Oleh : Fatimah
Bagi kebanyakan kita, bulan Rajab dan peristiwa Isra Mi’raj sering kali hanya dirayakan sebagai seremoni tahunan. Berbagai peringatan diisi dengan ceramah tentang perjalanan Nabi Muhammad saw yang menakjubkan, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, naik ke Sidratul Muntaha, hingga menerima perintah untuk shalat.
Namun, pernahkan kita berpikir : Apakah peristiwa luar biasa ini hanya soal pengalaman spiritual Rasulullah semata?Atau sebenarnya ada pesan sistmeik yang jauh lebih besar untuk dunia?
Secara historis, periswa Isra Mi’raj tidak terjadi di ruang hampa. Tak lama setelah peristiwa ini, terjadi Baiat Aqabah Kedua yang merupakan kesepakatan politik yang menjadi batu bata pertama berdirinya tatanan baru di Madinah. Artinya, Isra Mi’raj merupakan “Gerbang Transisi” untuk mempersiapkan suatu negara yang menerapkan hukum langit secara menyeluruh. Di sini juga, kita melihat adanya pergeseran metode dakwah yang sebelumnya dilakukan personal lalu dilanjutkan Pembangunan sistem kehidupan yang terintegrasi.
Dalam literatur hukum Islam, ada istilah menarik di mana seorang pemimpin tidak boleh diperangi selama mereka menegakkan shalat. Para ulama menjelaskan bahwa ‘shalat’ di sini bukan hanya soal ritual individu di masjid. Ini adalah sebuah metafora untuk penegakkan keadilan dan hukum Islam secara luas. Shalat adalah simbol kepatuhan total kepada wahyu. Shalat ditegakkan tak hanya tentang ritualnya, namun secara diri akan lebih disiplin dan secara sistem maka akan lebih stabil.
Sayangnya, hari ini jelas kita sedang menghadapi krisis yang sistemik. Sejak runtuhnya tatanan global Khilafah Islamiyah lebih dari seabad yang lalu, dunia didominasi oleh sistem sekuler-demokrasi. Dampaknya kesenjangan ekonomi semakin jelas, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terpuruk. Krisis kemanusiaan tidak terhitung jumlah korbannya. Tragedi Palestina adalah bukti jelas dan bukti nyata terjadinya kegagalan sistem global dalam menjaga keadilan. Belum lagi kerusakan alam, eksploitasi alam berlebihan dan hanya mengharapkan untung daripada memperbaikinya. Semua masalah ini bukan suatu kebetulan, melainkan hasil dari paradigma yang menempatkan hukum buatan manusia menjadi hukum yang utama, bahkan di atas dari hukum langit.
Maka dari itu, momen Isra Mi’raj ini seharusnya memicu kita untuk melakukan pergeseran paradigma (paradigma shift). Kita perlu menyadari bahwa memperbaiki keadaan tidak cukup hanya dengan memperbaiki individu, tetapi juga harus membenahi sistem yang menghasilkan ketidakadilan tersebut.
Sejarah mencatat bahwa, Ketika hukum langit di bumikan melalui kepemimpinan yang Amanah, Islam hadir sebagai Rahmatan lil ‘alamin. Ia melindungi hak asasi manusia, menjaga kelestarian alam, dan menjamin martabat kehidupan tanpa pandang bulu.
Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalui dimulai dari keyakinan pada nilai-nilai langit, yang kemudian diwujudkan dalam realitas bumi. Bulan Rajab adalah pengingat bahwa kemuliaan sebuah bangsa tidak lahir dari kompromi terhadap sistem yang rusak, melainkan dari keberanian untuk kembali pada kebenaran yang hakiki.
