
“Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
— Ki Hajar Dewantara
Arah kebijakan pendidikan nasional dalam beberapa tahun terakhir kerap menegaskan pentingnya pembentukan karakter, nilai kemanusiaan, dan pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik. Namun, pada praktiknya justru memperlihatkan paradoks yang mengusik. Sekolah tampak tertib, seragam rapi, dan aturan ditegakkan dengan disiplin. Akan tetapi, persoalan etika, empati, dan relasi sosial antarmurid sering kali berada di ambang jurang kekhawatiran.
Rambut (tampak) gondrong pada anak laki-laki menjadisebuah pelanggaran serius. Kaos kaki harus hitam, ikat pinggang tak boleh salah warna, sepatu mesti seragam, topi harus dipakai, dan seterusnya. Aturan fisik dan tampak mata dijalankan dengan konsisten, bahkan disertai sanksi yang tegas. Sebaliknya, perilaku perundungan verbal, ejekan fisik, atau sikap merendahkan sesama kerap disikapi ringan, dianggap sekadar ‘dinamika anak-anak’ dengan pemakluman.
Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: apakah sekolah sedang mendidik manusia, atau sekadar menertibkan tubuh?
Prestasi Akademik sebagai Penutup Masalah Etika
Di banyak satuan pendidikan, prestasi akademik masih menjadi tolok ukur utama keberhasilan murid. Nilai tinggi dan deretan tropikejuaraan sering kali dipahami sebagai penanda bahwa seorang murid tidak memiliki persoalan. Ketika muncul perilaku tidak etis semacam mem-bully, mengejek, atau merendahkan teman, respons sekolah cenderung lunak dan kurang responsif. Prestasi akademik seolah-olah menjadi penutup persoalan etika.
Sebaliknya, murid dengan capaian akademik yang biasa, meskipun menunjukkan sikap empati, menghargai perbedaan, dan mampu bekerja sama, kerap luput dari perhatian. Orientasi semacam ini mencerminkan kekeliruan mendasar: kecerdasan kognitif ditempatkan jauh di atas kecerdasan sosial dan moral.
Jika pola ini terus berlangsung, sekolah berisiko melahirkan generasi yang unggul dalam angka dan peringkat, tetapi rapuh dalam relasi sosial. Anak-anak terbiasa dilatih berkompetisi, tetapi tidak terbiasa dituntun untuk memahami perasaan, martabat, dan batasan sesama.
Keteladanan yang Absen di Tengah Aturan
Sebanyak apa pun aturan atau tata tertib, karakter tidak tumbuh dari tata tertib semata. Ketertiban dan sikap baik di sekolah bukan sekadar hasil regulasi, melainkan cerminan dari keteladanan orang dewasa yang hadir di dalamnya.
Guru memegang peran kunci sebagai figur nyata yang dilihat dan ditiru setiap hari. Guru yang adil, konsisten, berani menegur perilaku tidak etis tanpa pandang prestasi, serta menunjukkan empati dalam tutur dan laku, sesungguhnya sedang menjalankan pendidikan karakter dalam bentuk paling konkrit. Sudahkah guru menjadi teladan?
Namun, keteladanan guru tidak dapat berdiri sendiri.Anak-anak hidup dalam ekosistem sosial yang lebih luas. Apa yang mereka saksikan di rumah, di masyarakat, dan di ruang publik—termasuk tingkah polah para pejabat negara—menjadi pelajaran tak tertulis yang sama kuatnya dengan pembelajaran di kelas. Ketika sekolah berbicara tentang nilai dan adab, tetapi ruang publik mempertontonkan kekerasan verbal, ketidakadilan, penindasan, dan krisis integritas, pesan pendidikan kehilangan konsistensi dan daya hidupnya.
Menata Ulang Arah Pendidikan Menuju 2045
Indonesia menatap 2045 dengan optimisme besar. Bonus demografi diproyeksikan menjadi modal utama menuju Indonesia Emas. Namun, optimisme itu tidak akan bermakna jika pendidikan terjebak pada ketertiban simbolik dan melupakan pembinaan etika.
Sekolah perlu berani menata ulang orientasi. Aturan fisik boleh tetap ada, tetapi tidak boleh menjadi pusat perhatian utama. Pembinaan empati, sikap saling menghargai, keberanian berpikir kritis, dan etos hidup beradab harus mendapatkan porsi yang nyata dan terukur dalam kehidupan sekolah.
Pemimpin sekolah memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai dan prestasi, tetapi juga dari kualitas relasi antarmurid dan iklim kemanusiaan di sekolah. Guru perlu didukung untuk menjalankan perannya sebagai pendidik nilai(value), bukan sekadar pengajar materi(content). Pendidikan karakter harus dipahami sebagai proses panjang yang menuntut konsistensi dan keteladanan lintas ruang dan sektor yaitu sekolah, rumah, masyarakat, dan negara.
Simpulan
Mengatur rambut, seragam, dan atribut mungkin menciptakan ketertiban lahiriah. Namun, menata empati, etika, dan kepekaan sosial adalah inti pendidikan yang sesungguhnya. Jika sekolah terus sibuk menertibkan tetapi lupa mendidik, maka harapan menuju Indonesia Emas 2045 berisiko berubah menjadi kecemasan kolektif. Pendidikan, sebagaimana diingatkan Ki Hajar Dewantara, seharusnya menuntun manusia agar tumbuh utuh yaitu cerdas pikirannya, halus perasaannya, dan lurus tindakannya. []

