Mata Banua Online
Senin, Januari 12, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Mengoptimalkan Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital

by Mata Banua
11 Januari 2026
in Opini
0

Penulis: May Lorenna, S.Pd., M.Pd (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Pengajar Mata Kuliah Bahasa Inggris)

Di tengah percepatan transformasi digital, kompetensi Bahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan penting yang wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa. Bahasa Inggris kini bukan sekadar bahasa asing, melainkan lingua franca yang menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional. Tidak heran bila Bahasa Inggris menjadi Mata Kuliah Umum (MKU) yang harus ditempuh oleh seluruh mahasiswa di perguruan tinggi.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\12 Januari 2026\8\8\foto opini hl.jpg

“Mengawali Tahun dengan Evaluasi: Dimana Peran Kita dalam Perubahan ”

11 Januari 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Saatnya Mematahkan Lingkaran Setan Kapitalisme

11 Januari 2026

Namun, fakta menunjukkan bahwa kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Berdasarkan data terbaru EF English Proficiency Index 2023, Indonesia menempati peringkat ke-79 dari 113 negara, berada jauh di bawah Filipina (peringkat 51) dan Malaysia (peringkat 32). Di kawasan ASEAN, kemampuan Bahasa Inggris Indonesia masih kalah dari Vietnam (peringkat 64) dan bahkan Singapura (peringkat 2). Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi perguruan tinggi untuk melakukan perbaikan serius dalam pembelajaran Bahasa Inggris, terutama dalam konteks pemanfaatan teknologi digital.

Selama beberapa dekade, berbagai metode pengajaran Bahasa Inggris telah diterapkan, mulai dari audio-lingual hingga communicative competence. Meski metode pembelajaran telah bergeser dari teacher-centered ke student-centered, hasilnya belum menunjukkan perubahan signifikan. Mahasiswa masih cenderung pasif, dan kemampuan berbahasa Inggris mereka sering kali terbatas pada aspek akademik, bukan keterampilan komunikasi yang aplikatif di dunia profesional.

Lebih dari Sekadar Zoom

Perkembangan teknologi membuka peluang baru melalui kelas digital. Seringkali, kelas digital dianggap hanya sebagai pertemuan daring via Zoom, Google Meet, atau Microsoft Teams. Namun, sesungguhnya kelas digital jauh lebih kompleks. Menurut Pathak dan Manoj (2018), kelas digital mencakup proses belajar yang memanfaatkan teknologi secara synchronous maupun asynchronous. Pembelajaran synchronous memungkinkan interaksi real-time antara pengajar dan mahasiswa, sedangkan pembelajaran asynchronous memungkinkan mahasiswa mengakses materi, melakukan kuis, atau mengerjakan tugas sesuai jadwal mereka sendiri melalui platform seperti Google Forms, Kahoot!, Quizizz, Socrative, Quizlet, atau Writeabout.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa penggunaan platform digital dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa. Misalnya, studi yang melibatkan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Semarang menunjukkan bahwa platform digital yang diterapkan dalam model hybrid learning dengan metode Task-Based Learning mampu meningkatkan keterampilan komunikasi dan pemahaman materi Bahasa Inggris secara signifikan (Pratiwi et al., 2022; Ulla & Perales, 2022). Lebih dari itu, mahasiswa yang terbiasa belajar melalui platform digital mengembangkan autonomous learning, di mana mereka mampu mengelola pembelajaran secara mandiri dan bertanggung jawab.

Kesiapan Pengajar dan Infrastruktur

Agar kelas Bahasa Inggris berbasis digital dapat berjalan efektif, persiapan pengajar dan sarana-prasarana sangat krusial. Pengajar harus menguasai Students Response System (SRS) dan berbagai platform digital agar kelas tidak mengalami gangguan teknis. Selain itu, penyediaan koneksi internet yang stabil menjadi keharusan, khususnya di daerah Jawa Tengah di mana kesenjangan digital masih ada di beberapa wilayah.

Tidak kalah penting, materi pembelajaran harus dirancang berdasarkan needs analysis mahasiswa. Materi yang tepat sasaran akan membuat kelas digital tidak sekadar formalitas, tetapi mampu menciptakan pengalaman belajar yang holistic dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, baik akademik maupun profesional. Misalnya, mahasiswa keperawatan atau kebidanan dapat diberikan tugas presentasi atau simulasi komunikasi dalam Bahasa Inggris yang terkait dengan pelayanan kesehatan, sehingga mereka tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga siap menghadapi tuntutan profesi.

Manfaat Strategis

Kelas digital yang terstruktur dengan baik dapat membawa beberapa manfaat strategis. Pertama, meningkatkan kompetensi Bahasa Inggris secara bertahap dan konsisten. Kedua, mendorong mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri, sehingga muncul motivasi intrinsik untuk belajar dan berinovasi. Ketiga, memperluas keterampilan digital mahasiswa, yang menjadi modal penting di era globalisasi dan industri kesehatan yang serba modern.

Apabila seluruh perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Poltekkes Kemenkes Semarang, mampu mengoptimalkan kelas digital, potensi peningkatan kualitas Bahasa Inggris mahasiswa akan lebih nyata. Mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna bahasa, tetapi juga mampu berkomunikasi efektif, mengelola informasi, dan berpikir kritis di ranah profesional. Dengan demikian, pendidikan Bahasa Inggris berbasis digital bukan hanya soal penguasaan bahasa, tetapi juga membentuk sumber daya manusia Indonesia yang kompetitif di tingkat global.

Akhirnya, digitalisasi pembelajaran Bahasa Inggris membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk berkembang. Namun, keberhasilan implementasinya tidak lepas dari kesiapan pengajar, sarana-prasarana, dan desain materi yang tepat. Mahasiswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran digital akan memiliki kemampuan berbahasa, motivasi belajar, serta kompetensi digital yang kuat—modal penting untuk menghadapi tantangan profesional di masa depan. Saatnya pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia bergerak lebih adaptif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, agar setiap mahasiswa mampu berkompetisi di panggung global.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper