JAKARTA – Cnter of Reform on Economics (Core) Indonesia mewanti-wanti eskalasi Amerika Serikat (AS), Israel, Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, yakni Pertalite, Solar, hingga Pertamax.
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menyebut risiko lonjakan harga minyak dunia jauh lebih berbahaya bagi perekonomian, terutama terhadap harga BBM.
Hal ini mengingat Iran merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, sehingga konflik berkepanjangan berpotensi mendorong lonjakan harga global. “Iran ini punya peran yang besar sebagai negara eksportir minyak, salah satu yang terbesar di dunia. Sementara Indonesia adalah net eksportir minyak, sehingga kenaikan harga minyak akan membawa dampak buruk secara ekonomi bagi negara-negara net eksportir seperti Indonesia,” kata Faisal.
Faisal menuturkan, saat ini harga minyak mentah jenis Brent telah bergerak di atas US$70 per barel, dari sebelumnya stabil di kisaran US$60 per barel beberapa bulan lalu.
Core memperkirakan harga bisa menembus level US$80 per barel, bahan melampaui US$100 per barel apabila penutupan Selat Hormuz berlangsung cukup lama.
Menurutnya, kondisi tersebut berisiko besar bagi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan BBM. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax yang mengikuti mekanisme pasar.
“Yang harus diantisipasi adalah kenaikan harga minyak ini, karena akan berdampak terhadap harga BBM di domestik yang juga kemungkinan akan besar terutama disubsidi, karena kalau yang tidak disubsidi sudah pasti harganya floating mengikuti harga pasar, begitu dia naik sudah pasti langsung naik,” jelasnya.
Sementara itu, untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, penyesuaian harga biasanya memiliki jeda waktu.
Namun, apabila lonjakan harga minyak bertahan laa dan signifikan, tekanan terhadap APBN akibat membengkaknya subsidi energi akan semakin besar. “Jadi kemungkinan besar yang nonsubsidi ini akan segera mengalami peningkatan, termasuk Pertamax dan lain-lain, dan yang disubsidi ini kalau nanti sampai US$100 per barrel,” jelasnya.
Berkaca pada pengalaman sebelumnya, dia menuturkan kondisi serupa biasanya berujung pada tekanan terhadap harga BBM bersubsidi di dalam negeri, seperti Pertalite dan Solar. “Kemungkinan besar biasanya kalau dari yang sudah-sudah akan ada dampaknya terhadap kenaikan harga BBM di dalam negeri yang disubsidi, yaitu Pertalite dan Solar,” tutupnya.
Dalam catatan, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor bahan bakar mineral (BBM) dari sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk yang berada di kawasan Teluk Persia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah dua negara pemasok utama bahan bakar mineral dari kawasan tersebut. bisn/mb06

