Oleh : Khairunnisa
Perkembangan teknologi telah berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang komunikasi, medis, dan lain-lain. Salah satu dampak positifnya adalah kemudahan akses keuangan melalui gadget. Istilah Financial Technology (Fintech) merujuk pada inovasi di sektor keuangan yang mempermudah pengguna dalam melakukan transaksi keuangan, seperti jual-beli saham, pembayaran, peer-to-peer lending, transfer dana, investasi ritel, dan perencanaan keuangan personal. Fintech telah membawa dampak signifikan pada perekonomian dan gaya hidup masyarakat. Hal ini disampaikan oleh The National Digital Research Centre (NDRC).
Pinjaman online memiliki cara yang mudah dan cepat untuk mendapatkan uang, namun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui risiko yang ada di dalamnya. Aplikasi atau website pinjaman online sudah kian tersebar, bukan hanya kalangan dewasa atau karyawan namun bagi kalangan pelajar khususnya mahasiswa pun kini dapat melakukan pinjaman online salah satunya dengan menggunakan Cicil. Pinjaman online ini memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk membeli barang yang menjadi kebutuhan atau keinginan dari mahasiswa. Barang-barang tersebut dapat berupa elektronik, furniture, fashion, dan yang lainnya.
Banyak mahasiswa yang tertarik membeli barang-barang bermerk karena ingin meningkatkan status sosial mereka. Namun, terbatasnya keuangan dan kurangnya penghasilan tetap membuat mahasiswa kesulitan dalam membeli barang tersebut.
Sekarang juga dengan hadirnya Cicil sebagai penyedia pinjaman dana menjadi jalan pintas bagi mahasiswa. Cicil memberikan limit pinjaman yang cukup besar, yaitu hingga Rp. 10.000.000, sehingga mahasiswa dapat membeli barang yang diinginkan. Namun, kehadiran Cicil ini membawa dampak konsumtif bagi mahasiswa, di mana mereka seringkali membeli barang hanya untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan yang mendesak.
Perlu diingat bahwa Cicil dan platform pinjaman online lainnya seharusnya digunakan dengan bijak dan hati-hati. Mahasiswa harus mempertimbangkan dengan matang apakah membeli barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya untuk memenuhi keinginan semata. Selain itu, mereka juga harus memastikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membayar cicilan secara teratur agar tidak terjebak dalam utang yang sulit dilunasi di kemudian hari.
Banyak kasus terjadi dimana remaja atau mahasiswa terjerat utang akibat tidak bisa mengembalikan pinjaman yang diambil. Hal ini bisa disebabkan karena adanya bunga yang cukup besar, syarat dan ketentuan yang tidak jelas, dan juga terkadang ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menjalankan bisnis ini.
Menurut data dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kasus kredit macet yang disebabkan oleh Pinjol meningkat pada tahun 2020. Hal ini juga didukung dengan maraknya kasus terror yang dilakukan oleh oknum penagih utang yang bekerja di Pinjol.
Untuk menghindari hal ini, maka sebaiknya para remaja dan mahasiswa lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman online. Pastikan bahwa platform yang dipilih adalah legal dan terdaftar di OJK. Periksa juga syarat dan ketentuan dengan teliti sebelum mengambil pinjaman. Jangan mudah tergiur dengan bunga yang tinggi atau dengan proses yang mudah dan cepat. Selalu pikirkan kemampuanmu dalam mengembalikan pinjaman tersebut.
Selain itu, edukasi mengenai keuangan juga sangat penting untuk diberikan kepada remaja dan mahasiswa. Hal ini dapat dilakukan melalui kurikulum sekolah, pelatihan keuangan, atau dengan memanfaatkan media sosial untuk membagikan informasi mengenai pinjaman online yang baik dan buruk. Agar remaja dan mahasiswa tidak menjadi korban, sekolah serta kampus tentu harus memberikan edukasi tentang literasi keuangan yang baik dan benar kepada remaja dan mahasiswa, utamanya mahasiswa baru.
Dengan melakukan langkah-langkah yang tepat, diharapkan dapat mengurangi kasus terjeratnya remaja dan mahasiswa pada pinjaman online atau Pinjol.