Mata Banua Online
Kamis, Januari 22, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Menormalisasi Ruang Guru dan Grup WhatsApp sebagai Ruang Berpikir Intelektual

by Mata Banua
21 Januari 2026
in Opini
0
G:\2026\Januari\22 Januari 2026\8\Opini Kamis\Erwin Prastyo.jpg
Erwin Prastyo (Guru SD N 1 Curugsewu Kabupaten Kendal Jawa Tengah & Fasilitator Program Numerasi Tanoto Foundation)

“Dalam berbicara seseorang harus tetap berpikir jernih, hingga dapat mencetuskan ide-ide unggul dan berakhir dengan kemenangan.”

— Ki Hajar Dewantara

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Mencegah Meluasnya Paparan Ideologi Kekerasan pada Anak

21 Januari 2026
G:\2026\Januari\21 Januari 2026\8\8\May Lorenna.jpg

Mewujudkan Pola dan Iklim Kerja Sehat

20 Januari 2026

Kutipan Ki Hajar Dewantara tersebut menegaskan bahwa ucapan bukan sekadar bunyi, melainkan hasil dari kejernihan berpikir. Berbicara yang lahir dari pikiran jernih akan melahirkan gagasan bermutu, dan pada akhirnya membawa kemenangan—bukan kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan pada nilai: kebenaran, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan.

Ruang Guru dan Grup WhatsApp

Ruang guru dan grup WhatsApp sekolah merupakan dua ruang penting dalam kehidupan sekolah. Ruang guru hadir secara fisik, sedangkan grup WhatsApp hadir secara digital. Keduanya menjadi tempat yang paling sering diakses guru di luar ruang kelas. Di sanalah guru bertemu, berinteraksi, menumpahkan pikirannya, berbicara, dan membangun komunikasi sehari-hari.

Pada praktiknya, ruang guru kerap dianggap sebagai fasilitas pendukung sekolah. Saat jam istirahat, jeda mengajar, hingga persiapan akreditasi, ruang guru menjadi pusat aktivitas. Bahkan, dalam instrumen akreditasi sekolah, keberadaan ruang guru menjadi salah satu indikator kelengkapan sarpras sekolah. Sementara itu, grup WhatsApp sekolah berfungsi sebagai sarana komunikasi cepat terbatas antara guru dan kepala sekolah.

Namun persoalan mendasarnya bukan pada keberadaan ruang guru atau grup WhatsApp, melainkan pada bagaimana kedua ruang tersebut dimanfaatkan dalam mendukung pengembangan kualitas pendidikan di sekolah.

Ruang Guru sebagai Pusat Gagasan

Dalam kondisi ideal, ruang guru seharusnya menjadi pusat diskusi dan pengembangan gagasan sekolah. Di ruang guru inilah harapannyaguru dapat berdialog tentang isu pendidikan, menyoal kebijakan yang seharusnya memihak rakyat, berbagi praktik baik pembelajaran, menyusun program strategis sekolah, serta membahas tantangan pendidikan yang dihadapi oleh murid ataupun sekolah.

Ruang guru semestinya menjadi tempat konsolidasi pemikiran. Dari percakapan sehari-hari yang bermakna, dapat lahir program pembelajaran yang berkualitas, inovasi sekolah, dan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Ruang guru bukan hanya tempat rehat tetapi juga ruang kerja intelektual.

Hal serupa berlaku untuk grup WhatsApp sekolah. Idealnya, grup ini menjadi sarana komunikasi strategis seperti menyiapkan rencana strategis kebijakan sekolah, mengoordinasikan program, serta membuka ruang diskusi virtual terkait isu pendidikan, pembelajaran, hingga pengasuhan murid.

Realitas yang Dihadapi Sekolah

Ironisnya, realitas di banyak sekolah menunjukkan hal yangberbeda. Ruang guru sering kali hanya menjadi tempat lahirnya obrolan ringan yang jauh dari isu pembelajaran atau pendidikan. Percakapan didominasi gosip tetangga, keluhan personal, gaji atau tunjangan pendapatan, hingga isu viral yang tidak berujung pada refleksi maupun solusi yang membangun. Untuk mengurangi dampak kurang baik tersebut hingga dikhawatirkan akan menurunkan tingkat disiplin para guru, malah ada juga sekolah yang secara sadar tidak menyediakan ruang guru untuk guru-gurunya.

Kondisi ini diperparah ketika tidak ada kepemimpinan yang mampu mengarahkan budaya diskusi dan tumbuhnya kesadaran intelektual. Akibatnya, ruang guru kehilangan peran strategisnya. Ruang guru betul hadir secara fisik, tetapi miskin peran dalam mendorong kemajuan sekolah. Maka tidak mengherankan jika sekolah akhirnya tidak berkembang karena dialog intelektual yang membangun pikiran di ruang guru saja tidak dilakukan namun mengharapkan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.

Setali tiga uang dengan grup WhatsApp sekolah. Grup yang seharusnya menjadi ruang komunikasi efektif justru terbatas pada penyampaian informasi yang bersifat teknis semacam undangan rapat, pembagian/delegasi tugas, hingga pesan berantai (terusan). Lebih dari itu nyatanya juga ada grup berisi para guru yang ramainya hanya pada situasi tertentu, seperti saat terjadi gangguan presensi daring atau gaji/tunjangan yang tak kunjung cair. Hampir tidak ada ruang dialog atau diskusi reflektif. Grup WhatsAppada, tetapi miskinmakna.

Guru dan Nalar Kritis

Kualitas ruang guru dan grup WhatsAppyang anggotanya para guru sejatinya mencerminkan kualitas budaya berpikir dan kesadaran intelektual guru-gurunya. Guru yang terbiasa berdialog dan berpikir kritis akan lebih peka terhadap fenomena sosial dan mampumengaitkannya dengan pembelajaran di kelas.

Lisan guru adalah kompas moral. Jika ia digerakkan oleh kejernihan berpikir, maka ke mana pun kata itu melangkah maka ia akan menuntun pada kemenangan peradaban, bukan sekadar perdebatan.

Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga membangun nalar murid.Alih-alih mengharapkan pembelajaranmenumbuhkan kemampuan bernalar kritis bagi para murid, yang dilakukan hanya melakukan rutinitas sebagai penggugur kewajiban karena guru sendiri tidak memiliki keinginan bertukar gagasan dan refleksi. Budaya pasif di ruang guru akan berdampak langsung pada budaya belajar murid-murid di kelas.

Menormalisasi Fungsi Ruang Guru

Ruang guru dan grup WhatsApp bukan sekadar persoalan fasilitas atau teknologi, melainkan persoalan budaya dan kepemimpinan. Keduanya dapat menjadi motor penggerak kemajuan sekolah jika dikelola dengan arah yang jelas.

Pimpinan sekolah perlu membangun budaya diskusi yang sehat dan produktif. Ruang guru perlu dinormalisasi fungsinya sebagai ruang mencetak ide atau gagasan, bukan hanya ruang istirahat sesaat. Demikian pula grup WhatsAppsekolah perlu dikelola secara bijak sebagai sarana komunikasi yang efektif, reflektif, bermakna, dan berdampak.

Bila perlu grup WhatsApp dijadikan sebagai wadah bagi para guru berlatih menulis dengan menuangkan gagasanorijinalnya.Hal ini pula yang digagas Prof. Dr. Eng. Imam Robandi, M.T. (Guru Besar ITS) hingga lahirlahgrup WhatsAppkomunitas IRoSociety yang anggotanya mayoritas para guru yang kemudian biasa dikenal dengan sebutan deUniversiteitvanIRo. Visi yang diusung adalah menjadikan pribadidankelompok yang senang belajar dan meningkatkan kualitas diri. Misinya yaitu melakukan diskusi positif, menyampaikan kebaikan, menyampaikan karya/ide orijinal, saling memberi semangat dalam melakukan pembelajaran (Erwin Prastyo, 2019).

Jika ruang guru dan grup WhatsApp dibiarkan berjalan tanpa arah, sekolah berpotensi kehilangan ruang berpikirnya. Namun jika dikelola dengan kesadaran dan visi, dari kedua ruang inilah kualitas sekolah dapat ditumbuhkan secara berkelanjutan. []

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper