Mata Banua Online
Rabu, Januari 14, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Merawat Gigi Anak: Investasi Kesehatan yang Sering Terlupakan

by Mata Banua
13 Januari 2026
in Opini
0
G:\2026\Januari\14 Januari 2026\8\Opini Rabu\Luci Fitriyanti.jpg
Luci Fitriyanti, S.Tr.Kes,M.Tr.TGM (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang. Praktisi Kesehatan)

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mengalami peningkatan. Gaya hidup sehat semakin sering dibicarakan, mulai dari pola makan seimbang, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental. Namun, di tengah kemajuan tersebut, ada satu aspek kesehatan dasar yang masih kerap luput dari perhatian, yakni kesehatan gigi dan mulut anak. Padahal, kondisi gigi dan mulut sejak usia dini memiliki pengaruh besar terhadap kualitas tumbuh kembang anak dan kesehatan jangka panjangnya.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masalah gigi berlubang pada anak masih sangat tinggi. Banyak anak usia balita hingga sekolah dasar mengalami karies dini yang seharusnya dapat dicegah. Ironisnya, kondisi ini sering dianggap wajar atau sepele oleh orang tua dengan alasan gigi susu akan tanggal dengan sendirinya. Pandangan seperti inilah yang membuat kesehatan gigi anak terus berada di pinggiran diskursus kesehatan, meski dampaknya nyata dan berkelanjutan.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\14 Januari 2026\8\Opini Rabu\1121.jpg

Memaknai Amal Saleh

13 Januari 2026
G:\2026\Januari\14 Januari 2026\8\Opini Rabu\Miko Saputr.jpg

Pandangan Hukum Ketika Seseorang Yang Menguasai Bela Diri, Apakah Dapat Dihukum Lebih Berat Ketika Terjerat Kasus penganiayaan?

13 Januari 2026

Kesehatan gigi dan mulut anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan umum. Gigi yang bermasalah dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan, gangguan makan, sulit tidur, hingga penurunan konsentrasi belajar. Anak yang sering mengeluh sakit gigi cenderung rewel, kurang percaya diri, dan tidak optimal dalam beraktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Perhatian terhadap kesehatan gigi anak seharusnya dimulai sejak fase paling awal kehidupan. Proses menyusui, misalnya, bukan hanya soal pemenuhan nutrisi, tetapi juga berperan dalam pembentukan struktur rahang dan otot mulut. Gerakan mengisap saat menyusu membantu perkembangan orofasial yang sehat, yang kelak berpengaruh pada susunan gigi dan fungsi pengunyahan. Dengan demikian, praktik menyusui memiliki kontribusi tidak langsung terhadap kesehatan gigi dan mulut anak di masa depan.

Namun, upaya menjaga kesehatan gigi anak tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Banyak keluarga hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial yang membuat perhatian terhadap kesehatan gigi menjadi prioritas kesekian. Akses ke layanan kesehatan gigi belum merata, sementara informasi yang beredar di masyarakat sering kali tidak utuh atau bahkan keliru. Kondisi ini menuntut pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan kontekstual dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.

Perubahan pola konsumsi juga menjadi tantangan serius. Makanan dan minuman tinggi gula semakin mudah dijangkau, bahkan oleh anak-anak. Iklan dan kemasan menarik membuat anak terbiasa mengonsumsi makanan manis sejak dini, sementara kebiasaan menyikat gigi secara teratur belum sepenuhnya tertanam. Tanpa pendampingan orang tua yang konsisten, risiko kerusakan gigi meningkat tajam. Inilah ironi kesehatan modern: pilihan makanan semakin beragam, tetapi literasi kesehatan belum sepenuhnya mengikuti.

Promosi kesehatan gigi anak perlu bergeser dari pendekatan instruktif menjadi pendekatan pemberdayaan. Orang tua tidak cukup hanya diberi larangan, tetapi perlu dibekali pemahaman tentang alasan ilmiah di balik setiap anjuran. Ketika orang tua memahami bahwa gigi susu berfungsi sebagai penuntun tumbuhnya gigi permanen, mereka akan lebih terdorong untuk menjaga kebersihannya. Pengetahuan yang disertai pemahaman akan melahirkan kepedulian yang berkelanjutan.

Lingkungan keluarga memegang peran sentral dalam pembentukan kebiasaan sehat anak. Anak belajar dari apa yang dilihat, bukan hanya dari apa yang diperintahkan. Kebiasaan menyikat gigi bersama sebelum tidur, memilih makanan yang lebih ramah gigi, dan rutin memeriksakan gigi dapat menjadi teladan sederhana yang berdampak besar. Praktik ini tidak memerlukan biaya mahal, tetapi membutuhkan komitmen dan konsistensi.

Di luar keluarga, peran komunitas juga sangat penting. Kader kesehatan, guru pendidikan anak usia dini, dan tokoh masyarakat dapat menjadi agen perubahan dalam menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan gigi anak. Ketika pesan kesehatan disampaikan secara berulang dan konsisten di berbagai ruang sosial, maka perilaku sehat akan lebih mudah diterima dan dipraktikkan.

Dukungan sistem layanan kesehatan menjadi faktor penentu berikutnya. Integrasi pemeriksaan gigi dalam layanan kesehatan ibu dan anak perlu diperkuat. Pemeriksaan rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan dasar bukan hanya berfungsi untuk mendeteksi masalah sejak dini, tetapi juga sebagai sarana edukasi langsung bagi orang tua. Interaksi ini menjadi kesempatan emas untuk membangun pemahaman yang benar tentang perawatan gigi anak.

Pemanfaatan teknologi digital juga membuka peluang baru. Di era gawai dan media sosial, informasi kesehatan dapat disebarluaskan secara cepat dan luas. Video edukatif singkat, infografis, dan konsultasi daring dapat menjangkau orang tua yang memiliki keterbatasan waktu atau akses layanan kesehatan. Namun, tantangan literasi digital tetap harus diperhatikan agar informasi yang diterima tidak menyesatkan.

Sinergi tenaga kesehatan menjadi kunci dalam upaya ini. Dokter gigi, perawat gigi, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya perlu menyampaikan pesan yang selaras tentang kesehatan anak. Edukasi menyusui, pola makan, dan perawatan gigi sebaiknya tidak berdiri sendiri, melainkan dirangkai dalam satu narasi utuh tentang pentingnya pencegahan sejak dini. Pendekatan ini membantu orang tua melihat keterkaitan antar aspek kesehatan secara lebih komprehensif.

Merawat kesehatan gigi dan mulut anak sejak dini sejatinya adalah investasi jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi manfaatnya akan dirasakan bertahun-tahun kemudian. Anak yang tumbuh dengan kondisi gigi dan mulut yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial.

Pada akhirnya, kesehatan gigi anak bukan sekadar urusan klinis, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama. Ketika keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan bergerak searah, kesehatan gigi anak tidak lagi menjadi isu yang terpinggirkan. Ia menjadi fondasi penting dalam membangun generasi sehat, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper