
Ibadah puasa dari masa ke masa sepanjang sejarah selalu membawa dan menyuarakan pesan moral yang kuat. Saking kuatnya pesan itu sehingga rukun Islam yang ketiga ini bukan saja menyeru kepada panggilan ibadah semata-mata tetapi jauh lebih lagi, yaitu ibadah puasa tidak hanya berpengaruh kepada diri sendiri juga kepada masyarakat luas.
Waktu puasa wajib yang panjang itu terus diamalkan umat Islam sejak berabad-abad tahun lalu hingga kini dengan mengekalkan syarat dan rukunnya tanpa mengalami perubahan. Puasa sebagai perintah agama telah dilakukan oleh umat manusia di masa sebelum umat Rasulullah Muhammad Saw, seperti dijelaskan dalam kutipan ayat berikut :”Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah /2 : 183)
Mengutip apa yang disampaikan Imam Qurtubi seorang ahli tafsir, yang menelaah pendapat As-Syaabi dan Qatadah bahwa yang maksud umat terdahulu merujuk syariat amalan puasa diamalkan umat Nabi Musa dan Nabi Isa. Menurut sejarah, Nabi Musa bersama kaumnya berpuasa selama 40 hari semasa berada di Bukit Tursina, Mesir.
Nabi Isa dan pengikut setianya juga berpuasa seperti yang diamalkan Nabi Musa. Dalam surah Maryam dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa. Manakala Nabi Daud diriwayatkan berpuasa berselang seling yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka sepanjang tahun. Menurut sejarah, Nabi Muhammad Saw sendiri sebelum dilantik menjadi Rasul (utusan Allah) mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan selain mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke-10 Muharam.
Selain itu, puasa juga diamalkan agama lain. Puasa dalam agama Buddha bersifat berpantang dengan tidak memakan makanan tertentu. Dalam agama Hindu, Confusius, Tao dan ajaran animisme juga berpuasa untuk pemujaan roh. Puasa yang diamalkan dalam agama ini bersifat berpantang tidak makan makanan tertentu. Maka dalam agama Islam berpuasa pada bulan Ramadan, tentunya sebagaimana Islam agama membawa rahmat. Ibadah puasa yang diamalkan umat Islam di seluruh dunia tidak membebankan umatnya. Coba kita telaah kata pakar medis/perobatan, telah mengakui puasa sangat baik untuk pencegahan dan perawatan penyakit serta untuk penyembuhan penyakit badan dan hati.
Kita maklumi bersama umat agama lain berempati dan ikut menyambutnya. Menurut Islam, puasa adalah imsak yang berarti menahan diri, dari segala yang membatalkan puasa, baik yang bersifat lahir maupun bathin. Maka kita diwajibkan menahan makan, minum, dan nafsu seksual sejak terbit fajar hingga Maghrib. Juga mencegah nafsu untuk mengunjing, mencaci maki, mengolok olok, mendengarkan suara kejelekan, dan perbuatan negatif.
Ibadah puasa pada bulan Ramadan yang sedang kita laksanakan ini, memang sangat kita rindukan dan seakan jangan lepas dan pergi begitu cepat. Waktu datangnya terasa singkat, perginyapun terasa cepat. Tanpa terasa sepertinya baru saja setahun yang lalu kita menikmati Ramadan, kini kita berjumpa lagi dengan bulan penuh berkah dan kemuliaan. Tentu sangatlah merugi bila bulan penuh berkah ini kita tidak bisa atau tidak mau mengambil kebaikan sebanyak-banyaknya.
Rasulullah Saw telah mengingatkan kepada kita dalam satu hadisnya: “Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah Swt mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan, sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaqy).
Berpuasa pada bulan Ramadhan, ia dikenal dengan bulan suci, penghulu segala bulan (saydus syuhur), awalnya rahmat, pertengahannya Maghfirahdan akhirnya Itqun minannar. Amal-amalmu diterima dan doa-doamu di-ijabah. Maka bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca Kitab-Nya.
Apa yang kita lakukan, amal apa yang kita perbuat. Semua itu yang akan memberi makna pada waktu. Bila kita berbuat baik, maka waktu tersebut punya arti yang baik. Begitu juga sebaliknya. Bila waktu dibiarkan kosong, tidak diisi dengan amal, akan menipu diri sendiri. Seperti kata Rasulullah: “Dua nikmat yang manusia banyak yang tertipu dan merugi, yaitu kesehatan dan waktu luang.”Ketika Allah Swr menjelaskan manusia semua dalam keadaan merugi, ia memulainya dengan sumpah atas nama waktu, “demi masa”. Maka, tanpa mengisinya dengan iman dan amal saleh, serta nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, maka waktu memberi kesempatan manusia untuk terus merugi.
Jadi, kata kuncinya ada pada dua hal, waktu dan isi waktu itu. Pada keduanya kita menjalani hidup ini, dengan berbagai macam harapan, cita-cita, ibadah, perbuatan, amal, usaha, perjuangan, derma, kepedulian, kerja keras dan juga menjauhi kesalahan. Oleh karena itu, untuk memberi bobot dan tonggak acuan di tengah keberagaman kualitas amal kita, Islam mengajarkan kita prinsip kesakralan dan kesucian perbuatan. Maksudnya, secara khusus, ada waktu-waktu yang punya nilai sangat suci, mulia, terhormat dan memiliki kelebihan-kelebihan. Begitu juga kesakralan perbuatan, ada perbuatan tertentu yang diajarkan Islam yang memiliki kesucian, kemulian dan kehormatan tinggi. Tata laksana ibadah kesucian perbuatan dapat kita temukan pada ajaran-ajaran ibadah dalam Islam seperti salat, puasa, zakat dan haji.
Dalam masing-masing ibadah itu ada banyak sekali syarat, rukun dan sekaligus apa-apa yang membatalkannya. Semua harus dihormati dan ditaati. Kita semua terikat dengan tata laksana ibadah-ibadah itu. Sebelum shalat misalnya, kita harus bersuci (taharah). Gerakan dan bacaan dalam salat, diajarkan sedemikian rupa, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Karena itu, datangnya Ramadhan, harus ditentukan dengan cara-cara yang telah diatur oleh Islam, dengan melihat hilal, rukyah atau dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Artinya, kesucian waktu-waktu tersebut benar-benar dijaga. Maka kita mendapati bagaimana Rasulullah Saw mengisi kesucian Ramadhan dengan memperbanyak ibadah. Itulah teladan yang diberikan untuk umatnya.
Ramadhan yang sedang kita laksanakan di tahun ini, tentunya harus ada perubahan dari tahun ke tahun dan kita masih seperti biasa, seperti tidak ada perubahan. Maka dengan melaksanakan Ramadhan, sudah sepatutnya kita jalani sesuai dengan persiapan-persiapan yang produktif yang ada dalam melaksanakan ibadah Ramadhan tahun ini. Sehingga kita berharap agar Ramadhan yang sedang kita jalani ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu mari sama sama kita ikuti dan saling meningatkan melakukan hal yang penting kita lakukan antara lain: Pertama, memperbanyak doa. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah Saw sejak dua bulan sebelum Ramadhan adalah “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi).
Kita mohon kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan diberi kemudahan serta umur panjang untuk menjalankan ibadah sepanjang bulan itu; kebaikan. Kedua, memperbanyak membaca Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran, sehingga kita bertekad sungguh-sungguh untuk menjaga hari-hari kita di isi dengan bacaan Quran. Dan salah satu tekad yang paling utama adalah berkomitmen untuk dapat mengkhatamkan Alquran paling minimal satu kali sepanjang Ramadhan tahun ini. Karena yang perlu kita yakini bahwa kalaulah di bulan Ramadhan saja kita tidak dapat mengkhatamkan Alquran satu kali, maka jangan harap kita dapat mengkhatamkannya dalam satu bulan di bulan-bulan lainnya; juga diikuti memperbanyak istighfar.
Ketiga, tentunya persiapan keuangan untuk infaq, sedekah, dan zakat. Kedermawanan sosial Islam (Islamic social philanthropy) adalah sifat murah hati dan mudah memberi sepanjang waktu, dalam keadaan mampu maupun berkecukupan. “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).”Perumpamaan nafkah orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang dia kehendaki dan Allah maha luas karunia-Nya lagi maha mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 261).
Pada akhirnya, semoga Ramadhan tahuninisemakinmeningkatkanketakwaankitakepada-Nya. Denganpuasa, kitatidakhanyamenahanlapar dan dahaga, tetapi juga mendidikjiwa agar lebihsabar dan ikhlas. Semogakitamampumeredamhawanafsu dan menundukkan ego, hinggahatimenjadibersih dan tunduk pada kehendak-Nya. Dan di harikemenangannantinya, kitasempurnakan ibadah inidengansalingmemaafkan, kembalisucisepertibayi yang barudilahirkan, meraihridho dan ampunan-Nya.Semoga.