
BANJARMASIN – Walikota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR melakukan kegiatan penyisiran permasalahan sungai di wilayah selatan yang kurang berfungsi dengan baik saat banjir.
Yamin di Banjarmasin, Selasa, menyampaikan, bencana banjir yang terjadi sejak awal hingga pertengahan Januari 2026 akibat air pasang dan kiriman air dari banjir wilayah hulu berdampak cukup luas di wilayah Banjarmasin Selatan.
Menurut dia, Pemkot Banjarmasin terus berupaya melakukan normalisasi sungai di wilayah lambat turunnya banjir tersebut hingga bisa secepatnya di tangani.
Yamin pun menyatakan telah menyisir beberapa sungai di wilayah selatan tersebut, di antaranya Sungai Peradapan di Tatah Belayung, di Kelurahan Pemurus Dalam.
“Sungai ini harus kita bersihkan dan dikeruk, karena tidak berfungsi dengan baik, hingga lamban banjir surut kemarin itu,” ujarnya.
Kondisi sungai tersebut juga terlihat pada eksisting jembatan di depan sungai yang mengalami penyempitan dari lebar semula sungai sehingga membuat aliran air tidak berjalan optimal.
“Informasi dari Pak RT tadi kedalaman sungai ada di 2-3 meter, di sisi lain kondisi jembatan eksistingnya itu menyempit menyisakan sekitar 1,5 meter saja lagi dari lebar sungai awalnya 4-5 meter, ini jelas mempengaruhi lajunya air di Sungai Paradapan,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa sinkronisasi antara ketepatan ruang infrastruktur dan kebersihan kanal sungai harus saling terjaga beriringan untuk mencegah terjadinya banjir rob maupun genangan air yang berlarut-larut.
“Kami sangat berterima kasih kepada warga sekitar di Tatah Belayung, yang bersama tokoh masyarakat sudah merawat dan menjaga Sungai Peradapan kita ini, kami sangat mengapresiasi kegiatan gotong royong hari ini pastinya untuk kemajuan dan kelestarian sungai kita karena ini merupakan bagian dari urat nadi dari pemerintah dan masyarakat Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Dia berharap, kegiatan serupa juga dapat terus digalakkan oleh kelurahan lainnya tanpa harus menunggu instruksi.
“Bagaimanapun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Budaya gotong royong harus dihidupkan kembali untuk menjaga sungai-sungai kita tetap berfungsi sebagai saluran drainase, bukan tempat pembuangan sampah,” katanya.
Yamin menuturkan di ujung sungai terdapat pintu air untuk mengalirkan air ke pembuangan akhir, namun menurut informasi yang ada, pintu air tersebut sudah lama tidak difungsikan sehingga menghambat aliran air, lebih-lebih ketika kondisi kedalaman sungai meninggi.
Dia lantas melanjutkan penyisiran ke lokasi pintu air itu berada.
“Pintu air ini sudah lama sekali dibangun, sekitar tahun 2000-an, karena tidak terawat akhirnya terbengkalai, lebarnya hanya tersisa 1 meter, dasarnya ditutup dengan beton. Ini harus segera dilakukan perubahan, setidaknya dibikinkan tiga pintu di sana untuk mengatur laju aliran agar lebih optimal tergantung kondisi ketinggian air,” bebernya.
Yamin mengingatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang mempunyai bangunan di badan sungai termasuk para pengembang perumahan jangan lagi ada bangunan yang membelakangi sungai.
“Ini tentu harus jadi perhatian kita ke depan, terutama para pengembang perumahan baru agar bisa taat dengan aturan, kalau bisa membangun rumah itu menghadap sungai semua jangan malah membelakangi, tadi saya lihat sepanjang masuk Tanjung Pagar ini dari depan sepanjang kiri kanan itu memang hampir rumah semua di bantaran. Jadi kepentingan akan sungai ini harus kita tingkatkan lagi,” demikian kata Yamin. ant

