
SURABAYA – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menyebutkan enam upaya penguatan yang diperlukan dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan ekonomi wilayah setempat.”Ini yang kita yakini bisa memberikan dukungan bagi perkiraan pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9 sampai 5,7 persen,” katanya dalam Media Briefing di Surabaya, Senin.
Upaya penguatan pertama adalah mempercepat hilirisasi sektor unggulan dan membangun simpul logistik, seperti terhadap industri pengolahan, pertanian-perkebunan, dan perdagangan.”Hal itu perlu dilakukan lantaran sektor-sektor ini ditopang oleh posisi Jatim sebagai lumbung pangan nasional, pusat manufaktur utama di Indonesia Timur, dan pusat perdagangan strategis,” ujarnya.
Upaya kedua adalah menguatkan struktur ekspor melalui diversifikasi produk dan pasar serta hilirisasi komoditas utama.Selanjutnya yang ketiga adalah mendorong agroindustri hulu dan hilir dengan memastikan keterkaitan sektor.Upaya keempat adalah mengendalikan inflasi pangan melalui strategi penguatan ketahanan pasokan pangan terpadu.
Menurut dia, pengendalian inflasi pangan akan terwujud melalui adanya koordinasi yang erat dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.Berikutnya upaya kelima, meningkatkan daya saing wilayah melalui penguatan infrastruktur, kemitraan, dan tenaga kerja.
Terakhir, kata Ibrahim, memperkuat kelembagaan ekonomi daerah melalui optimalisasi Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).Ia mengatakan pihaknya memprediksikan ekonomi Jawa Timur pada tahun ini akan tumbuh solid dan kuat di rentang antara 4,9 persen hingga 5,7 persen (year-on-year/yoy) pada 2026.Sementara untuk prospek inflasi Jawa Timur tahun ini, Ibrahim memperkirakan akan tetap terkendali di rentang sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen.ant/rds

