
BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin melepas delegasi tenaga kerja dan penerima beasiswa Kaikoukai Healthcare Corporation ke Jepang tahun 2026.
Sebanyak 15 orang delegasi tenaga kerja dan penerima beasiswa angkatan ke-4 tersebut dilepas secara resmi oleh Wakil Walikota Hj Ananda didampingi Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ikhsan Budiman, sejumlah Kepala SKPD serta jajaran terkait di Aula Balaikota Banjarmasin, Rabu.
Wakil Walikota Banjarmasin Hj Ananda menyatakan, delegasi ini juga diamanahkan sebagai Duta Budaya Banjar di Jepang, membawa identitas dan nilai budaya daerah selama menjalani masa kerja di Negeri Sakura.
Dia menyampaikan rasa syukur atas keberlanjutan program kerja sama tersebut yang kini telah memasuki batch keempat.
“Kami bersyukur bahwa tenaga kerja dari Kota Banjarmasin, walaupun tidak semuanya dari Kota Banjarmasin, kalau secara riil dari Kota Banjarmasin ada dua orang dan dari Kalimantan Selatan ada beberapa, tetapi pusat pelatihannya ada di Kota Banjarmasin dan ini sudah batch keempat,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa meskipun ini merupakan pengiriman terakhir untuk skema saat ini, Pemerintah Kota Banjarmasin berharap kerja sama tidak berhenti sampai di sini.
“Walaupun ini adalah pengiriman yang terakhir, kami berharap tidak terhenti sampai di sini karena manfaatnya sangat besar. Kita sudah merasakan testimoni dari generasi muda yang bekerja di sana, mereka mendapatkan pendapatan yang layak, kehidupan yang layak, dan keluarganya di sini juga merasakannya,” jelasnya.
Ananda menambahkan bahwa Pemkot Banjarmasin akan terus berupaya menjajaki peluang kerja sama baru di bidang ketenagakerjaan.
“Kami akan terus menindaklanjuti apakah ada kerja sama lain di bidang tenaga kerja,” bebernya.
Sementara itu, Koordinator Pelaksana Kerja Sama Machli Riyadi menjelaskan bahwa secara keseluruhan program ini telah memberangkatkan lebih dari 60 orang dari angkatan 1 hingga 4 ini.
“Hari ini kita melepas 15 orang untuk batch keempat, dan secara keseluruhan sudah lebih dari 60 orang. Ini adalah buah dari kerja sama yang dirintis sejak dulu,” katanya.
Dia menerangkan bahwa sebelum diberangkatkan, para peserta menjalani pendidikan bahasa dan budaya Jepang selama kurang lebih satu tahun, termasuk penguatan budaya Banjar sebagai identitas mereka.
“Seluruh pembiayaan, mulai dari pembelajaran bahasa Jepang, tiket ke Jakarta, ujian bahasa Jepang, sampai keberangkatan ke Jepang, semuanya dibiayai oleh Kaikoukai Healthcare Group. Pemerintah hanya memfasilitasi dan memastikan penjaminan mutunya,” jelas Machli.
Menurut dia, konsep kerja sama ini menjadi satu-satunya di Indonesia dengan skema Government to Business (G-to-B), di mana pemerintah langsung bekerja sama dengan pelaku usaha di Jepang.
“Keunggulannya adalah pembiayaan tidak keluar dari pemerintah sepeser pun. Kita merekrut, menyeleksi, dan menyiapkan sistem bersama mereka, sementara seluruh pembiayaan ditanggung oleh pihak Jepang,” ujarnya.
Machli juga menyampaikan bahwa setiap peserta memiliki kontrak kerja selama lima tahun. Berdasarkan hasil pemantauan dan advokasi langsung di Jepang, sebagian besar peserta angkatan sebelumnya merasa betah dan ingin melanjutkan kerja sama.
“Kontraknya lima tahun setiap angkatan. Dan mereka yang sudah bekerja di sana cenderung ingin tetap tinggal di sana, bahkan ingin memperpanjang kerja samanya. Ada yang ingin mengajak orang tuanya ke Jepang,” ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa kerja sama ini tidak benar-benar berakhir, melainkan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan dari pihak Jepang.
“Bukan berarti kerja sama berakhir, tetapi untuk pengiriman tenaga perawat di tahun 2026 ini sementara disesuaikan dengan kebijakan mereka. Tidak menutup kemungkinan untuk tenaga profesional lainnya,” pungkasnya. ant

