Mata Banua Online
Rabu, Februari 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Puasa Hati

by Mata Banua
24 Februari 2026
in Ramadhan
0

 

Oleh: Mukhyar Sani

NABI Muhammad saw. ber­sabda “Puasa itu tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari perkataan otor dan caci maki.” Maksudnya apa? Masa orang yang menahan lapar dan haus berhari-hari kemudian ia tidak mendapat apa-apa dari puasanya, lalu dimana kasih sayang Tuhan.

Berita Lainnya

Sunah Diganjar Setara Fardhu

Sunah Diganjar Setara Fardhu

24 Februari 2026
Masjid ‘Si Pitung’, Marunda Berdiri Sejak Ratusan Tahun

Masjid ‘Si Pitung’, Marunda Berdiri Sejak Ratusan Tahun

24 Februari 2026

Hadits ini tidak salah, bahkan sangat baik untuk diperhatikan pesannya. Orang yang puasa itu harus mempuasa­kan juga lidahnya, telinga, tangan, kakinya dan anggota tubuh yang lainnya dari perbuatan terlarang. Dosa bisa ersumber dari mulut, kaki, tangan, telinga, bahkan hati. Siapa yang berdusta, ya mulut, dengan apa mengambil milik orang, ya dengan tangan, dengan apa seseorang mendengar kata-kata kotor, ya dengan telinga; demikian juga anggota tubuh yang lainnya.

Kalau hanya menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, ini namanya puasa “awwam” puasa mayoritas orang. Nabi bersabda “Banyak oranyang berpuasa Ramadhan tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga.”

Ada juga orang yang berpuasa; mulutnya ikut berpuasa, telinga, tangan, kakinya dan semua anggota tubuhnya juga demikian. Semua anggota tubuh dikendalikannya dari perkataan dan perbuatan yang berpotensi mendatangkan dosa. Dari berdusta, mendengar yang bukan-bukan, berjalan ke tempat yang tiak baik, namun hatinya masih memikirkan yang tidak dibenarkan agama. Kelompok ini lebih baik dari yang pertama, yang “awwam; mereka ini disebut kelompok “khawwash” namanya.

Ada pilihan yang lebih baik bagi seseorang yang berpuasa yaitu puasa hati. Bagaimana orang hatinya puasa? Mulut, tangan, kaki,telinga dan segala anggota tubuhnya dipeliharanya dari segala yang terlarang, bahkan htinya pun ikut berpuasa dari memikirkan hal-hal yang bernuansa keduniawian. Tidak berdusta, tidak mendengarkan yang tidak baik, tidak mengambil yang terlarang, dan lain-lain. Yang kaya begini disebut puasa “khawwash al-khawwash. Siapa saja yang bisa puasa seperti ini? Ini adalah puasanya para Nabi, shiddiqin, para wali, dan orang-orang yang sangat dekat kepada Allah.

Dengan mengetahui maqam orang-orang yang berpuasa sebagaimana tersebut di atas, masing-masing kita dapat mengevaluasi pada maqam mana kita berada; apakah setelah berumur umpamanya, puasa kita masih berada pada posisi “awwam,” khawwash” atau sudah pada posisi tertinggi “khawwashul khawwash” kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Banyak pertanyaan terkait maqam puasa ini; umpamanya apakah ketika berpuas tangan, kaki, telinga, hati dan pikiran kita ikut berpuasa, apakah ketika itu mulut dan mata kita ikut berpusa. Ada yang berkata “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Mungkin yang dimaksud adalah puasanya orang-orang tertentu seperti para Nabi dan rasul, mereka yang kuat imannya, yang benar-benar shaleh; hati mereka ikut berpuasa. Semoga bermanfaat. (*)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper