang harinya” (HR Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, jilid II, hal.400).

Asy-Syarbashi, menekankan bahwa menghidupkan Nisfu Sya’ban dapat dilakukan dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, zikir, istigfar, salat malam, serta menjaga konsistensi ibadah wajib dan sunah sesuai kemampuan. Asy-Syarbashi juga menyebut didalam sebuah karyanya bahwa Rasulullah Saw meningkatkan ibadah di bulan Sya’ban, antara lain memperbanyak puasa melebihi bulan-bulan lainnya selain Ramadhan, karena di bulan Sya’ban diangkat amal ke langit, sehingga Rasulullah Saw bersabda: “Aku ingin diangkat amalku ke langit dalam keadaan berpuasa” (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).

Perlu ditekankan bahwa yang terpenting bukan kuantitas ibadah semata meski juga penting, tapi melainkan kualitas kesadaran spiritual yang dibangun. Ibadah yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban seharusnya menjadi titik awal pembenahan diri menjelang Ramadhan, bukan sekadar ritual tahunan yang terputus dari keseharian.

Kritik baik Asy-Syarbashi terhadap sebagian orang yang hanya rajin beribadah di malam Nisfu Sya’ban, tetapi lalai sepanjang tahun, patut menjadi refleksi bersama. Sebab ada juga kecenderungan dalam sebagian manusia yang menggantungkan pengampunan dosa pada momentum-momentum tertentu, seolah-olah spiritualitas dapat “dibayar lunas” dalam satu malam. Pandangan seperti ini justru berpotensi melahirkan ilusi kesalehan dan menjauhkan agama dari fungsi etisnya.

Rasulullah Saw sendiri memberikan teladan dengan meningkatkan intensitas ibadah sepanjang bulan Sya’ban, terutama dengan memperbanyak puasa. Beliau menjelaskan bahwa bulan Sya’ban adalah waktu diangkatnya amal-amal manusia ke hadirat Allah Swt, dan beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Pesan ini menegaskan bahwa spiritualitas bukanlah aktivitas instan, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi.

Riwayat Aisyah Ra. yang menyaksikan Rasulullah Saw memperpanjang sujud pada malam Nisfu Sya’ban juga menunjukkan kedalaman spiritual Nabi. Doa yang beliau panjatkan dalam sujud mencerminkan kepasrahan total, pengakuan akan keterbatasan manusia, dan ketergantungan mutlak kepada rahmat Allah Swt. Spirit inilah yang seharusnya menjadi jiwa dari peringatan Nisfu Sya’ban: kerendahan hati, introspeksi, dan kesediaan untuk berubah.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra. tersebut disaat Rasulullah Saw memperpanjang sujudnya, Aisyah Ra sempat mengira Rasulullah Saw telah wafat. Dalam sujud itulah terdengar munajat yang begitu menyentuh.

Doa malam nisfu Sya’ban tersebut termaktub dalam kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Al-Maliki bin ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul-‘Aziz Al-Maliki. Berbunyi: “A’uudzu bi ‘afwika min ‘iqabika, wa a’uudzu bi ridhaka min sakhatika, wa a’uudzu bika minka, jalla wa jahuka, laa ahshii tsana’an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik, sajada laka khayaalii wa suwaadii, wa aamana bika fuaadii, fahadzihi yadzii wa maa janaitu bihaa ‘alaa nafsii, yaa ‘azhiim yurjaa li kulli ‘azhiim, yaa ‘azhiim ghfir adz-dzanba al-‘azhiim, sajada wajhii lilladzii khalaqahu, wa syaqq sam’ahu wa basharah. A’uudzu bi ridhaka min sakhatika, wa a’uudzu bi ‘afwika min ‘iqabika, wa a’uudzu bika minka anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik, aquulu kamaa qaala akhii Daawud: u’affiru wajhii fi at-turaabi li sayyidii, wa haqqu lahhu an yusjadda.”

Artinya: “Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari diri-Mu, Maha Suci wajah-Mu, aku tidak sanggup menghitung pujian untuk-Mu, Engkau sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu, sujudlah angan-anganku dan bayanganku, dan berimanlah hatiku kepada-Mu, maka ini tanganku dan apa yang telah aku perbuat dengannya atas diriku, wahai Yang Maha Agung yang diharapkan oleh setiap orang yang agung, wahai Yang Maha Agung ampunilah dosa yang besar, sujudlah wajahku kepada yang telah menciptakannya, dan yang telah membuka pendengaran dan penglihatannya. Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari diri-Mu, Engkau sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu, aku berkata sebagaimana yang dikatakan saudaraku Daud: Aku merendahkan wajahku di tanah untuk Tuhanku, dan berhaklah Dia untuk disujud. Ya Allah, berikanlah aku hati yang suci dari syirik, bersih, tidak celaka dan tidak sengsara.”

Perkuat Dimensi Sosial

Selain dimensi ibadah personal, Sya’ban juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Riwayat dari Anas Ra menyebutkan bahwa para sahabat meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an dan memperbanyak sedekah sebagai persiapan menyambut Ramadhan. Praktik ini menunjukkan bahwa kesiapan spiritual tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sosial, terutama dalam memastikan kelompok rentan dapat menjalani Ramadhan dengan layak.

Dalam konteks Indonesia hari ini, di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kesenjangan sosial, pesan ini menjadi sangat relevan. Nisfu Sya’ban dapat dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial, membersihkan niat, serta menata ulang relasi antarmanusia agar Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah individual, tetapi juga bulan kepedulian kolektif.

Di sisi lain, Asy-Syarbashi juga mengingatkan bahaya praktik-praktik ibadah yang tidak memiliki dasar kuat, seperti salat-salat tertentu yang diyakini khusus untuk Nisfu Sya’ban tanpa landasan sahih. Peringatan ini penting agar semangat beribadah tidak terjebak pada ritualisme berlebihan yang justru mengaburkan substansi agama.

Nisfu Sya’ban bukanlah tujuan, melainkan jembatan perantara spiritual menuju Ramadhan. Ia mengajak umat Islam untuk melakukan audit batin: membersihkan akidah dari syirik, membersihkan hati dari permusuhan, dan membersihkan amal dari kepura-puraan. Di tengah dunia yang kian bising oleh konflik dan egoisme, Nisfu Sya’ban menghadirkan pesan sunyi namun mendalam: bahwa pengampunan Tuhan berkelindan erat dengan kemampuan manusia memaafkan dan berdamai dengan sesamanya.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper