Mata Banua Online
Sabtu, Februari 7, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Dukung Pemberdayaan Perempuan, Pemprov Kalsel Ikut Terlibat Dalam Women’s International Club

by Mata Banua
8 Desember 2025
in Opini
0

Oleh : Mariatul Adawiyah, ST (Aktivis Muslimah)

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kembali mencatat peran pentingnya dalam forum internasional dengan menjadi tuan rumah utama Bazar Amal ke-56 Women’s International Club (WIC) Jakarta 2025. Kegiatan yang diikuti 41 negara ini berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) dengan mengusung semangat solidaritas global demi mendukung program-program sosial dan pendidikan, dikutip dari (dikominfomc.kalselprov.go.id).

Berita Lainnya

Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Makan Bergizi Gratis: Tanggung Jawab Negara untuk Generasi Sehat

5 Februari 2026
Gelap Gempita, Tanya Kenapa?

Gelap Gempita, Tanya Kenapa?

5 Februari 2026

Gubernur Kalsel Muhidin dan Hj Fathul Jannah mendampingi istri Wakil Presiden Selvi Gibran Rakabuming yang membuka kegiatan tersebut. Pemprov Kalsel merupakan Sponsor utama kegiatan Bazar amal Women’s International Club tahun 2025. Istri Wakil Presiden RI, Selvi Gibran Rakabuming mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata cara perempuan dapat memainkan peran besar dalam gerakan sosial. “Kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan keberagaman, tetapi juga untuk memperkuat peran perempuan dalam kerja-kerja sosial. Saya mengapresiasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang telah memberikan kontribusi besar sebagai tuan rumah utama,” ujarnya., dikutip dari (baritopost.co.id).

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menegaskan bahwa keterlibatan Kalsel dalam WIC bukan sekadar promosi, melainkan komitmen lebih luas terhadap agenda pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial. Nilai-nilai persahabatan, kepedulian, dan kerja sama lintas negara adalah semangat utama WIC yang sejalan dengan visi pembangunan sosial di Kalsel. “Kami ingin menunjukkan bahwa daerah juga berperan penting menggerakkan solidaritas global. Keterlibatan Kalsel adalah wujud dukungan kami terhadap gerakan pemberdayaan perempuan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat” tuturnya, dikutip dari (kalsel.inews.id).

Keterlibatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam kegiatan Women’s International Club (WIC) kembali menempatkan isu pemberdayaan perempuan menjadi sorotan publik. WIC dikenal sebagai organisasi internasional yang fokus pada aktivitas sosial, penggalangan dana, dan pemberdayaan perempuan. Pemprov Kalsel aktif dalam kegiatan WIC, namun fakta lapangan menunjukkan persoalan Perempuan di Kalsel masih besar. Misalnya, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, kemiskinan Perempuan lebih besar, pernikahan anak masih tinggi, banyak perempuan bekerja di sektor informal dengan perlindungan minim, serta beban ganda Perempuan meningkat akibat tuntutan ekonomi kelurga.

Program-program pemberdayaan perempuan seperti WIC berasal dari paradigma sekuler-liberal, yang memposisikan perempuan sebagai individu mandiri yang harus diberi ruang untuk mengembangkan potensi diri. Padahal, pemberdayaan ala sekuler lebih menekankan peningkatan kapasitas, bukan sistemik. Kapitalisme memanfaatkan perempuan sebagai tenaga murah. Perempuan diberdayakan hanya untuk menjadi roda ekonomi kapitalistik, bukan keluar dari jeratan kemiskinan struktural. Agenda pemberdayaan sering dikendalikan lembaga donor internasional. Sehingga seringkali nilai-nilai yang dipromosikan sering liberal dan bertentangan dengan Islam. Akhirnya, pemberdayaan perempuan versi sekuler hanya menyelesaikan gejala, bukan akar masalah.

Sistem Islam menegaskan perempuan bukan sekadar objek program, melainkan bagian integral dari masyarakat yang dijamin hak, kehormatan, dan kesejahteraannya. Islam memberi solusi struktural, bukan kosmetik. Negara menjamin kebutuhan ekonomi perempuan. Pemberdayaan bukan berarti memaksa perempuan bekerja demi bertahan hidup. Negara menyediakan Pendidikan berkualitas bagi perempuan. Perempuan di masa Khilafah banyak menjadi ulama, pendidik, ahli ilmu bukan objek pelatihan keterampilan saja. Sistem Islam melindungi kehormatan perempuan. Perempuan bebas berperan diruang publik sesuai syariat, bukan eksploitasi. Hanya sistem Islam yang mampu menghadirkan pemberdayaan perempuan yang hakiki, bukan sekadar acara, pelatihan, atau aktivisme jangka pendek, tetapi pemberdayaan yang mengubah realitas mereka secara nyata.

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper