JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan secara khusus melaporkan perkembangan inflasi pada momen Ramadan.
Berdasarkan historis lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi pada momen Ramadan dengan besaran yang berfluktuasi.
“Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 yang terjadi pada April 222 dan Ramadan 2025 yang terjadi pada Maret 2025,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, Senin .
Adapun secara umum, komoditas bergejolak serta komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi komoditas penyebab utama inflasi di setiap momen Ramadhan.
Khusus pada Februari 2026, komponen dengan andil inflasi dominan terutama pada daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, cabai merah, dan tomat.
Selain itu, salah satu komponen inflasi inti yaitu emas perhiasan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi pada tahun 2026.
Lebih lanjut, BPS mencatat secara tahunan ( y-on-y ), inflasi Februari 2026 sebesar 4,76 persen, berbanding terbalik dengan kondisi pada Februari 2025 yang mengalami deflas 0,09 persen.
BPS menjelaskan bahwa kondisi ini salah satunya disebabkan oleh adanya low-base effect, sebagaimana terjadi pada inflasi tahunan Januari 2026.
Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK.
Kebijakan tersebut tidak ditemui pada awal tahun 2026. Akibatnya, pada Februari 2026, tingkat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga sesungguhnya relatif sejalan dengan tren fundamental.
BPS mencatat terjadi inflasi sebesar 4,76 persen pada Fabruari 2025 (year on year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 3,55 persen (yoy).
Jika dilihat ke belakang, inflasi Februari jauh lebih tinggi dibandingkan Januari dan Februari 2025 yang masing-masing tercatat 0,76 persen dan 0,09 persen.
Menurut Ateng Hartono mengatakan tingkat inflasi tahunan Februari 2026 yang cukup tinggi disebabkan oleh basis pembanding yang relatif rendah (low base effect).
“Dilihat dari kelompoknya, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi 16,19 persen, dengan andil 2,26 persen,” ujar Ateng.
Kelompok pengeluaran lain yang juga mengalami inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,66 persen dengan andil 1,12 persen. Komoditasnya adalah emas dan perhiasan. Kemudian ada juga kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi sebesar 3,51 persen dan andil 1,05 persen.
Sementara itu, secara bulann (month to month/mtm) tercatat terjadi inflasi 0,68 persen. Kelompok yang memberikan andil adalah makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,54 persen dengan andil 0,45 persen. Lalu, penyumbang inflasi lainnya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,55 persen dengan andil 0,19 persen. lp6/mb06

