
(foto:mb/ist)BANJARMASIN – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) H. Suripno Sumas berpendapat, perlu investigasi atas kematian massal ikan yang merugikan miliaran rupiah pembudidaya di Kabupaten Barito Kuala (Batola) belakangan ini.
“Saya kira perlu investigasi yang lebih mendalam dan seksama atas kematian massal ikan merugikan miliaran rupiah pembudidaya di Batola,” ujar Suripno yang juga Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kalsel ketika dikonfirmasi, Selasa (27/1) siang.
Wakil Ketua Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalsel yang juga membidangi pertanian secara umum/lebih luas (termasuk sub sektor perikanan) kaget melihat pemberitaan di berbagai media atas kematian massal ikan budidaya di Batola atau wilayah barat provinsinya.
Anggota DPRD Kalsel tiga periode itu menyatakan turut prihatin atas kematian ikan secara massal di “Bumi Selidah” atau daerah pertanian pasang surut Batola tersebut, seraya berharap adanya investigasi lebih rinci guna pencegahan atau penanggulangan agar hal serupa tak akan terulang.

Pasalnya, ujar wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel I/Kota Banjarmasin itu, kematian ikan secara massal yang terekspos cuma Batola dengan alasan karena banjir serta akibat pencemaran yang cukup tinggi terhadap Sungai Barito.
“Sedangkan Sungai Barito yang daerah hulunya pedalaman Kalimantan Tengah (Kalteng) melintasi beberapa kabupaten (termasuk Kota Banjarmasin). Kalau karena banjir dan cemaran air sungai, kematian ikan secara massal bukan cuma di Batola,” ujar Suripno.
Alumnus Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu memperkirakan, kematian ikan secara massal di Batola tersebut ada faktor spesifikasi lain, bukan semata karena banjir dan tercemarnya air Sungai Barito. “Karenanya perlu investigasi khusus sehingga pembudidaya merasa aman dalam melakukan usaha mereka,” tutup Suripno.
Sebagaimana keterangan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Batola, kematian massal ikan di kabupatennya karena Sungai Barito tercemar, sehingga pembudidaya alami kerugian mencapai Rp2,7 miliar.
Sebagai catatan, Batola yang menggunakan motto daerah Selidah (kebersamaan) dan merupakan daerah pertanian pasang surut, selain merupakan lumbung padi Kalsel, juga berpotensi produk perikanan laut dan air tawar. ant

