
BANJARMASIN – Lapas Kelas IIA Banjarmasin menggelar skrining atau pemeriksaan kesehatan massal bagi 220 warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan 30 petugas untuk mendeteksi dini penyakit tidak menular, Rabu (11/2).
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah mengatakan, kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Puskesmas Pelambuan, dan Puskesmas Banjarmasin Indah.
“Ratusan warga binaan dan puluhan petugas mengikuti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, dan asam urat, yang di awasi tenaga medis profesional,” ucapnya.
Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan bukti nyata komitmen lapas dalam menjaga hak dasar kesehatan warga binaan dan petugas.
“Kesehatan adalah fondasi utama dalam pembinaan. Dengan skrining ini, warga binaan dan petugas mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini, sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” jelasnya.
Petugas kesehatan dr Yayuk menyampaikan, deteksi dini menjadi kunci pengendalian penyakit tidak menular agar warga binaan dan petugas dapat mengatur pola hidup lebih sehat, dan menekan angka penyakit secara maksimal.
Selain pemeriksaan, lanjut dia, petugas memberikan edukasi gaya hidup sehat termasuk olahraga ringan, konsumsi makanan bergizi, dan pengelolaan stres. Tenaga medis juga memberikan arahan praktis agar warga binaan dan petugas bisa menjaga kesehatan secara mandiri.
Sementara, salah satu warga binaan mengaku bersyukur bisa mengikuti kegiatan tersebut, sehingga mengetahui kondisi tubuh sejak dini agar lebih waspada dan bisa menjaga diri.
Melalui skrining kesehatan, Lapas Banjarmasin menegaskan pembinaan tidak hanya soal disiplin dan pendidikan, tetapi juga kesehatan fisik dan mental guna memberi manfaat jangka panjang bagi warga binaan maupun petugas.
“Perhatian terhadap kesehatan tetap menjadi prioritas, karena pembinaan yang efektif lahir dari tubuh yang sehat dan kesadaran merawat diri sejak awal, sehingga tujuan pemasyarakatan dapat tercapai secara optimal,” pungkasnya. ant

