
Kita tidak pernah membayangkan kelak di masa depan akan terjadi hujan plastik. Karena yang demikian ini nampaknya mustahil. Namun, dalam serial “The War Between the Land and the Sea”yang baru dirilis pada Desember thun ini (2025), fenomena hujan plastik ini terjadi. Serial ini, yang merupakan spin-off terbaru dari semesta Doctor Who (Whoniverse), menceritakan ketegangan dan konflik yang intensif antara manusia dengan “Homo Aqua”––salah satu spesies homo (manusia) yang berhabitat di laut.
Secara garis besar, serial karya Russell T Davies ini menceritakan ketidakharmonisan antara mausia dan alam. Bahwa sejak kemunculanya di muka bumi, manusia selalu membuat kerusakan lingkungan di sana sini. Di mana ada manusia, di situlah lingkungan terancam mengalami krisis. Kerusakan lingkungan itu selalu disebut sebagai “proyek” atas nama “kebutuhan”. Padahal mereka tidak benar-benar membutuhkan jutaan ton minyak bumi atau batu bara, mereka hanya gila.
Antara Perang dan Damai
Homo Aqua, sebagai ras yang telah mendiami bumi jauh sebelum manusia ada, melihat segala kerusakan lingkungan dan habitat laut disebabkan ulah tangan manusia. Dengan kata lain, manusia terus menerus mengeksploitasi laut dan mencemarinya tanpa mempertimbangkan nasib spesies-spesies flora dan fauna yang hidup didalamnya.
Namun, disisi lain, manusia merasa perlu untuk terus menerus mengeksplorasi potensi-potensi sumber daya laut demi kemajuan teknologi dan industri. Sikap egosentris manusia inilah melahirkan krisis dan konflik, alih-alih memperoleh keberhasilan dalam proyek pembangungan yang berkelanjutan.
Ketegangan antara keduanya memuncak ketika salah satu Homo Aqua terbunuh oleh UNIT (United Nations Intelligence Taskforce)––organisasi militer dan ilmiah rahasia internasional yang bertugas menyelidiki serta melawan ancaman luar angkasa (alien) dan segala ancaman yang mengancam Bumi. Peristiwa ini membuahkan konfrontasi antara kedua ras ini.
Ketika Homo Aqua berdiri di bibir pantai, dekat pangkalan UNIT, sebagai respon atas kematian temannya dan menuntut pertanggungjawaban dari UNIT, kolonel Ibrahim (perwira militer yang bertanggung jawab atas operasi taktis dan memimpin tentara UNIT dalam pertempuran fisik melawan pasukan dari laut) segera menghampirinya dan mencoba mendinginkan suasana dan meminta maaf kepada Homo Aqua. Namun, Homo Aqua tak langsung menerima permohonan maaf itu. Homo Aqua meminta agar diadakan kongres diplomasi antara ras manusia dan Homo Aqua. Kolonel Ibrahim mengamininya.
Singkat cerita, kongres diplomasi pertama diadakan di daratan, tepatnya di London, yang dihadiri oleh sekian banyak peserta dari ras manusia dan Homo Aqua.
Diplomat yang ditunjuk sebagai “duta besar manusia” adalah Jonathan Hynes. Namun ketika ia membacakan naskas diplomasi, Salt (Perwakilan dari ras Homo Aqua) menolaknya. Salt melihat kemunafikan dan ketidakjujuran pada diri Hynes. Salt menuntut agar “duta besar manusia” ia yang menentukan. Lalu, Salt menunjuk Barclay Pierre-Dupont, yang merupakan anggota UNIT tingkat rendah yang hadir pada kongres itu, sebagai “duta besar manusia.”
Salt menunjuk Barclay bukan tanpa alasan. Salt melihat sisi kemanusiaan dan jiwa welas asih dalam diri Barcly ketika Salt menyaksikan Barcly memberi penghormatan kedapa jasad Homo Aqua yang terbunuh oleh UNIT. Namun, alih-alih mengamini analisis Salt atas dirinya, Barcly justru tidak merasa demikian. Ia mengaku melakukan gerakan “Signum Crucis” ketika dihadapan jasad Homo Aqua ituspontanitas belaka. Betapapun demikian, Salt tetap melihat integritas dan ketulusan Barcly. Hingga pada akhirnya Barcly dinobatkan sebagai “duta besar manusia.”
Para hadirin yang hadir pada saat itu sontak kaget dan sempat meminta ke Salt agar “duta besar manusia” dipilih oleh para pemimpin negara dan para politikus. Namun Salt menolaknya. Situasi pada saat itu sangat mengangkan karena ribuan Homo Aqua telah memenuhi seisi kota London dan besiap mengobrak-abrik daratan jika negosiasi ini gagal.
Kongres pertama ini tidak menghasilkan titik terang apapun kecuali masalah baru: Barcly, yang tidak tahu-menahu soal diplomasi, besok akan berbicara atas nama “ras manusia”. Dengan kata lain, nasib ras manusia ada di tangannya.
Barcly segera dihampiri Kate Lethbridge-Stewart (pemimpin tertinggi UNIT) guna memberi pengarahan terkait teknis konkres ke-2. Kate meminta Barcly agar mematuhi SOP yang telah ditetapkan oleh panitia kongres dan UNIT. Ketika kongres dimulai, ia tidak diperkenankan berbicara kecuali membaca naskah yang telah disediakan oleh UNIT dilayar monitor.
Kejujuran Barcly: Manusia adalah Makhluk Serakah
Konkres ke-2 G20 akan segera dimulai, gedung The Gherkin (sebuah gedung pencakar langit berbentuk unik yang sangat ikonik di pusat kota London) telah dipenuhi oleh para pejabat, politikus, pelaku industri, dan wartawan. Selang tidak lama, Salt dan pasukan Homo Aqua muncul dari perairan. Barcly berjalan menuju mimbar untuk membacakan naskas diplomasi.
Tanpa basa-basi, ketika Barcly selesai membacakan naskah diplomasi, Salt segera melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis dan tajam terkait polusi dan kerusakan yang terjadi di lautan. Salt mempertanyakan solusi apa yang ditawarkan manusia terkait rusaknya habitat laut. Barcly lantas menjawab pertanyaan Salt dengan tetap membaca naskah yang disediakan panitia.
Namun, Barcly benar-benar gerah dengan situasi ini, di mana ia tidak bisa menjawab dengan penuh kejujuran dan otoritas atas dirinya. Ketika Salt melontarkan pertanyaan, “kenapa, dalam proyek-proyek yang kalian buat, nasib kami dan spesies-spesies lain yang tinggal dilaut tidak kalian pikirkan? Kenapa kalian begitu serakah dan gila?”
Mendengar pertanyaan Salt ini, batin Barcly bergemuruh. Ia tidak bisa memendam rasa itu. Ia lantas menjawab pertanyaan Salt dengan tanpa didekte oleh panitia melalui monitor, “Iya. Benar. Kami manusia memang serakah dan gila. Kami tak mengenal rasa cukup. Semua kegaduhan dan kerusakan di bumi adalah murni karena keserakahan dan kegilan kami. Kami mohon maaf.”
Manusia yang tidak Manusiawi
Setelah mendengar jawaban Barcly, Salt tersenyum dan berkata, “nampaknya baru kali ini aku meihat manusia yang benar-benar manusiawi.” Pada titik ini, ketika mendengar ucapan Salt ini, saya mulai berpikir bahwa kita, manusia, memang telah kehilangan sepersekian persen, atau bahkan keseluruhan, dari sisi manusiawi kita, yakni sisi welas asih terhadap sesama makhluk hidup di bumi.
Setalah Barcly berkata bahwa ras manusia akan berkomitmen untuk membersihkan lautan dari sampah dan puolusi yang mereka produksi. Salt seketika mengangkat tangan. Tak selang lama langit mendung dan perlahan lautan memuntahkan jutaan plastik dan dibawa angin menuju kota-kota diseluruh dunia. Seketika bumi mengalami fenomena yang belum pernah terjadi: hujan plastik.
Barcly memita Salt untuk mengentikan badai badai plastik itu. “Bukankah kalian, ras manusia, akan berkomitmen untuk membersihkan laut kami?” ujar Salt. Mendengar ucapan Salt, Barcly hanya terdiam.
Antara Hujan Plastik dan Banjir Kayu
Peristiwa hujan plastik dalam serial “The War Between the Land and the Sea”memang murni fiksi belaka. Siklus Hidrologi tidak mungkin menyertakan sampah plastik. Namun, belakangan kita menyaksikan banjir “kayu” yang terjadi di Aceh dan Sumatera, fenomena yang hampir mirip dengan yang terjadi dalam “The War Between the Land and the Sea”.
Diplomasi antar spesies yang terjadi di serial itu juga mustahil terjadi. Namun, setidaknya kita bisa memahami betapa sengsaranya mereka. Habitat dan rumah mereka hancur. Mereka harus mencari rumah baru, itu pun hanya sementara karena di tahun-tahun yang akan datang, eskalator akan memenuhi rumah mereka. Belum lagi rantai makanan yang makin hari makin kacau. Seperti persoalan, biomagnifikasi, mikroplastik, asidifikasi laut, dan masih banyak lagi, yang membut banyak flora dan fauna terancam eksistensinya.
Lalu, pertanyaannya: sampai kapan kita, manusia, mengabaikan nasib saudara-suadara kita yang ada di laut, hutan, dan gunung? Apakah egoisme kita, yang selalu menyembunyikan keserakahan dibalaik kata “kebutuhan” akan terus kita lestarikan? Ingat, kita tidak bisa hidup tanpa mereka. Kita tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan segala bentuk produk dari teknologi dan industri yang kotor. Kita butuh kesucian alam, bukan alam yang diperkosa dengan besi-besi berkarat.

