Mata Banua Online
Selasa, Januari 27, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Wajah Baru Diklat Petugas Haji, Menempa Pelayan Tamu-tamu Allah

by Mata Banua
27 Januari 2026
in Opini
0
Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah berfoto bersama dengan lebih dari 1.600 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M.(foto;mb/ant)

Oleh : Citro Atmoko

Udara dingin yang menusuk tulang pada pukul empat pagi itu tak menyurutkan langkah Ali. Bunyi alas kaki karetnya beradu dengan aspal menciptakan irama terburu-buru di tengah sunyi.

Berita Lainnya

Animal Farm dan Ketimpangan Akses Informasi

Animal Farm dan Ketimpangan Akses Informasi

27 Januari 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Menakar Green Party di Tengah Krisis Ekologi

26 Januari 2026

Ia terus mempercepat langkahnya, sambil melirik jam tangan. Masjid di kompleks Asrama Haji Pondok Gede itu letaknya cukup jauh dari gedung penginapannya yang berada di paling pojok.

Ali mengatur napas. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang, bukan hanya karena aktivitas fisik, tapi juga karena rasa antusias, sekaligus beban tanggung jawab.

“Sedikit lagi,” katanya bergumam, saat melihat kubah masjid mulai tampak di balik pepohonan.

Langkah Ali berubah menjadi jalan cepat, hampir menyerupai lari kecil. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara muadzin yang sedang melantunkan pujian, sebelum azan subuh berkumandang.

Sudah hampir dua pekan Ali Morteza (25) menjalani pendidikan dan pelatihan (diklat) calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M yang diikuti lebih dari 1.600 peserta.

Ali menjadi yang paling muda di antara para calon petugas haji lainnya yang rata-rata sudah senior. Rutinitas pagi itu ia jalani sebagai pembuka hari mengawali rangkaian aktivitas yang panjang.

Usai shalat subuh di masjid, para peserta diklat harus segera kembali ke gedung asrama masing-masing untuk mengikuti senam dan apel pagi yang dipimpin oleh komandan kompi dari personel TNI dan Polri

Pada pekan pertama diklat, peserta “melahap” latihan baris-berbaris sejak pagi hingga sore hari. Malam harinya dilanjutkan dengan berbagai materi terkait haji dan pelajaran bahasa Arab, hingga pukul 22.00 WIB yang kemudian ditutup dengan apel malam. Seperti itu setiap harinya.

Selanjutnya pada pekan kedua, peserta diklat mulai dibagi ke kelas-kelas lebih kecil, sesuai dengan tugas dan fungsinya, antara lain bimbingan ibadah, akomodasi, transportasi, konsumsi, kesehatan, perlindungan jamaah, lansia dan disabilitas, dan Media Center Haji (MCH). Bahasa Arab tetap menjadi “menu penutup” setiap malamnya.

Pembeda

Diklat calon petugas haji kali ini memang berbeda. Selain pola pelatihan yang berbasis semi militer, dengan penerapan kedisiplinan yang tinggi, peserta juga diberikan materi bahasa Arab.

Penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu fokus utama dalam diklat kali ini. Kementerian Haji dan Umrah menekankan bahwa komunikasi adalah kunci pelayanan.

Petugas tidak boleh hanya mengandalkan bahasa isyarat atau menunggu penerjemah, saat menghadapi situasi darurat di lapangan.

Di kelas-kelas intensif, peserta tidak diajarkan tata bahasa Arab yang rumit, selayaknya santri pesantren, melainkan bahasa Arab tematik.

Instruktur bahasa Arab memandu peserta untuk menguasai kosakata survival. Baik di ruang kelas besar atau kecil, suasana pun riuh rendah dengan praktik percakapan.

Mereka menyimulasikan skenario spesifik, misalnya bagaimana menanyakan arah jalan pulang ke hotel di sektor tertentu, bagaimana berkomunikasi dengan askar atau petugas keamanan Arab Saudi, saat ada jamaah yang tersasar di pintu masuk Masjidil Haram, hingga istilah medis darurat, saat membawa jamaah ke rumah sakit Arab Saudi.

Peserta diajarkan intonasi yang tepat agar pesan tersampaikan dengan santun, namun tegas, menjembatani kesenjangan budaya antara jamaah Indonesia dan otoritas setempat.

Berbeda dengan bahasa Arab formal atau fusha yang ada di buku teks, peserta juga diperkenalkan dengan dialek lokal Saudi atau ammiyah. Hal tersebut bertujuan agar komunikasi dengan pengemudi bus, petugas maktab, atau pedagang lokal menjadi lebih cair dan tidak kaku.

“Ammiyah itu bahasa keseharian yang biasa kita ucapkan. Maka, selain kita mempelajari fusha, kalau kita berada di Tanah Suci, berinteraksi dengan orang Arab di sana, kita perlu untuk memahami bahasa Ammiyah, supaya bisa lebih mengakrabkan diri dengan mereka. Itu penting sekali,” kata Imam Wahyudi, salah satu instruktur, yang merupakan alumni S2 Khartoum International Institute for Arabic Language (KIIFAL) Sudan.

Selain bahasa Arab, peserta diklat juga melakukan simulasi bantuan hidup dasar (BHD). Bukan hanya petugas haji dari layanan kesehatan, petugas dari layanan lain pun wajib menguasai BHD.

Peserta diajari cara melakukan kompresi dada pada manekin. Kompresi dilakukan dengan menekan dada bagian tengah secara kuat dan cepat, sekitar 100-120 kali per menit, dengan kedalaman 5-6 cm, dan siku lurus.

Sementara itu, dari sisi transportasi, peserta diberikan materi terkait manajemen bus Shalawat, salah satunya bagaimana mengatur pergerakan jamaah, saat bubaran shalat dari Masjidil Haram yang seringkali kacau.

Fokus utamanya adalah teknik sweeping alias memastikan tidak ada jamaah tertinggal di bus dan cara menenangkan jamaah lansia yang panik karena terpisah dari rombongan, saat naik bus.

Untuk layanan akomodasi, peserta berlatih manajemen krisis hotel. Skenario yang diberikan meliputi kunci kamar yang rusak, air mati, lift macet, hingga pembagian kamar jamaah.

Peserta diajarkan cara menghadapi komplain jamaah yang kelelahan dengan prinsip 3S, yaitu “senyum, salam, dan sapa”, meskipun petugas sendiri dalam keadaan kurang tidur.

Sementara untuk layanan konsumsi, tidak sekadar mencicipi makanan, peserta dilatih mendeteksi kelayakan makanan katering. Mereka belajar mengecek tanggal kedaluwarsa, suhu penyajian, hingga rasa masakan yang harus sesuai dengan lidah nusantara. Logistik distribusi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang seringkali terkendala macet juga dipelajari.

Kemudian, peserta diajarkan teknik cara menggendong atau memapah jamaah lansia tanpa mencederai punggung petugas maupun jamaah itu sendiri.

Peserta juga dibekali kemampuan psikologis untuk menghadapi jamaah demensia yang seringkali lupa posisi tenda atau bahkan lupa bahwa mereka sedang berhaji.

Seluruh aktivitas di atas, mulai dari belajar bahasa Arab, hingga simulasi menggendong lansia, bukanlah sekadar transfer ilmu teknis.

Diklat petugas haji kali ini adalah proses transformasi. Aktivitas yang padat dirancang untuk meruntuhkan ego pribadi dan membangun satu identitas korps, yakni Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang satu rasa, satu jiwa.

Tatkala diklat berakhir dan nanti benar-benar menginjakkan kaki di Tanah Suci, mereka tidak lagi bekerja sebagai individu, melainkan sebagai “keluarga” yang siap mewakafkan diri demi kenyamanan tamu-tamu Allah. (ant)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper