
JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat ada 122 RT dan dua ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir hingga Selasa (4/3) pukul 16.00 WIB.
“BPBD mencatat saat ini genangan terjadi di 122 RT dan 2 ruas jalan tergenang,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD Jakarta Mohamad Yohan kepada wartawan, seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Yohan menyampaikan, BPBD DKI Jakarta masih terus mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah.
Ia juga menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik.
“(Serta) dengan para lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas,” ucap dia.
Sementara, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut, banjir merendam sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Selasa (4/3), merupakan imbas dari hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Ia mengatakan pihaknya sudah memprediksi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, hujan lebat ini disebabkan sejumlah faktor.
“Hal itu disebabkan, saat itu kami mendeteksi adanya gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, kemudian juga gelombang Kelvin, kemudian terjadi low pressure area, dan pertemuan beberapa belokan dan pertemuan angin dari berbagai arah,” kata Dwikorita dalam wawancara dengan TVRI yang diunggah di Instagram BMKG, Selasa (4/3).
“Sehingga waktu itu, kami memprediksi potensi terjadi hujan lebat, sangat lebat, dapat berkembang menjadi ekstrem, terutama di sebagian besar Sumatera dan Jawa, serta Kalimantan bagian barat dan tengah, kemudian juga di Sulawesi bagian utara, Maluku utara serta kepulauan Papua yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi,” lanjut dia.
Dwikorita menambahkan, pihaknya memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek hingga sepekan ke depan. Oleh karena itu, Dwikorita mengatakan bahwa BMKG terus memperbarui informasi dan peringatan dini cuaca ekstrem.
Menurut Dwikorita penyebab banjir kali ini berbeda dari banjir besar yang terjadi pada 2020. Ia menjelaskan saat itu banjir disebabkan oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan seruakan dingin atau cold surge dari dataran tinggi Asia.
“Karena saat itu, selain MJO, juga masuknya seruakan udara dingin dari datqran tinggi Asia, kalau kali ini memang ada pengaruh MJO, kemudian juga adanya pengaruh gelombang atmosfer, serta juga pengaruh kondisi lokal,” tutur Dwikorita.
Dwikorita mengatakan BMKG pada beberapa hari sebelumnya sudah mendeteksi kumpulan awan Cumulonimbus yang memenuhi Jawa Barat hingga Jakarta. Awan ini juga terlihat di wilayah Sumatera bagian selatan yang bergerak ke arah Jambi, Bengkulu, sampai Sumatera Barat.
“Jadi fenomenanya tidak sama persis, tapi yang sama adalah fenomena MJO, kemudian juga sirkulasi siklonik juga terjadi di wilayah Samudra Hindia barat daya Bengkulu, sehingga mempengaruhi gelombang tinggi dan karena ada gelombang Rossby,” tutur dia.
Di Bekasi, BPBD Kota setempat mencatat ada 20 titik banjir di 7 kecamatan, Selasa (4/3), akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Ratusan warga pun terpaksa harus mengungsi.
“Banjir melanda di 20 titik dari 7 Kecamatan di Kota Bekasi,” ujar BPBD Kota Bekasi dalam keterangan tertulis, Selasa.
BPBD Kota Bekasi mencatat ada ratusan orang yang terpaksa mengungsi di dua lokasi pengungsian.
Rinciannya, sebanyak 47 KK atau 360 jiwa mengungsi di Musala Jamiatul Khair Kampung Lebak, Teluk Pucung, Bekasi Utara, dan 100 KK atau 400 jiwa di rumah Bang Bray Gg. Mawar, Bekasi Timur. web