Minggu, Agustus 31, 2025
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
No Result
View All Result
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Penyakit Individualis di Masyarakat, Berbahayakah?

by matabanua
22 November 2022
in Opini
0

Oleh : Afifah Balqis

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Bukan pribahasa tersebut yang tepat digunakan untuk kasus yang belakangan ini terjadi. Kasus kematian satu keluarga yang masih misteri hingga hari ini. Bahkan, tragisnya kematian mereka baru diketahui para tetangga, setelah beberapa hari semua mayat yang tergeletak membusuk dan mengering. Rumput tetangga bisa jadi ‘lebih belukar’, mungkin inilah pribahasa yang tepat digunakan alih-alih ‘lebih hijau’.

Artikel Lainnya

D:\2025\September 2025\1 September 2025\8\master opini.jpg

Hilangnya Sosok Tulang Punggung Keluarga di Kaki Barracuda

31 Agustus 2025
D:\2025\September 2025\1 September 2025\8\Hasnah Mega Putri.jpg

Jurang Demokrasi: DPR Mewakilkan Siapa?

31 Agustus 2025
Load More

Seperti dilansir dari Republika.co.id, Sekeluarga Tewas di Kalideres, Jakarta Barat. Keluarga itu dikenal tertutup dengan warga sekitar. Saking tertutupnya, bahkan kematian keluarga itu baru terungkap setelah tiga minggu. Setelah warga mencium aroma busuk dari dalam rumah yang berpagar tinggi itu. (Sabtu/12/11/2022).

Menurut informasi lain, satu keluarga tersebut memang cenderung antisosial dan tertutup, bahkan menurut kesaksian kerabat mereka, tidak ada hal-hal yang bisa menyebabkan satu keluarga itu meninggal, termasuk dugaan motif kematian yaitu ‘kelaparan’. Menurut kerabat keluarga tersebut, tidak mungkin karena faktor kelaparan, karena dari segi ekonomi, mereka baik-baik saja. (Republika.co.id/12/11/2022)

Kasus diatas memang sungguh memprihatinkan. Dimana satu keluarga yang meninggal, tanpa diketahui oleh tetangganya sekalipun – padahal mereka notabenenya berdekatan – tentu hal ini bukan hal yang wajar. Apalagi ditambah statement ‘tetangga’ yang mengatakan bahwa keluarga yang meninggal itu cenderung membatasi interaksi sosial dengan masyarakat di sekitarnya.

Berbicara tentang interaksi sosial dalam hubungannya dengan manusia, tentu adalah hal yang tidak bisa dinafikan. Sebagai makhluk sosial, menjadi keharusan bagi manusia untuk terus terhubung dengan orang-orang sekitar. Namun, faktanya pada hari ini, banyak masyarakat yang mulai ‘merasa’ bisa hidup sendiri, tanpa berdampingan dengan orang lain dan tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Sikap seperti itulah yang justru membahayakan. Sikap individualis yang hanya mementingkan kehidupan pribadi dan menjauhkan diri dari masyarakat.

Mengapa fenomena demikian banyak menjangkiti masyarakat hari ini? Bukan tentang menyalahkan korban yang cenderung antisosial atau pun menyalahkan tetangga yang ‘kurang peka’ dengan kondisi tetangga lainnya. Tapi, mengenai sikap individualis yang nyatanya sudah banyak dirasakan dampak dan akibatnya serta menjadi suatu penyakit di masyarakat yang harus di basmi. Individualis menyita rasa empati dan gotong royong dan justru menyuburkan sikap ‘tidak mau tahu’.

Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena masyarakat sedang hidup dalam sebuah tatanan kehidupan yang sekuler. Negara yang harusnya menjamin kehidupan masyarakatnya, tidak memainkan peranananya. Individualis, adalah produk daripada sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini, dimana kebebasan pribadi yang di junjung tinggi. Bebas berpendapat dan bertingkah laku ala ‘semau gue’ sangat di agung-agungkan. Sehingga, tidak heran jika statement ‘ngapain gue urusin kehidupan orang?’ atau ‘kenapa gue harus peduli?’ atau ‘bodo amat, urus hidup lo dan gue urus hidup gue?’ menjadi hal yang lumrah dan wajar diucapkan dan bahkan menjelma menjadi sikap ‘apatis’ terhadap sekitarnya. Sungguh, masyarakat hari ini tengah mengalami krisis empati!

Lalu, bagaimana agar produk dari pada sistem sekuler saat ini, bisa berhenti menjangkiti masyarakat? Maka, tentu butuh solusi lain yang mana sistem ini akan memainkan peranannya untuk menjaga masyarakat. Sistem yang aturannya berasal dari Yang Maha Pencipta. Sistem kehidupan yang lengkap memecahkan probelamatika di masyarakat, salah satunya perihal sikap individualisme sekarang ini. Yakni sistem Islam, dimana penerapannya dalam kehidupan akan melenyapkan sikap individualistis, apatis, apalagi mengganggu dan sikap-sikap yang menyebabkan kerusakan lainnya.

Dalam Islam, tetangga adalah mereka yang wajib dimuliakan. Bahkan Rasulullah SAW sendiri, dalam sabda beliau, menyuruh kita untuk memuliakan tetangganya, bahkan sampai-sampai salah satu sahabat Nabi mengira, bahwa saking Nabi menyuruh memuliakan tetangga, harta warisan pun boleh di berikan pada tetangga. Bagaimana pun, tetanggalah yang paling cepat tanggap saat kita mengalami kesulitan, meminjami kita uang, memberi sedikit makanan kala perapian sunyi, bahkan mereka pula yang barangkali saat kita meninggal, yang akan menguburkan jenazah kita. Jadi, kepedulian antar tetangga, tidak bisa disepelekan. Islam juga memberikan aturan bahwa kehidupan bertetangga memiliki adab-adab yang tidak boleh dilanggar diantaranya.

Celaan mengganggu tetangga

“Tidak akan masuk ke dalam surga siapa saja yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim)

Memperbanyak Kuah Makanan untuk Tetangga

“Jika engkau memasak, perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan tetanggamu, dan berikanlah kepadanya dengan cara yang baik.” (HR Muslim).

Berikut, hak-hak tetangga yang wajib di penuhi menurut ajaran Islam, sesuai sabda Nabi SAW:

Kami bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa hak tetangga itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Jika ia berutang kepadamu, maka berilah dirinya utang, jika ia meminta bantuan, bantulah ia, jika ia membutuhkan sesuatu, berilah ia, jika ia sakit maka kunjungilah, jika ia mati maka selenggarakanlah jenazahnya; jika ia mendapatkan kebaikan, bergembiralah dan ucapkanlah suka cita kepadanya, jika ia ditimpa musibah, turutlah sedih dan berduka. Janganlah engkau menyakitinya dengan api periuk belangamu (maksudnya jika Anda memasak jangan sampai baunya tercium tetangga), kecuali engkau memberi sebagian kepadanya. Janganlah, engkau mempertinggi bangunan rumahmu, agar bisa melebihi rumahnya, dan menghalangi masuknya angin, kecuali atas izin darinya, jika engkau membeli buah-buahan, maka berikan sebagian buah itu kepadanya, Jika engkau tidak mau memberinya, maka masukkan ia ke dalam rumahnya dengan sembunyi-sembunyi, dan janganlah anakmu keluar dengan membawa satu pun buah itu, sehingga anaknya menginginkannya. Apakah kalian memahami apa yang aku katakan kepada kalian, bahwa hak tetangga tidak akan pernah ditunaikan kecuali oleh sedikit orang yang dikasihi Allah?” (Hadis hasan, tersebut dalam Tafsir Qurthubiy)

Demikianlah, Islam memberikan solusi untuk problematika yang ada di masyarakat, mewujudkan masyarakat yang damai dan tidak saling bermusuhan serta saling peka untuk tolong menolong dalam kebaikan. Selain itu, yang paling urgen demi tercapainya masyarakat yang sehat, adalah dengan penerapan aturan Islam, bukan aturan lain. Wallahu a’lam bishowab.

 

 

Tags: Afifah BalqisPenyakit Individualis
ShareTweetShare

Search

No Result
View All Result

Jl. Lingkar Dalam Selatan No. 87 RT. 32 Pekapuran Raya Banjarmasin 70234

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan

© 2022 PT. CAHAYA MEDIA UTAMA

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper

© 2022 PT. CAHAYA MEDIA UTAMA