JAKARTA – Ketersediaan minyak goreng nasional selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 dipastikan dalam kondisi aman. Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo menyatakan telah meningkatkan produksi crude palm oil (CPO) dan minyak goreng ritel guna mengantisipasi lonjakan konsumsi musiman.
Direktur Utama PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan, pola kenaikan permintaan menjelang hari besar keagmaan sudah dipetakan sejak awal tahun. Perusahaan, kata dia, mengeksekusi skenario peningkatan produksi lebih dini untuk mencegah gangguan pasokan dan tekanan harga di pasar.
“Kami memahami tren permintaan selalu meningkat jauh sebelum Ramadhan. Karena itu, peningkatan produksi sudah dirancang sejak awal tahun. Stok bahan baku dalam kondisi aman untuk meenuhi kebutuhan domestik,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin.
Data perusahaan menunjukkan produksi CPO Januari 2026 menembus lebih dari 200 ribu ton atau melampaui target bulanan. Untuk periode puncak konsumsi pada Maret-April, PalmCo menargetkan produksi meningkat lebih dri 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton pada April.
Kenaikan produksi ini dinilai penting untuk enjaga stabilitas harga minyak goreng, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap bergejolak menjelang Ramadhan akibat lonjakan permintaan rumah tangga dan distribusi antarwilayah.
Di sektor hilir, anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Letari (INL), turut menaikkan produksi minyak goreng ritel. Target produksi pada Maret dipatok sekitar 4,2 juta liter dan kembali dinaikkan sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.
Pelaksana Tugas Direktur INL Drwin Hasibuan menyatakan seluruh kapasitas produksi sementara difokuskan pada merek program pemerintah, Minyak Kita. Produksi sejumlah merek komersial ditunda guna memastikan pasokan minyak goreng bersubsidi tersedia luas di pasar.
“Seluruh jaur distribusi dan kapasitas produksi kami dedikasikan penuh untuk Minyak Kita agar pasokan di pasar melimpah dan harga tetap terjangkau,” ujar Darwin.
Minyak Kita merupakan merek minyak goreng sederhana yang didistribusikan dengan harga eceran tertinggiyang telah ditetapkan pemerintah. Fokus pada merek ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat selama Ramadhan.
Selain peningkatan volume produksi, PalmCo mengklaim tetap menjaga standar keberlanjutan. Dari 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, 67 pabrik atau 94,36 persen telah tersertifikasi Roundtable n Sustainable Palm Oil (RSPO), sementara 68 pabrik atau 95,77 persen mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Perusahaan juga memperkuat sistem keterlacakan bahan baku melalui integrasi data kebun dan pabrik di sejumlah unit produksi, sehingga asal-usul tandan buah segar dapat ditesuri hingga sumbernya. rep/mb06
Stok Minyak Goreng Dijanjikan Aman
JAKARTA – Ketersediaan minyak goreng nasional selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 dipastikan dalam kondisi aman. Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo menyatakan telah meningkatkan produksi crude palm oil (CPO) dan minyak goreng ritel guna mengantisipasi lonjakan konsumsi musiman.
Direktur Utama PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan, pola kenaikan permintaan menjelang hari besar keagmaan sudah dipetakan sejak awal tahun. Perusahaan, kata dia, mengeksekusi skenario peningkatan produksi lebih dini untuk mencegah gangguan pasokan dan tekanan harga di pasar.
“Kami memahami tren permintaan selalu meningkat jauh sebelum Ramadhan. Karena itu, peningkatan produksi sudah dirancang sejak awal tahun. Stok bahan baku dalam kondisi aman untuk meenuhi kebutuhan domestik,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin.
Data perusahaan menunjukkan produksi CPO Januari 2026 menembus lebih dari 200 ribu ton atau melampaui target bulanan. Untuk periode puncak konsumsi pada Maret-April, PalmCo menargetkan produksi meningkat lebih dri 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton pada April.
Kenaikan produksi ini dinilai penting untuk enjaga stabilitas harga minyak goreng, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap bergejolak menjelang Ramadhan akibat lonjakan permintaan rumah tangga dan distribusi antarwilayah.
Di sektor hilir, anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Letari (INL), turut menaikkan produksi minyak goreng ritel. Target produksi pada Maret dipatok sekitar 4,2 juta liter dan kembali dinaikkan sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.
Pelaksana Tugas Direktur INL Drwin Hasibuan menyatakan seluruh kapasitas produksi sementara difokuskan pada merek program pemerintah, Minyak Kita. Produksi sejumlah merek komersial ditunda guna memastikan pasokan minyak goreng bersubsidi tersedia luas di pasar.
“Seluruh jaur distribusi dan kapasitas produksi kami dedikasikan penuh untuk Minyak Kita agar pasokan di pasar melimpah dan harga tetap terjangkau,” ujar Darwin.
Minyak Kita merupakan merek minyak goreng sederhana yang didistribusikan dengan harga eceran tertinggiyang telah ditetapkan pemerintah. Fokus pada merek ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat selama Ramadhan.
Selain peningkatan volume produksi, PalmCo mengklaim tetap menjaga standar keberlanjutan. Dari 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, 67 pabrik atau 94,36 persen telah tersertifikasi Roundtable n Sustainable Palm Oil (RSPO), sementara 68 pabrik atau 95,77 persen mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Perusahaan juga memperkuat sistem keterlacakan bahan baku melalui integrasi data kebun dan pabrik di sejumlah unit produksi, sehingga asal-usul tandan buah segar dapat ditesuri hingga sumbernya. rep/mb06

