
Animal Farm, novel karya George Orwell yang telah lama terbit ini masih cukup dicari pecinta buku buku hingga hari ini, dengan menyajikan premis cerita sederhana tentang kehidupan di sebuah peternakan biasa yang dikelola oleh para hewan itu sendiri. Buku ini awalnya saya anggap novel biasa pada umumnya dengan tokoh – tokoh karakter para hewan yang tidak seperti novel – novel pada umumnya. Namun semakin jauh saya membaca semakin besar pula kegelisahan yang muncul dalam mencerna cerita yang disajikan. Salah satu kegelisahan saya Adalah bagaimana informasi – informasi disampaikan dari Binatang lain ke Binatang – Binatang lainnya yang menjadi Masyarakat di peternakan tersebut. Masalah ini muncul diakibatkan literasi para Binatang yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang ditulis dan apa yang disampaikan dalam informasi – informasi yang disebar tersebut, dikarenakan hanya beberapa Binatang yang bisa membaca dan mengerti tentang apa yang ditulis oleh pihak penting peternakan. Yang dimana pola ini cukup relate dan kita rasakan dalam kehidupan sehari – hari sebagai masyarakat.
Bagaimana fenomena ini dapat terjadi ?
Dalam cerita Animal Farm, kemampuan dalam memahami informasi yang disampaikan terasa cukup timpang, beberapa pihak dapat membaca, menafsirkan, dan bahkan menjelaskan informasi yang disampaikan tersebut yang Dimana pihak tersebut cukup cepat memahami karena kemampuan mereka tersebut, berbanding terbalik dengan pihak yang tidak bisa membaca hingga membuat mereka kesusahan dalam memahami informasi – informasi yang disampaikan dan membuat mereka yang buta huruf ini hanya menerima informasi secara lisan dari pihak – pihak yang bisa membaca, hingga akhirnya para Binatang yang buta huruf tersebut menganggap semua informasi yang datang ke telinga mereka Adalah sebuah kebenaran tanpa memilah atau mengkaji dulu apa isi informasi tersebut yang berupa peraturan atau kebijakan dan apakah menguntungkan atau merugikan bagi mereka sendiri dan peternakan.
Dampaknya binatang yang tidak bisa membaca tidak memiliki pemikiran yang luas dan hanya akan patuh dan bergerak mengikuti perintah dari pihak yang membuat peraturan tersebut, tanpa mereka tau apakah informasi ini baik untuk mereka semua atau hanya menguntungkan beberapa pihak akibat dari penafsiran sepihak tersebut dan semakin berjalannya waktu akan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dalam cerita maupun dunia nyata hal ini cukup terlihat jelas dimana ketimpangan pengetahuan dapat menimbulkan kepatuhan relasi sosial tanpa paksaan secara langsung.
Mengapa Ketimpangan akses informasi seperti di Animal Farm juga sering kita temui di dunia nyata?
Karena tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tidak merata dari satu daerah ke daerah lain, dengan golongan lain ke golongan yang dianggap rendah. Membuat masyarakat yang tidak memiliki pemahaman dalam literasi seiring waktu menganggap semua informasi yang mereka dapatkan bersifat benar dan berdampak baik bagi mereka sebagai masyarakat. Fenomena ini pun berjalan dengan pelan sehingga menjadi kebiasaan dan dianggap normal bagi masyarakat dan jarang ada yang mempertanyakan karena dianggap bukan masalah besar.
Salah satu peran pendukung terjadinya fenomena ini adalah peran dari bahasa yang tidak inklusif, dimana tidak semua masyarakat memiliki latar belakang pendidikan yang sama sehingga ketimpangan literasi pun muncul. Informasi – informasi yang diberikan disampaikan dengan bahasa tertentu yang membuat golonganyang memiliki tingkat literasi rendah tidak terlalu bisa mengkaji dan hanya bisa menelan mentah – mentah informasi yang diberikan. Hal ini pun membuat bahasa menjadi sebuah pembatas yang muncul tanpa disadari dikalangan masyarakat.
Faktor lainnya dimana mengingat tingkat pendidikan masyarakat yang tidak merata membuat sebagian masyarakat memilih percaya karena lebih mudah dan lebih mementingkan mengelola ekonomi keluarga apa adanya dan merasa memiliki keterbatasan dalam ruang dan waktu untuk berpikir kritis dalam mempertanyakan kenapa dan mengapanya. Karena ketidaktahuan tersebutlah kepatuhan yang tidak selalu karena setuju pun muncul dan sering kali terjadi karena tidak memiliki alternatif alasan dalam meneyetujui sebuah informasi yang diberi.
Realitas Sosial dari Fenomena ini di Indonesia
Didalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, persoalan terhadap akses informasi kerap diberikan dalam bentuk sederhana namun cukup berdampak luas seperti contohnya di sebar dalam media sosial. Namun informasi yang diberikan tersebut disampaikan dengan istilah – istilah yang cukup rumit, mengingat tidak semua masyarakat memiliki latar pendidikan yang sama sehingga pemahaman masyarakat pun juga berbeda – beda. Serta satu hal lagi yang cukup memiliki dampak yang besar yaitu akses digital yang masih tidak merata sehingga tidak semua orang memiliki akses informasi yang mudah didapat.
Di berbagai daerah – daerah di Indonesia tidak terkecuali daerah kita, persoalan tentang akses informasi ini sering kali terjadi dan diperkuat oleh keterbatasan pengaksesan informasi tersebut serta minimnya ruang penjelasan bagi masyarakat yang memiliki latar pendidikan rendah sehingga sulit dalam memahami informasi. Hingga akhirnya dalam situasi seperti ini, sikap pasrah dan bukan dipilih karena setuju akan isi didalam informasi tersebut, melainkan karena tidak memiliki akses yang memadai sehingga menimbulkan ketidak tersedianya pilihan dalam memahami lebih jauh.
Tanggung Jawab Literasi Sosial
Fenomena yang timbul ini pun menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat untuk saling membantu bahu membahu dalam menyebarkan pemahaman literasi kepada masyarakat lain yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Informasi – informasi yang dapat diakses dengan mudah, serta mudah dalam dipahami membuat masyarakat dapat berpikir dan menilai apakah informasi ini berdampak baik atau buruk bagi kehidupan, karena sebuah informasi akan kehilangan maknanya jika tidak dipahami oleh mereka yang membutuhkannya.
Peran bahasa pun cukup penting disini, dimana menjadi sebuah jembatan agar informasi dapat dipahami dengan mudah, walaupun bahasa dapat memepersatukan namun juga dapat menjatuhkan tergantung bagaimana masyarakat mengkaji dengan benar – benar informasi yang diberi. Dalam konteks tersebut, buku Animal Farm dapat dipahami sebagai pengingat dimana cukup penting akses pengetahuan yang setara bagi masyarakat – masyarakat dalam beradaptasi di lingkungan mereka.
Harapan penulis untuk kedepannya
Dalam mengurangi munculnya ketimpangan akses yang terjadi, kita sebagai masyarakat membutuhkan proses pembiasaan yang panjang, dimulai dari saling berbaginya pengetahuan serta mengkaji bersama dalam interaksi sehari – hari sehingga menjadi sebuah kebiasaan serta menumbuhkan minat. Mengajak masyarakat dalam membentuk forum diskusi yang menjadi ruang dalam berbagi pengetahuan dengan diskusi yang tidak hierarkis dan saling menjelaskan dari satu ilmu ke ilmu lain sehingga menciptakan kesadaran dalam mengkaji sebuah informasi.Dengan semua saling membantu maka setiap orang dalam kapasitasnya masing – masing dapat memiliki peran untuk memperkecil fenomena ini terjadi dan meningkatkan kualitas masyarakat.
Pada akhirnya, buku novel Animal Farm menjadi cerminan dalam bagaimana informasi – informasi bekerja di kehidupan sehari – hari, ketimpangan tingkat pengetahuan yang digambarkan dalam buku terasa cukup nyata seperti yang kita hadapi dalam kehidupan sehari – hari. Selama informasi disampaikan secara tidak setara maka jarak sosial akan selalu ada, persoalan utamanya bukan tentang siapa yang dapat berbicara lantang dibanding yang lain namun siapa yang benara – benar dapat memahami.

