
JAKARTA – Di sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai tempat pengemasan dan distribusi, ribuan kotak hampers tersusun rapi menunggu dikirim ke berbagai kota, bahkan hingga luar negeri. Di balik tumpukan paket itu, Julius Christian Darmawan dan sepupunya, Steven Marselie, berdiri sebagai pendiri usaha camilan sehat berbasis oatmeal yang kini berkembang pesat.
Luckybite namanya. Usaha rumahan di Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, yang perjalanan tidak dimulai dengan kukis, melainkan dari kegagalan memproduksi keripik sayur. Pada awal merintis usaha, mereka bahkan telah berinvestasi membeli mesin vacuum fryer untuk memproduksi keripik sayuran seperti brokoli, okra, dan buncis.
Selama tiga bulan mereka melakukan riset dan pengembangan (R&D), namun hasilnya jauh dari harapan. Mesin yang digunakan tidak bekerja optimal dan menghasilkan produk yang tidak konsisten, kadang gosong, kadang belum matang.
“Setelah tiga bulan nggak membawakan hasil yang baik. Soalnya ternyata setelah kita tahu, mesinnya itu yang ternyata produk gagal,” ujar Julius saat berbincang dengan awak media di gudang Luckybite di Pademangan, Jakarta Utara.
Julius menyampaikan kegagalam itu memaksa mereka beralih ke produk lain yang lebih mudah diproduksi. Mereka mencoba granola bar, lalu mengembangkan oatmeal cookies sebagai produk berikutnya.
Dengan peralatan sederhana berupa oven rumah tangga, mereka melakukan eksperimen selama dua bulan hingga menemukan resep yang sesuai. Proses R&D selama dua bulan pun dijalankan guna mendapatkan hasil terbaik.
Awalnya, mereka hanya memproduksi dua varian rasa, yaitu almond dan cokelat. Seluruh proses, mulai dari produksi, pengemasan, hingga pengiriman, dilakukan sendiri karena belum memiliki karyawan.
Sejak awal, Julius dan Steven memutuskan untuk fokus pada penjualan online melalui Shopee. Mereka melihat Shopee sebagai wadah yang lebih efisien dan membutuhkan modal lebih kecil dibanding membuka toko fisik.
Steven menyebut Shopee menjadii platform utama karena memberikan kemudahan logistik, promosi, dan akses ke pasar yang lebih luas. Program promosi seperti Big Ramadhan Sale dan dukungan afiliator turut meningkatkan penjualan secara signifikan.
“Afiliator membantu sih. Kita saling membutuhkan. Mereka lumayan ngeboost penjualan, apalagi kalau live malam-malam,” ucap pria berusia 30 tahun tersebut.
Lonjakan Permintaan Jelang Lebaran
Momentum hari raya menjadi periode paling penting bagi bisnis mereka. Permintaan hampers meningkat tajam menjelang Lebaran 2026 yang berdekatan dengan Natal dan Imlek. Dalam periode tersebut, penjualan bisa meningkat brkali-kali lipat dibandingkan periode biasa. “Kenaikannya lumayan sih, bisa 100 persen dari low season biasa,” kata Steven.
Omset yang dihasilkan selama periode Lebaran bahkan mencapai ratusan juta rupiah, cukup untuk mendukung operasional dan kesejahteraan karyawan.
Luckybite menghadirkan produk hampers tersedia dalam berbagai pilihan harga, tergantung isi dan jenis kemasan. cnn/mb06

