
Oleh: Krisna Setiawan
Selama ini, kita sering melihat sosok pemimpin hanya dari riuhnya panggung organisasi atau lantangnya suara di mimbar orasi. Pandangan ini tentu tidak salah, tapi dirasa terlalu sempit jika kepemimpinan hanya diukur dari seberapa hebat manajemen acara atau seberapa mentereng SK kepengurusan yang diperoleh.
Padahal, kepemimpinan sejati jauh lebih kompleks karena melibatkan kebiasaan, lingkungan, dan konsistensi dalam menjalankan keputusan. Di beberapa asrama mahasiswa, ujian itu dimulai sejak masa orientasi yaitu tahap sebelum dinyatakan sebagai anggota resmi. Mekanisme perekrutannya terbilang cukup mirip layaknya organisasi kemahasiswaan. Namun, ada pembeda yang cukup signifikan dalam sistem orientasinya, yaitu calon warga asrama tidak memiliki tempat untuk pulang atau lari dari tanggung jawabnya dengan bebas. Tentunya, ini memberikan efek daya paksa bagi calon warga untuk menyesuaikan diri dengan sistem atau budaya asrama.
Apabila digeser ke ranah akademik, kondisi “daya paksa” ini sebenarnya berkaitan dengan Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin. Sederhananya seperti ini, perilaku kita adalah hasil benturan antara individu dan lingkungannya. Dalam konteks asrama, karena tidak ada ruang pelarian untuk menghindar, sistem yang ada otomatis berubah jadi daya pendorong (driving force) yang sangat dominan untuk beradaptasi. Lingkungan yang intens ini mau tidak mau akan menekan ego dan kebiasaan buruk individu. Alhasil, pola pikirnya terkonstruksi ulang akibat dipaksa mematikan ego pribadi demi keharmonisan bersama. Dan bukankah itu fondasi paling dasar dari kedewasaan seorang pemimpin?
Berdasarkan pengalaman penulis yang saat ini sedang tinggal di Asrama Mahasiswa Demang Lehman Universitas Lambung Mangkurat, sistem ini ada bukan untuk melemahkan atau merusak psikis maupun fisik calon warganya, melainkan menguatkan. Salah satunya dengan menanamkan nilai-nilai yang diformulasi dalam akronim SKIL (Sosialisasi, Kebersihan, Inisiatif dan Loyalitas). Nilai-nilai ini diajarkan sejak masa orientasi agar calon warga lebih siap menghadapi lingkungan yang jauh berbeda dari rumah atau zona nyaman bersama orang tua.
Mari kita bedah maknanya.
Pertama, Sosialisasi. Di asrama, sosialisasi tidak hanya sekadar menyapa senior di lorong-lorong asrama atau menyapa ketika berpas-pasan di kampus.
Melainkan soft skill yang ditanamkan sejak awal untuk meningkatkan kemampuan public speaking atau berdiplomasi. Bayangkan saja, warga asrama tidak hanya berasal dari kota yang sama, melainkan dari berbagai latar belakang daerah, budaya, dan karakter yang berbeda-beda.
Ketika di organisasi kampus interaksi mungkin hanya dilakukan ketika rapat, pelaksanaan acara, atau sekadar santai di sekretariat. Hal seperti itu tidak berlaku di asrama yang tidak memiliki sekat waktu kerja. Bagaimana jika terjadi perselisihan internal? Di organisasi kampus bisa saja saling menghindar.
Namun, di tempat tinggal satu atap seperti asrama, warganya dituntut untuk menyelesaikan perselisihan dengan kepala dingin, ini menyebabkan warga terbiasa mendengarkan dan memahami karakter manusia, yang secara tidak sadar meningkatkan kapasitas EQ (Kecerdasan emosional). Warga asrama tentu sadar bahwa kegagalan bersosialisasi akan berdampak langsung pada keharmonisan dan kenyamanan tinggalnya.
Kedua, Kebersihan. Ini berfokus pada penekanan kolektif akan kesadaran ruang layak huni, kewajiban merawat fasilitas bersama asrama setiap hari membangun nilai gotong royong dan konsistensi yang dibutuhkan seorang pemimpin. Kebersihan membiasakan seseorang peduli terhadap hal-hal kecil, karena mustahil bagi seorang pemimpin dapat membawa perubahan besar jika hal seremeh kebersihan saja gagal. Hal ini senada dengan wejangan Ki Hadjar Dewantara bahwa pemimpin sejati harus memiliki kecerdasan budi pekerti untuk menimbang setiap tindakannya. Sebelum memimpin orang lain, ia harus ‘selesai’ dengan egonya sendiri demi memastikan bahwa dirinya adalah teladan pertama dalam disiplin, bahkan untuk urusan sekecil menyapu lantai.
Ketiga, Inisiatif. Bayangkan, jika kamu dituntut untuk mengambil setiap langkah dan peran tanpa perlu disuruh setiap minggu, misalnya: Ketika melihat fasilitas asrama rusak, entah itu tandon wudhu bocor atau tumpukan piring kotor menumpuk, disinilah pola pikir pemimpin diuji: Apakah didiamkan saja atau cari solusinya? Jika mengambil langkah memperbaiki, pertimbangkan juga sumber dayanya: Mencukupi atau terbatas? Jika terbatas, ini menuntut individu untuk memutar otak dengan resources seadanya dan memaksa mengambil langkah yang solutif, langkah-langkah ini lah yang kemudian membentuk kemampuan problem solving. Dengan kata lain, pembiasaan ini membuat individu membuang pola pikir pasif dan lebih berani mengambil peran, itu adalah bentuk tertinggi dari kepekaan sosial.
Keempat, Loyalitas. Perlu diperhatikan bahwa maksud loyalitas disini bukan patuh tanpa syarat kepada individu atau senior, melainkan bakti pada komunitas atau asrama yang telah memberikan tempat tinggal serta fasilitas untuk berkembang. Contohnya: Mengamalkan sosialisasi, kebersihan, dan insiatif dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dibahas tadi di dalam lingkungan asrama bahkan di luar asrama. Karena pada hakikatnya, loyalitas adalah kesediaan individu dalam menjaga/mempertahankan keberlangsungan rumah tangga dengan kontribusi yang diberikan, bahkan dalam titik jenuh sekalipun.
Secara keseluruhan, ini tampak sejalan dengan teori Habitus dari sosiolog Pierre Bourdieu, yang menyatakan bahwa karakter dan tindakan seseorang dibentuk oleh lingkungan dan kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang hingga menjadi ‘insting’ atau sifat alami. Ini menjadi alasan kenapa mahasiswa perlu mempertimbangkan asrama sebagai tempat tinggal. Selain terjangkau, asrama adalah tempat yang paling masuk akal jika ingin memahami dan mempraktikkan secara langsung bagaimana social engineering (rekayasa sosial) maupun social control (pengendalian sosial) bekerja, terutama dalam melahirkan insan yang siap terjun dan berdampak langsung terhadap masyarakat.
Pada akhirnya, teori-teori sosiologi yang rumit itu menemukan wujud paling nyatanya di lorong-lorong asrama. Asrama Mahasiswa Demang Lehman ULM bukan sekadar kos-kosan murah atau tempat numpang tidur di sela-sela padatnya jadwal kuliah. Lebih dari itu, tempat ini adalah laboratorium sosial dan kepemimpinan yang paling jujur.
Jika organisasi kampus memberi panggung untuk tampil, rapat, dan bersuara lantang, asrama justru menarik kita ke belakang panggung. Ia memaksa kita untuk benar-benar ‘selesai’ dengan diri sendiri dalam sunyi, saat tidak ada sorot mata yang memuji. Karena, karakter pemimpin sejati itu nyatanya bukan lahir dari ketukan palu sidang atau selembar SK kepengurusan, melainkan dari rentetan kebiasaan kecil yang mendarah daging setiap harinya.

