
Oleh: Citro Atmoko
Hujan yang turun membasahi bumi sejak pagi tak mampu memadamkan api semangat di dada lebih dari 1.600 calon petugas haji. Hari itu, ketahanan fisik dan mental mereka ditempa.
Di bawah komando tegas namun mengayomi dari personel TNI dan Polri, calon-calon petugas tersebut memulai hari dengan latihan baris-berbaris.
Kondisi cuaca yang memaksa mereka berlatih di dalam ruangan hingga siang hari justru menjadi momen untuk mempererat soliditas barisan. Tatkala matahari mulai mengintip malu-malu dan hujan mereda di siang hari, mereka pun kemudian bergeser ke lapangan terbuka.
Seribuan pasang kaki melangkah dalam satu irama, meski belum sempurna. Seiring waktu, derap langkah perlahan mulai terdengar makin serempak, menciptakan harmoni ketegasan yang menggema. Suara hentakan kaki itu bukan sekadar latihan fisik, melainkan simbol kesatupaduan tekad untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji Indonesia.
Tugas melayani jamaah haji di Tanah Suci bukanlah pekerjaan mudah. Petugas haji akan menghadapi berbagai tantangan mulai dari cuaca ekstrem hingga situasi darurat di lapangan yang menuntut kesigapan.
Oleh karena itu, Kementerian Haji dan Umrah RI yang untuk pertama kalinya menyelenggarakan ibadah haji, kini menggembleng para calon petugas haji dengan latihan kedisiplinan ala militer, khususnya Peraturan Baris Berbaris (PBB).
Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak secara tegas menyampaikan bahwa PBB ini krusial untuk membangun fondasi kedisiplinan bagi para calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M. Meski ada tudingan upaya militerisasi sipil dengan keterlibatan TNI dan Polri dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) calon petugas haji, justru ia tanggapi dengan santai.
“Jadi kalau ada yang bilang ini militerisme, iya, karena kami ingin mengadaptasi nilai-nilai kedisiplinan dan kerja tim yang kuat dari militer, termasuk Peraturan Baris Berbaris (PBB), karena awal dari ketertiban dan kedisplinan itu dimulai dari PBB,” ujar Dahnil.
Pernyataan Wamenhaj tersebut patut dicermati. Urgensi latihan baris-berbaris bagi calon petugas haji bukanlah upaya militerisasi sipil, melainkan sebuah metode pembentukan karakter yang efektif dan efisien dalam waktu singkat.
Dalam pendidikan dan pelatihan PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, latihan PBB memang menjadi “menu utama”. Para calon petugas haji digembleng oleh para personel dari TNI dan Polri untuk latihan baris berbaris selama satu pekan awal dari rangkaian diklat sebulan. Waktu yang memang singkat, namun menjadi bekal penting.
Layaknya dalam shalat berjamaah, makmum harus patuh pada imam. Saat imam mengucapkan takbir dan melakukan gerak sujud, makmum wajib mengikutinya. Tidak boleh mendahului imam atau terlalu lambat tertinggal dari imam.
Dalam PBB, pasukan harus patuh pada aba-aba komandan. Tatkala komandan teriak “Maju, jalan!”, semua bergerak serentak tanpa bertanya “Kenapa?”. Ini adalah kesamaan yang paling fundamental. Keduanya melatih seseorang untuk menekan ego dan patuh pada satu perintah atau instruksi demi ketertiban bersama.
Baik shalat berjamaah ataupun PBB, juga sangat terobsesi dengan lurus dan rapatnya barisan sebagai simbol persatuan. Keindahan PBB terletak pada kelurusan barisan. Jika satu orang tidak lurus, satu peleton terlihat berantakan.
Sementara itu, lurus dan rapatnya shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah. Islam mengajarkan bahwa celah dalam barisan adalah celah bagi kehadiran setan.
Terakhir, baik shalat berjamaah maupun PBB tidak bisa dilakukan dengan “gaya bebas”. Keduanya memiliki aturan baku yang harus diikuti.
Ada rukun shalat yang baku seperti takbir, ruku, sujud, yang harus dilakukan secara berurutan dan sesuai aturan tuma’ninah atau tenang. Dalam PBB, ada aturan teknis bagaimana cara hormat, istirahat di tempat, atau langkah tegap. Tidak boleh berimprovisasi.
Salah satu peserta diklat PPIH dari layanan akomodasi, Mumuh Muharrom (33), merasakan manfaat dari latihan PBB yang dilakukan secara intens hampir seminggu terakhir, mulai dari pagi hingga sore hari.
“Yang paling saya rasakan dari pelatihan baris berbaris ini adalah melatih kita untuk konsentrasi, belajar bertanggung jawab dan disiplin. Sehingga nantinya pada pelaksanaan Haji 2026, petugas bisa memberikan pelayanan yang terbaik,” ujar lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu.
Senada, Pasanrangi (32), seorang peserta diklat PPIH dari layanan yang sama juga mulai merasakan nilai-nilai kedisiplinan dari latihan PBB. Guru olahraga di salah satu SMA Negeri di Makassar itu menjadi lebih kompak dan peduli dengan rekan-rekan peserta lainnya
“Waktu baris-berbaris, ada satu saja yang tidak kompak itu kita kelihatan berantakan. Nah kita sekarang sehari-hari jadi kompak, saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain. Kalau ada yang masih tidur waktu subuh kita bangunkan. Kita juga sama-sama jaga kamar supaya tidak kotor,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Ridwan (52), seorang pegawai Kemenag Kanwil Papua Barat mengatakan, latihan PBB membuat peserta memiliki mental yang kuat dan lebih terarah.
“Selain menyehatkan badan, baris-berbaris ini membuat peserta jadi punya mental ‘siap diperintah’. Tapi dalam arti positif ya,” katanya.
Melalui PBB, memang tertanam nilai-nilai fundamental seperti kedisiplinan yang tinggi, fisik yang tangguh, mental yang baja, serta kekompakan tim yang solid.
Tujuan akhirnya satu, mencetak petugas haji yang sigap. Petugas yang tidak cengeng saat menghadapi panasnya Arafah, petugas yang tidak lamban saat ada anggota jamaah yang butuh pertolongan di Mina, dan petugas yang selalu siap sedia dengan senyum dan ketegasan.
Dengan demikian, latihan fisik ini pada hakikatnya adalah jembatan menuju pelayanan yang prima, demi mengantarkan setiap anggota jamaah meraih haji yang mabrur. Petugas yang tangguh adalah kunci kenyamanan tamu Allah. (ant)

