
JAKARTA – Ketidakpastian situasi perekonomian masih menyelimuti kelas menengah pada 2026. Data-data makroekonomi hingga finansial menunjukkan kelas menengah Tanah Air berada dalam posisi terimpit sepanjang tahun lalu.
Dalam publikasi Policy Brief No. 1 edisi Januari 2026, Mandiri Institute mencatat tingkat konsumsi masyarakat yang diukur dengan Mandiri Spending Index (MSI) sejatinya tumbuh 40,09% secara tahunan (YoY) pada kuartal IV/2025, lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal III/2025 sebesar 27,7%.
Namun, pemulihan konsumsi tercatat tidak merata. “Pola konsumsi antarkelas mengarah pada k-shaped pattern, di mana kelompok atas makin kuat, sementara kelompok menengah makin terbatas,” tulis Analis Mandiri Institute Johan Beni Maharda dalam publikasi tersebut, dikutip.
Menurutnya, pola ini terbentuk dan menguat pasca-pandemi Covid-19 pada 2020.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Mandiri Institute menunjukkan rerata pertumbuhan konsumsi kelompok menengah hanya sebesar 4,7%, jauh di bawah rerata pertumbuhan konsumsi nasional sebesar 6,1% usai pagebluk. Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi kelas atas tercatat sebesar 5,5% pasca-pandemi.
Dengan demikian, selisih konsumsi kelas menengah dibanding rerata nasional melebar menjadi minus 1,4% poin dari sebelumnya minus 0,7% poin, sedangkan kelas atas menyusut menjadi minus 0,6% poin dari semula minus 2,3% poin.
Publikasi lembaga riset milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) ini juga menyoroti perlambatan konsumsi yang tidak terlepas dari masalah struktural di pasar kerja Indonesia, yakni semakin terbatasnya penciptaan lapangan kerja.
Mandiri Institute mendata kemampuan serapan pasar kerja formal hanya 1,9 juta orang per tahun pada 2025, jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan yang mencapai 3,4 juta orang per tahun. Akibatnya, tenaga kerja yang tidak terserap masuk ke pasar kerja informal mencapai rata-rata sebesar 1,5 juta orang per tahun. “Dalam tiga tahun terakhir, tren defisit pasar kerja formal ini tidak membaik,” lanjutnya.
Kelas menengah kembali tercatat sebagai lapisan masyarakat yang paling banyak mengalami migrasi pekerjaan ke sektor informal. Dibandingkan masa sebelum pandemi, indeks proporsi pekerjaan informal pada 2025 meningkat paling tinggi pada kelas menengah, yaki sebesar 6% poin. Sementara itu, proporsi pekerjaan informal kelompok atas hanya meningkat terbatas 2% poin sepanjang periode yang sama. Kelas bawah justru membaik dengan indeks yang turun 1% poin.
Mandiri Institute pun menyoroti bahwa perluasan kesempatan kerja dan perbaikan kualitas pekerjaan menjadi salah satu kunci peningkatan pendapatan masyarakat agar daya beli kelompok menengah membaik. Tak hanya itu, stabilisasi harga pangan dan biaya pendidikan didorong agar pengeluaran kelas menengah dapat lebih ringan. Adapun, per Agustus 2025, BPS mencatat penduduk yang bekerja pada kegiatan informal sebanyak 84,7 juta orang alias 57,8% dari penduduk bekerja sebanyak 144,64 juta orang. Dengan demikian, jumlah pekerja formal mencapai 61,84 juta orang atau menempati porsi 42,2%. bisn/mb06

