Mata Banua Online
Rabu, Maret 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Ilusi BoP, Waspada Penyesatan Opini Perdamaian

by Mata Banua
10 Maret 2026
in Opini
0

Oleh: Nugraha F. Andani

Gaza-Palestina masih membutuhkan perhatian kita, warga Gaza masih merasakan kesulitan hidup dalam tenda-tenda pengungsian. Kelaparan dan krisis kesehatan menjadi derita sejak Tufanul Aqsha 7 Oktober 2023. Penghancuran yang dilakukan oleh zionis Israel pun masih terus terjadi. Kementerian Kesehatan Palestina pada Minggu (22/2) mengumumkan kematian seorang remaja Palestina yang meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita setelah ditembak oleh tentara Israel di Tepi Barat bagian utara. (www.antaranews.com/23-02-2026) Kekerasan, pembunuhan dan penggusuran terus terjadi, pelakunya tidak lain adalah IDF (Israel Defense Force) atau bahkan warga sipil Israel sendiri.

Berita Lainnya

Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Digitalisasi Identitas dan Krisis Fitrah: Menelusuri Akar Masalah Sistemik di Era Modern

10 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

“HIV Bukan Sekadar Virus, Ini Alarm Kerusakan Generasi”

10 Maret 2026

Di sisi lain telah terjadi pembentukan NCAG (National Committee for the Administration of Gaza) pada Sabtu (17/1) di Istanbul. Komite ini dibentuk untuk mengakhiri ketidakadilan historis yang dialami rakyat Gaza serta meringankan penderitaan kemanusiaan. Dalam wawancara dengan media pemerintah Mesir Al-Qahera News, Ali Shaath, seorang akademisi dengan gelar doktor teknik, menegaskan bahwa ia akan menjabat sebagai ketua komite. Komite ini beranggotakan 11 tokoh nasional Palestina yang memiliki keahlian di berbagai bidang vital. (Merdeka.com/18-01-2026) Dalam pernyataan resmi di Gedung Putih pada Januari lalu, mereka menyebut NCAG sebagai implementasi Fase Dua Rencana Komprehensif untuk mengakhiri konflik Gaza. Singkatnya, NCAG ini akan menjadi pemerintahan sementara di Gaza usai tahap dua gencatan senjata di wilayah itu berjalan. NCAG juga dilaporkan akan mengawasi proses pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum dan satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata melalui proses verifikasi yang ketat. Badan ini beroperasi di bagian bawah struktur Dewan Perdamaian (BoP) yang juga dibentuk dan dipimpin Trump.

Krisis dan segala bentuk kerusakan yang terus terjadi di Gaza dan Tepi Barat ini adalah akibat ulah Israel yang sering melanggar perjanjian. Namun kita juga harus tahu bahwa Israel tidaklah berdiri sendiri, mereka didukung oleh negara yang mengaku sebagai polisi dunia pembawa perdamaian. Ini menjadi alasan utama warga Palestina meragukan dan skeptis terhadap BoP. Amerika Serikat selalu berpihak pada Israel dalam kebijakan politik dan militer, bahkanmenggunakanhak veto di PBB untuk membela Israel. Secara tidak langsung BoP akan menjadi alat untuk legitimasi etnic cleansing muslim di Palestina, genoside dan jelas untuk merampas tanah kaum muslim. Mengapa dikatakan tidak langsung karena Trump memanfaatkan penguasa negeri-negeri muslim yang bergabung di BoP untuk menjadi pelaksana BoP yang akan mewujudkan New Gaza buatan AS dan Israel. Maka jika dikatakan NCAG akan mewakili kepentingan Palestina ini adalah sebuah penyesatan opini karena NCAG adalah bagian dari BoP untuk menjalankan kepentingan AS dan Israel.

Sebagaimana yang sudah Allah sampaikan dalam QS. Al-Maidah ayat 82, bahwa orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang yahudi dan musyrik. Mereka adalah kaum yang suka berbuat kerusakan (QS. Al-Maidah ayat 64). Dari perjanjian yang sudah sering dilanggar oleh Israel umat muslim seharusnya sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yahudi dan musyrik tidak boleh dipercaya apalagi menjadikan mereka teman dekat. AS dan Israel jelas negara kafir yang bersekutu untuk menguasai dunia dengan cara penjajahan politik, penjajahan ekonomi dan menggunakan kekuatan militer. Haram bagi umat muslim untuk bergantung apalagi mendukung persekutuan dan mengambil solusi yang ditawarkan mereka.

Tugas kita sebagai umat muslim adalah sadar dan menyadarkan muslim yang lain bahwa BoP tidak bisa menjadi solusi dan pengampunan atas kejahatan AS dan Israel. Justru BoP memiliki tujuan lain, yaitu untuk memfragmentasi (memecah-belah) umat muslim agar melemahkan kekuatan umat dan mereka sedang berusaha menghalangi persatuan umat muslim.

Kesadaran umat muslim haruslah sampai pada level kesadaran politis bahwa ada pengkhianatan penguasa negeri-negeri muslim, yaitu ketika mereka memilih bersekutu dengan BoP buatan AS (Trump) dimana Israel juga menjadi salah satu anggotanya. Jika umat bersatu dan berada dalam satu komando seorang imamah (khalifah) maka akan terbangun kekuatan Islam global. Tegaknya institusi khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna akan mampu melawan penjajahan AS, Israel dan sekutunya. Kekuatan geopolitik dan militer akan tegak dengan asas ruhiyah yang kuat sehingga pasukan jihadnya adalah pasukan yang ditakuti musuh, karena tidak ada kalah dalam jihad. Jika menang mendapatkan kemuliaan jika wafat mendapatkan gelar syahid.

Wallahuwarasuluhua’lam.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper