
Kebersihan bukan sekadar persoalan estetika atau kebiasaan personal, melainkan fondasi penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dalam banyak tradisi, termasuk ajaran Islam, kebersihan ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Ungkapan populer bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman bukan sekadar slogan moral, tetapi mengandung pesan mendalam bahwa hidup bersih adalah prasyarat bagi kehidupan yang sehat, tertib, dan bermartabat. Tidak mengherankan jika dalam khazanah keilmuan Islam, pembahasan mengenai kesucian dan kebersihan (taharah) selalu menjadi pintu masuk dalam kajian ibadah.
Namun, nilai luhur tersebut sering kali berhenti pada tataran wacana. Dalam praktik sehari-hari, kesadaran hidup bersih dan sehat masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama di masyarakat perkotaan yang padat maupun di wilayah permukiman dengan keterbatasan sarana. Padahal, kebersihan merupakan kebutuhan universal yang tidak mengenal batas agama, usia, atau latar belakang sosial. Lingkungan yang bersih menciptakan rasa aman, nyaman, dan mendukung kualitas hidup setiap individu yang tinggal di dalamnya.
Sebaliknya, lingkungan yang kotor akan dengan mudah menjadi sumber masalah. Sampah yang menumpuk, saluran air yang tersumbat, serta genangan air yang dibiarkan berlarut-larut merupakan undangan terbuka bagi berbagai penyakit. Kasus demam berdarah, infeksi saluran pencernaan, hingga masalah kesehatan kronis seperti stunting pada anak, sering kali berakar dari lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya. Penyakit-penyakit tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai akumulasi dari kelalaian kolektif dalam menjaga kebersihan.
Kesadaran akan kebersihan sejatinya berawal dari diri sendiri. Kebersihan personal mencerminkan sikap seseorang terhadap hidup dan lingkungannya. Kebiasaan sederhana seperti mandi secara teratur, mengenakan pakaian bersih, mencuci tangan sebelum makan, serta menjaga kebersihan tempat tinggal merupakan bentuk tanggung jawab personal yang berdampak luas. Orang yang abai terhadap kebersihan dirinya cenderung sulit diharapkan memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan di sekitarnya.
Dari individu, kesadaran itu semestinya meluas ke lingkup keluarga. Rumah adalah sekolah pertama bagi pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat. Setiap anggota keluarga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan rumah yang bersih, sehat, dan aman. Sayangnya, ketika keluar dari lingkup rumah, banyak orang justru melepaskan tanggung jawabnya. Fenomena membuang sampah sembarangan, meski tampak sepele seperti membuang bungkus permen di jalan, sesungguhnya memiliki efek domino. Satu tindakan kecil dapat memicu pembiaran kolektif yang pada akhirnya menjadikan ruang publik kotor dan tidak layak.
Data kesehatan menunjukkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kebersihan lingkungan masih memprihatinkan. Riset Kementerian Kesehatan beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat belum merata. Angka ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas dan teknologi, tetapi sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.
Sering kali, tanggung jawab kebersihan diserahkan sepenuhnya kepada petugas kebersihan. Padahal, keberadaan mereka sejatinya bersifat membantu, bukan menggantikan peran masyarakat. Lingkungan yang bersih tidak akan tercipta jika kesadaran warganya rendah, seberapa pun banyaknya petugas yang dikerahkan. Di sinilah letak persoalan mendasar: kebersihan belum sepenuhnya dipahami sebagai kebutuhan bersama, melainkan masih dianggap sebagai urusan pihak lain.
Dampak dari rendahnya kesadaran ini tidak hanya dirasakan dalam bentuk penyakit, tetapi juga bencana lingkungan. Banjir yang kerap melanda berbagai daerah, misalnya, tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi. Sampah yang dibuang ke sungai dan saluran air memperparah situasi dengan menghambat aliran air. Ketika banjir datang, kerugian sosial, ekonomi, dan kesehatan pun tak terelakkan. Ironisnya, bencana tersebut sering kali merupakan buah dari perilaku manusia sendiri.
Nikmat Kesehatan
Kesadaran menjaga kebersihan sejatinya juga berkaitan erat dengan rasa syukur atas nikmat kesehatan. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya tubuh yang sehat ketika sakit datang menghampiri. Padahal, kesehatan dapat dijaga melalui langkah-langkah sederhana: berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, serta hidup di lingkungan yang bersih dan sehat. Dalam realitas kehidupan modern yang serba cepat, aspek lingkungan sering kali terabaikan karena kesibukan kerja dan rutinitas harian.
Di Indonesia, isu kebersihan lingkungan hampir selalu menjadi topik yang berulang tanpa solusi tuntas. Setiap tahun, persoalan sampah, sanitasi, dan pencemaran lingkungan terus muncul dengan wajah yang sama. Padahal, manfaat menjaga kebersihan lingkungan sangat nyata: menurunkan risiko penyakit, menciptakan udara yang lebih bersih, menjaga kualitas air, serta menghadirkan ketenangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Upaya membangun kesadaran hidup bersih dan sehat membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan. Langkah pertama tentu dimulai dari keteladanan. Perilaku nyata jauh lebih efektif daripada sekadar imbauan. Selain itu, peran tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda sangat strategis dalam menggerakkan perubahan. Ketersediaan sarana pendukung seperti tempat sampah yang memadai, sistem pengelolaan sampah rumah tangga, serta edukasi pemilahan sampah organik dan nonorganik juga menjadi kebutuhan mendesak.
Di era sekarang, kreativitas dalam pengelolaan sampah semakin relevan. Sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi kompos, kerajinan tangan, atau produk bernilai ekonomi. Kegiatan kerja bakti yang terjadwal, jika dilakukan secara konsisten, juga dapat memperkuat ikatan sosial sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Pada akhirnya, kebersihan lingkungan adalah cerminan peradaban. Lingkungan yang bersih menunjukkan masyarakat yang peduli, bertanggung jawab, dan berpandangan jauh ke depan. Menjaga kebersihan bukan hanya untuk kepentingan hari ini, tetapi juga sebagai warisan bagi generasi mendatang. Planet ini tidak kita warisi dari leluhur, melainkan kita pinjam dari anak cucu. Karena itu, merawat kebersihan sejatinya adalah merawat masa depan bersama.
