
BULAN suci Ramadhan bukan hanya menghadirkan kewajiban berpuasa, tetapi juga limpahan pahala yang berlipat ganda bagi setiap amal ibadah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa amalan sunah di bulan Ramadhan bernilai seperti amalan fardhu di luar Ramadhan, sementara satu amalan wajib di dalamnya diganjar pahala setara tujuh puluh amalan wajib di bulan lainnya.
Pesan ini menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya bersemangat menambah ibadah sunah, tetapi juga lebih sungguh-sungguh menjaga dan menyempurnakan kewajiban. Sayyidina Salman Radhiyallahu anhu berkata, “Pada akhir bulan Syaban, Nabi Muhammad SAW berkhutbah kepada kami.”
“Rasulullah SAW bersabda: Wahai manusia, telah dekat kepadamu bulan yang agung agi penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah SWT menjadikan puasa sebagai fardhu dan bangun malam (Sholat Tarawih) sebagai sunah.”
“Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan beramal sunnah, maka (pahalanya) seperti orang yang beramal fardhu pada bulan lain. Barangsiapa beramal fardhu di dalamnya, maka pahalanya seperti orang yang beramal tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lain.” (HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ibnu Hibban)
Dijelaskan Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah alaih dalam Kitab Fadhilah Ramadhan berkenaan dengan hal ini, kita hendaknya memikirkan keadaan ibadah kita.
Dalam bulan keberkahan ini yakni Ramadhan, hendaknya kita berpikir, sejauh manakah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan sunah.
Perhatian kita terhadap amalan fardhu saat ini, mungkin ada di antara kita meneruskan tidur setelah sahur, sehingga mengqadha sholat Subuh, setidak-tidaknya tertinggal sholat berjamaah.
Seolah-olah itu cara kita mensyukuri makan sahur. lbadah wajib yang sangat perlu diperhatikan, malah kita qadha atau paling tidak kita kurangi. Padahal, para ulama berpendapat bawa sholat tanpa berjamaah adalah suatu kekurangan.
Demikian juga dengan sholat Maghrib. Biasanya, ketika itu orang sedang sibuk berbuka puasa, sehingga sering kali banyak orang yang tertinggal rakaat pertama atau takbir pertama. Mengenai Sholat lsya, karena ingin mendapatkan fadhilah mengerjakan sholat Tarawih, banyak yang mengerjakannya sebelum waktunya.
Demikianlah amalan kita pada bulan Ramadhan. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, kita menyia-nyiakan amalan wajib lain. lnilah yang paling sering terjadi.
Sedangkan sholat Dzuhur, karena tidur sebelum Dzuhur maka kita tertinggasholat berjamaah Dzuhur. Begitu juga dengan sholat Ashar. Karena sibuk mempersiapkan makanan untuk berbuka, kita tertinggal sholat berjamaah Ashar.
Itulah yang semestinya kita pikirkan, sejauh manakah kita menunaikan kewajiban-kewajiban pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. rep/mb06

