Mata Banua Online
Kamis, Maret 12, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Lailatul Qadar dan Inspirasi Peradaban

by Mata Banua
12 Maret 2026
in Opini
0
Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)

Di antara malam-malam yang dimuliakan dalam tradisi Islam, Lailatul Qadar menempati posisi yang sangat istimewa. Alquran menggambarkan malam ini sebagai momentum agung yang sarat rahmat dan keberkahan. Ia bukan sekadar malam biasa dalam kalender spiritual umat Islam, melainkan sebuah peristiwa kosmis yang mengandung makna mendalam bagi perjalanan manusia. Dalam Alquran disebutkan, “Inna anzalnaahu fii lailatil qadr”—sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan (QS. Al-Qadr [97]:1). Ayat ini menegaskan bahwa salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah spiritual manusia, yakni turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, berkaitan langsung dengan malam Lailatul Qadar.

Dalam perspektif teologis dan historis, peristiwa ini tidak sekadar menandai dimulainya risalah kenabian, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya peradaban baru yang berlandaskan wahyu. Data tekstual dalam Alquran, khususnya dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 serta Surah Ad-Dukhan ayat 4–5, menggambarkan betapa agungnya malam tersebut. Pengulangan istilah lailatul qadr dalam surah Al-Qadr menunjukkan betapa pentingnya momentum ini. Karena kedudukannya yang begitu luhur, Rasulullah Saw. mendorong umatnya untuk memperbanyak ibadah pada malam itu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. disebutkan bahwa Nabi bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, bahkan membangunkan keluarganya agar turut meraih keberkahan malam tersebut.

Berita Lainnya

Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Erosi Tata Kelola Keamanan Global

12 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

“Bencana yang Dipelihara Sistem: Ketika Keselamatan Rakyat Bukan Prioritas”

12 Maret 2026

Pesan Reflektif

Akan tetapi, memahami Lailatul Qadar tidak cukup berhenti pada aspek ritual semata. Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dinamika, peristiwa ini sesungguhnya menyimpan pesan reflektif bagi pengelolaan kehidupan manusia. Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai simbol perenungan terhadap masa depan, sebuah momentum evaluasi spiritual sekaligus sosial bagi manusia.

Jika ditelaah secara lebih mendalam, istilah qadr dalam bahasa Arab memiliki makna ukuran, ketentuan, atau penetapan. Dari sudut pandang ini, Lailatul Qadar dapat dimaknai sebagai malam penentuan yang sarat dengan hikmah ilahi. Dalam Surah Ad-Dukhan disebutkan: “Fihaa yufraqu kullu amrin hakiim”—pada malam itu dijelaskan setiap urusan yang penuh hikmah (QS. Ad-Dukhan [44]:4). Ayat ini memberi isyarat bahwa kehidupan manusia tidak berjalan tanpa arah, melainkan berada dalam kerangka ketentuan dan kebijaksanaan Tuhan.

Jika pesan ini diterjemahkan dalam bahasa kehidupan modern, maka Lailatul Qadar dapat dibaca sebagai inspirasi tentang pentingnya manajemen kehidupan. Dalam ilmu manajemen modern, tokoh seperti Henri Fayol (1841-1925 M) menjelaskan bahwa keberhasilan suatu sistem sangat ditentukan oleh empat fungsi utama: perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi. Menariknya, nilai-nilai semacam ini secara simbolik dapat ditemukan dalam pesan spiritual Lailatul Qadar, di mana kehidupan manusia diarahkan agar berjalan secara tertib, terukur, dan bermakna.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, pesan ini menjadi semakin relevan. Bangsa yang besar memerlukan tata kelola yang matang dan visioner. Pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, hingga kebudayaan memerlukan perencanaan yang serius serta pengawasan yang berkesinambungan. Jika nilai-nilai manajerial yang tersirat dalam pesan Lailatul Qadar dihayati secara sungguh-sungguh, maka kehidupan publik dapat berjalan lebih tertib dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Mengelola Kehidupan

Selain itu, Lailatul Qadar juga memberikan pesan tentang pentingnya konsistensi dan kesinambungan dalam mengelola kehidupan. Dalam Surah Al-Qadr disebutkan: “Tanazzalul malaaikatu war-ruuhu fiihaa bi idzni rabbihim min kulli amr”—para malaikat dan Ruh turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan (QS. Al-Qadr [97]:4). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata tanazzal menunjukkan makna keberlanjutan dan kesinambungan. Artinya, pesan-pesan ilahi tidak hanya relevan pada satu waktu tertentu, melainkan terus berlaku sepanjang sejarah manusia.

Dalam perspektif sosial, makna ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak dapat dikelola secara sporadis atau reaktif. Ia memerlukan kesinambungan kebijakan dan komitmen jangka panjang. Sebuah sistem sosial yang hanya berorientasi pada kepentingan sesaat atau kepentingan kelompok sempit akan sulit menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Hal ini semakin dipertegas oleh ayat yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar “khairun min alfi syahr”—lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr [97]:3). Ungkapan ini tidak hanya menggambarkan keutamaan spiritual malam tersebut, tetapi juga memberikan pesan simbolik tentang pentingnya orientasi jangka panjang. Segala keputusan dan kebijakan yang diambil manusia seharusnya tidak hanya mempertimbangkan manfaat sesaat, tetapi juga dampaknya bagi generasi mendatang.

Di samping itu, Lailatul Qadar juga mengandung pesan penting tentang internalisasi nilai-nilai Alquran dalam kehidupan. Ayat pertama surah Al-Qadr menggunakan kata anzalnaa yang menunjukkan tindakan penurunan wahyu. Secara spiritual, pesan ini dapat dimaknai sebagai ajakan agar manusia tidak hanya membaca Alquran secara tekstual, tetapi juga “menurunkannya” ke dalam kehidupan nyata.

Artinya, Alquran tidak berhenti sebagai bacaan ritual yang dilantunkan dalam ibadah, tetapi menjadi sumber nilai yang membimbing perilaku sosial. Membumikan Alquran berarti menjadikan nilai-nilainya sebagai inspirasi dalam membangun keadilan, menegakkan kejujuran, serta membela kelompok yang lemah dan terpinggirkan.

Tercermin dalam Kebijakan

Dalam konteks sosial kenegaraan, nilai-nilai Qurani seharusnya tercermin dalam kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat, terutama mereka yang rentan secara ekonomi dan sosial. Spirit Alquran menegaskan pentingnya keadilan, kepedulian terhadap kaum dhuafa, serta komitmen terhadap kesejahteraan bersama.

Pada akhirnya, pesan terakhir yang sangat penting dari Lailatul Qadar adalah nilai perdamaian. Surah Al-Qadr ditutup dengan kalimat yang sangat indah: “Salaamun hiya hatta mathla’il fajr”—malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar (QS. Al-Qadr [97]:5). Ayat ini menggambarkan suasana damai yang meliputi malam tersebut.

Dalam perspektif spiritual, kedamaian itu tidak hanya berarti ketenangan batin, tetapi juga harmoni sosial. Lailatul Qadar mengajarkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber kedamaian bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk menjadi pembawa pesan perdamaian di tengah masyarakat yang beragam.

Di tengah berbagai konflik sosial, polarisasi politik, dan kegaduhan informasi yang kerap muncul dalam kehidupan modern, pesan salaam dari Lailatul Qadar menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa tujuan akhir dari spiritualitas bukanlah pertentangan, melainkan terciptanya kedamaian yang meluas hingga seluruh semesta.

Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diperingati secara simbolik, tetapi momentum refleksi untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan bersama. Malam ini mengajarkan tentang pentingnya perencanaan hidup, konsistensi dalam tindakan, orientasi jangka panjang, internalisasi nilai wahyu, serta komitmen pada perdamaian.

Jika pesan-pesan ini benar-benar dihayati, maka Lailatul Qadar tidak hanya menjadi pengalaman spiritual pribadi, tetapi juga sumber inspirasi bagi peradaban yang lebih berkeadaban dan penuh rahmat bagi seluruh alam. Semoga. Wallahu a’lam.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper