Mata Banua Online
Sabtu, Januari 24, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Merawat Makna Cinta dalam Kehidupan Keluarga

by Mata Banua
22 Januari 2026
in Opini
0

Oleh: Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)

Cinta sering kali dipahami sebagai sesuatu yang indah sekaligus membingungkan. Ia tumbuh sendiri, kadang dicari, dirindukan, bahkan dipertahankan, meskipun tidak jarang pula melahirkan luka. Dalam satu ungkapan klasik dari Maulana Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husin Al-Khattabi Al-Bakri atau sering dikenal dengan nama Maulana Jalaluddin Rumi (1207–1273 M) bahwa “penyakit yang tidak seorang pun berharap untuk sembuh darinya.” Ungkapan ini bukanlah glorifikasi penderitaan, melainkan penegasan bahwa cinta adalah kondisi batin yang membuat manusia rela bertahan, berkorban, bahkan terluka, tanpa keinginan untuk melepaskan diri sepenuhnya.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\23 Januari 2026\8\Opini Jumat\master opini.jpg

Konflik AS-Iran, Memori Revolusi 47 Tahun Silam

22 Januari 2026
G:\2026\Januari\22 Januari 2026\8\Opini Kamis\Erwin Prastyo.jpg

Menormalisasi Ruang Guru dan Grup WhatsApp sebagai Ruang Berpikir Intelektual

21 Januari 2026

Dalam perspektif para pemikir Muslim klasik, cinta tidak sekadar emosi personal, melainkan fondasi eksistensi. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1292–1350 M) menempatkan cinta sebagai poros penciptaan. Ia menyatakan bahwa karena cinta dan demi cinta, langit dibentangkan dan seluruh makhluk diwujudkan. Alam semesta bergerak mengikuti hukum cinta: planet beredar pada orbitnya, siang dan malam silih berganti, dan kehidupan terus berjalan menuju tujuan akhirnya. Dengan cinta, segala sesuatu menemukan makna dan arah.

Pandangan ini sejalan dengan refleksi para pemikir modern. Christopher Morley (1890–1957), seorang esais dan jurnalis Amerika, yang pernah mengatakan bahwa jika seseorang hanya memiliki lima menit terakhir dalam hidupnya untuk mengucapkan sesuatu, maka kata yang paling mungkin keluar adalah “aku mencintaimu.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam momen paling genting, manusia cenderung kembali pada hal yang paling esensial dalam hidupnya, yaitu relasi cinta yang pernah ia bangun dengan sesama.

Cendekiawan Muslim M. Quraish Shihab menambahkan dimensi lain dalam memahami cinta. Menurutnya, tidak ada rasa takjub yang lebih menggetarkan selain pengalaman mencintai dan dicintai. Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan pengalaman batin yang melibatkan akal, nurani, dan komitmen moral. Karena itu, hingga hari ini tidak pernah ada satu definisi cinta yang disepakati semua orang. Setiap individu menafsirkan cinta berdasarkan pengalaman hidup, latar budaya, serta dinamika relasi yang ia jalani.

Cinta Keluarga

Ekspresi cinta pun hadir dalam beragam bentuk. Ada yang mengekspresikannya melalui kata-kata lembut, ada yang cukup dengan perhatian sederhana, hadiah kecil, atau kehadiran yang konsisten di saat dibutuhkan. Ada cinta yang tumbuh seketika hanya dari satu pandangan, tetapi ada pula cinta yang baru menemukan bentuknya setelah melalui perjalanan panjang penuh penyesuaian. Dalam kehidupan keluarga, cinta sering kali tidak hadir sebagai sesuatu yang instan, melainkan tumbuh seiring waktu dan pengalaman bersama.

Tidak jarang, pasangan suami istri memasuki pernikahan dengan cinta yang belum sepenuhnya matang. Ada yang menikah karena pilihan keluarga, pertimbangan rasional, atau faktor sosial tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, kehadiran anak, perjuangan ekonomi, dan dinamika hidup bersama justru melahirkan ikatan emosional yang lebih dalam. Sebaliknya, ada pula cinta yang begitu membara di awal pernikahan, tetapi perlahan meredup ketika tidak dirawat dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Cinta lahir dari hati, sementara hati—dalam Islam—dikenal sebagai sesuatu yang mudah berbolak-balik. Karena itu, jangan heran jika cinta mengalami pasang surut. Ia bisa menguat, melemah, datang, dan pergi. Dinamika ini menunjukkan bahwa cinta bukanlah kondisi statis, melainkan proses yang menuntut keterlibatan aktif. Hubungan suami istri yang dibangun tanpa upaya merawat cinta akan rapuh ketika dihadapkan pada ujian hidup.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa cinta sejati antar-manusia terwujud ketika sifat-sifat yang diharapkan benar-benar hadir dalam diri orang yang dicintai. Cinta tidak cukup dinyatakan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata: kedewasaan, empati, tanggung jawab, dan keandalan. Betapa membahagiakan bagi seorang istri ketika ia memiliki pasangan yang tidak hanya mengucapkan cinta, tetapi juga mampu memberi rasa aman, perhatian, dan kestabilan hidup. Demikian pula bagi seorang suami, cinta tercermin dalam penghargaan, dukungan, dan kepercayaan yang ia terima dari pasangannya.

Namun realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang beruntung dalam perjalanan cintanya. Masih banyak perempuan dan laki-laki yang tidak sepenuhnya bebas menentukan pasangan hidupnya. Faktor keluarga, budaya, dan tekanan sosial sering kali ikut campur. Dalam situasi seperti ini, cinta bukanlah sesuatu yang otomatis hadir, melainkan perlu ditumbuhkan melalui kesediaan memahami, menerima, dan menghargai pasangan apa adanya.

Merawat Cinta

Merawat cinta jelas bukan perkara mudah. Manusia bisa berubah, situasi hidup bisa bergeser, dan ekspektasi tidak selalu terpenuhi. Ada kalanya seseorang yang dahulu penuh perhatian menjadi lebih dingin, atau sebaliknya, pasangan yang awalnya terasa jauh justru menunjukkan ketulusan yang selama ini tersembunyi. Dinamika ini menegaskan bahwa cinta adalah misteri yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh kehendak manusia.

Prof Quraish Shihab menggambarkan cinta sebagai gabungan dari banyak unsur yang tidak kasat mata. Ia tidak hanya bersemayam dalam perasaan, tetapi juga dalam pilihan-pilihan sadar yang diambil setiap hari. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi—tuntutan ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga dominasi gawai dan media sosial—merawat cinta dalam keluarga menjadi tantangan tersendiri. Banyak keluarga hidup dalam satu rumah, tetapi kehilangan ruang untuk benar-benar hadir satu sama lain.

Justru karena itu, momen-momen kebersamaan yang memungkinkan keluarga kembali saling menyapa dan mendengar menjadi sangat berharga. Kebersamaan memberi ruang untuk menafsir ulang cinta, bukan sebagai romantisme berlebihan, melainkan sebagai komitmen untuk saling menopang, memaafkan, dan bertumbuh bersama. Dalam kebersamaan itulah, cinta diuji sekaligus diperbarui.

Oleh karena itu, cinta dalam keluarga bukanlah konsep abstrak yang selesai didefinisikan. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan kesediaan belajar dari waktu ke waktu. Merawat cinta berarti merawat kemanusiaan kita sendiri. Di tengah dunia yang semakin individualistis dan bising, keluarga yang mampu menjaga makna cinta adalah oase yang menghadirkan keteduhan, bukan hanya bagi anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper