
Tiada terasa perjalanan waktu telah mengantarkan kita pada fase ketiga atau hari-hari sepuluh yang ketiga di bulan Ramadan 1447 H, yang berarti bahwa kita telah melewati sepuluh hari pertama dan kedua di bulan Ramadan, tentunya kita berharap dan memohon kepada Allah Swt. agar ibadah puasa dan segenap amaliah Ramadan lainnya yang kita kerjakan mendapat ridho dari Allah Swt.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Ramadan terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama yaitu sepuluh hari pertama Ramadan, di mana Allah membuka pintu dan mencurahkan rahmatnya, Pada fase kedua atau hari-hari sepuluh yang kedua di bulan Ramadan Allah membuka pintu ampunan yang seluas-luasnya, dan pada fase yang ketiga yaitu sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan Allah Swt. menutup atau menjauhkan dari sentuhan api neraka bagi orang-orang yang beriman dan melaksanakan ibadah puasa secara berkualitas dan mengoptimalkan segala amaliah ibadah Ramadan yang lain dengan penuh keimanan dan perhitungan hanya semata-mata mengharap ridho Allah Swt.
Oleh karena itu selain di kenal sebagai syahrul shiyam, syahrul qiyam, syahrusshabr dan syahrut tarbiyah, Ramadan juga di kenal sebagai Syahrut Taubah. Disebut sebagai Syahrut taubah karena di bulan Ramadan memang saat yang tepat untuk bertaubat. Sebaik-baik taubat adalah taubat yang di laksanakan dengan segera, tanpa menunggu dan menunda-nunda. Maka apabila kita bertaubat di bulan Ramadan ada dua keutamaan yang kita peroleh yaitu keutamaan karena Ramadan bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah dan keutamaan karena menyegerakan bertaubat.Dan bersegeralah menuju ampunan tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran:133)
Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan penuh perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘Alaih). Mengapa kita harus bertaubat?
Sudah menjadi takdir manusia sebagai mahluk sosial yang berarti bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Ketika berinteraksi antara satu dengan yang lainnya maka potensi untuk membuat kesalahan dan kehilafan ada pada diri manusia tersebut, karena manusia adalah insan yang mempunyai sifat khilaf dan lupa. Terkadang juga tanpa di sadari atau bahkan dengan sengaja setiap saat manusia bermaksiat atau berbuat dosa kepada Allah Swt. yang disebabkan dosa yang berkaitan dengan hak manusia karena interaksi dan komunikasi yang kurang baik dengan manusia yang lain dan dosa yang berkaitan dengan hak Allah Swt. karena manusia tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai bukti penghambaan diri manusia kepada Allah Swt.
Sumber Potensi Dosa
Menurut Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin menyebutkan sifat-sifat pembangkit dosa yang kemudian diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. Menurut beliau sifat pembangkit dosa ada empat hal :
Pertama, Sifat rububiyah (ketuhanan). Melalui sifat rububiyah ini muncul sikap takabur, membanggakan diri, mencintai pujian dan sanjungan, mencari popularitas, merasa paling hebat dan sifat-sifat angkuh yang lainnya. Sifat-sifat ini termasuk dosa -dosa yang merusak ,sekalipun banyak orang yang melalaikannya dan menganggap bukan dosa.
Kedua, Sifat Syaithaniyah (kesetanan). Dari sifat ini muncul rasa dengki, kesewenang-wenangan, menipu, berdusta, kemunafikan, menyuruh pada kerusakan dan lain-lain.
Ketiga, Sifat Bahamiyah (kebinatangan). Sifat bahamiyah ini memunculkan nafsu kejahatan, penuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, zina, mencuri dan lain-lain.
Keempat, Sifat Sabua’iyah (kebuasan). Dari sifat ini akan muncul amarah, dengki, menyerang orang lain, membunuh, merampas hak orang lain dan lain-lain.
Atas dasar kesadaran bahwa manusia adalah insan tempatnya khilaf dan lupa serta insan yang mempunyai empat sifat diatas yang berpotensi berbuat dosa terhadap sesama manusia dan berbuat dosa kepada Allah maka mari optimalkan bulan Ramadan ini untuk betul-betul memohon ampun atau bertaubat kepada Allah Swt.
Syarat Syarat Bertaubat
Imam An-Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin meyampaikan syarat bertaubat secara singkat dalam tiga langkah. Pertama, berhenti dari dosa yang dilakukan. Kedua, meyesali dosa yang telah dilakukan. Dan ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu. Itu Jika bertaubat terhadap dosa yang berkaitan dengan hak Allah. Sedangkan jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka syarat taubat ditambah satu lagi, yaitu membebaskan diri dari hak manusia tersebut.
Pembebasan ini tentu dengan penghalalan dari yang terzalimi atau mendapat keikhlasan darinya dengan cara memohon maaf atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Ketika kita memohon ampun atau bertaubat kepada Allah maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan Taubat Nasuha, (at-tahrim ayat 8)
Semoga Ramadan 1447 H ini menjadi momentum terbaik bagi kita untuk mengoptimalkan segala bentuk amal sholeh dan kita dapat menjaga kualitas ibadah puasa kita serta sehingga Allah SWT menganugerahkan rahmat ampunan dan surganya kepada kita. Amiin

