Mata Banua Online
Senin, Januari 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Ketika Diam Menjadi Pesan: Luka Relasi di Era Komunikasi Digital

by Mata Banua
18 Januari 2026
in Opini
0

Oleh: Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)

Di tengah derasnya arus komunikasi digital, ironi justru kerap hadir dalam bentuk keheningan. Banyak orang mengalami situasi ketika hubungan yang semula terasa hangat dan intens tiba-tiba terhenti tanpa penjelasan. Percakapan yang sebelumnya rutin, penuh cerita dan perhatian, mendadak berhenti. Pesan tidak lagi dibalas, atau sekadar berakhir pada tanda “dibaca”. Fenomena ini dikenal luas sebagai ghosting, praktik menghilang tanpa pamit yang semakin lazim dalam relasi modern.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\20 Januari 2026\8\Opini Selasa\Yudriza Sholihin.jpg

Isra Mi’raj: BencanaEkologisdan Revitalisasi Islam Hijau

19 Januari 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Penangan Islam Terhadap Bencana Alam

19 Januari 2026

Ghosting bukan sekadar persoalan etika berkomunikasi, melainkan cerminan perubahan cara manusia memaknai hubungan. Di era yang memungkinkan komunikasi berlangsung instan dan tanpa batas, diam justru menjadi pesan yang paling sulit dipahami. Tidak ada kata perpisahan, tidak ada alasan, dan tidak ada kepastian. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang dipenuhi asumsi dan kecemasan.

Dalam kajian psikolinguistik, diam tidak pernah benar-benar kosong. Keheningan merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang sarat makna. Diam bisa mencerminkan penolakan, penghindaran, kemarahan, kebingungan, atau ketidakmampuan seseorang untuk mengungkapkan perasaan secara terbuka. Ketika seseorang memutus komunikasi, sesungguhnya ia tetap menyampaikan pesan—hanya saja tanpa kata-kata, dan sering kali dengan dampak emosional yang lebih menyakitkan.

Masalahnya, manusia secara kognitif tidak menyukai ketidakjelasan. Otak terbiasa mencari pola, makna, dan sebab-akibat. Ketika komunikasi terhenti tanpa penjelasan, pikiran akan bekerja keras mengisi kekosongan tersebut. Pesan terakhir dibaca berulang, nada bicara ditafsirkan ulang, dan kesalahan diri sendiri mulai dicari. Dalam psikologi bahasa, kondisi ini dikenal sebagai internal speech, yakni dialog batin yang muncul karena ketiadaan respons eksternal.

Respons terhadap ghosting juga dipengaruhi oleh gaya komunikasi dan kebutuhan emosional. Sejumlah studi menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih komunikatif dan eksplisit dalam mengekspresikan perasaan, terutama kepada orang yang memiliki kedekatan emosional. Bahasa yang digunakan perempuan umumnya lebih konkret dan detail, mencerminkan kebutuhan akan kejelasan dan koneksi emosional yang berkesinambungan.

Sebaliknya, laki-laki sering digambarkan menggunakan bahasa yang lebih ringkas dan abstrak. Namun, anggapan bahwa laki-laki lebih tahan terhadap dampak emosional ghosting adalah keliru. Banyak laki-laki juga mengalami kecemasan, kebingungan, bahkan overthinking ketika komunikasi terputus secara tiba-tiba. Budaya maskulinitas sering mengajarkan laki-laki untuk menahan emosi, tetapi secara psikologis mereka tetap membutuhkan pengakuan dan kejelasan.

Menariknya, dari sejumlah obrolan dan wawancara informal dengan mahasiswa, praktik ghosting justru kerap dilakukan oleh laki-laki, tapi tetap ada ruang perempuan juga yang melakukanya. Bukan semata karena tidak peduli, melainkan karena ketidakmampuan menghadapi konflik emosional, rasa tidak enak untuk berkata jujur, atau keinginan menghindari percakapan yang dianggap melelahkan. Diam dipilih sebagai jalan pintas, meski meninggalkan dampak psikologis yang panjang bagi pihak lain.

Psikolinguistik menegaskan bahwa keheningan dapat memicu respons emosional yang sama kuatnya pada siapa pun, tanpa memandang gender. Ketika seseorang diabaikan, otak akan terus aktif mencari penjelasan. Laki-laki maupun perempuan sama-sama rentan mengalami stres kognitif, gangguan konsentrasi, dan penurunan rasa percaya diri. Perbedaannya bukan pada kedalaman luka, melainkan pada cara mengekspresikannya.

Penelitian tentang pola komunikasi juga menunjukkan bahwa perempuan lebih aktif menjaga kesinambungan hubungan. Analisis data pesan dan panggilan dari jutaan pengguna menunjukkan bahwa perempuan lebih sering memulai komunikasi dengan pasangan. Ketika komunikasi tiba-tiba terhenti, dampak emosionalnya menjadi lebih berat karena ekspektasi terhadap keberlanjutan relasi telah terbentuk.

Dari sisi neurologis, ghosting menciptakan kondisi “urusan yang belum selesai” di otak. Ketidakpastian ini memicu stres, kecemasan, dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri. Bagi individu dengan kecenderungan anxious attachment, efeknya bisa berlipat ganda. Ghosting akhirnya bukan hanya tentang hubungan yang berakhir, tetapi tentang luka batin yang sulit dipulihkan karena tidak pernah diberi ruang penjelasan.

Fenomena ini semakin relevan dalam konteks generasi muda. Survei YouGov tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari separuh Generasi Z mengaku pernah mengalami ghosting dalam hubungan romantis, dan hampir separuhnya mengalami kecemasan berlebihan akibat tidak mendapatkan kejelasan. Ini menunjukkan kecenderungan generasi digital yang lebih memilih diam daripada menghadapi konflik emosional secara langsung.

Namun ghosting bukan hanya persoalan generasi muda. Studi dalam Journal of Social and Personal Relationships (2021) mencatat bahwa sekitar seperempat orang dewasa usia 30–50 tahun juga pernah mengalaminya. Dampaknya bahkan lebih mendalam karena banyak responden dewasa melaporkan kehilangan harga diri dan kesulitan mempercayai pasangan di hubungan berikutnya. Ini menegaskan bahwa keheningan sebagai sinyal komunikasi dapat merusak relasi lintas usia.

Dalam perspektif agama, komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab merupakan bagian dari etika hubungan antarmanusia. Dalam Islam, misalnya, manusia diajarkan untuk menjaga lisan dan sikap, serta tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Diam yang disengaja untuk menghindari tanggung jawab emosional dapat menjadi bentuk kezaliman psikologis, meski tidak disadari pelakunya. Rasulullah Saw mengingatkan bahwa seorang mukmin adalah mereka yang tidak menyakiti orang lain, baik dengan kata-kata maupun tindakan.

Psikolinguistik diam juga relevan dalam relasi sosial yang lebih luas, termasuk pertemanan, keluarga, dan dunia kerja. Ketika diam digunakan sebagai alat menghindar, relasi menjadi rapuh dan tidak sehat. Karena itu, membangun budaya komunikasi yang jujur, empatik, dan beradab menjadi kebutuhan mendesak di era digital.

Bagi mereka yang pernah atau sedang mengalami ghosting, penting disadari bahwa diam orang lain tidak selalu mencerminkan kesalahan diri sendiri. Menahan diri dari membangun narasi negatif, fokus pada pengembangan diri, serta merawat kesehatan mental adalah langkah penting. Tidak semua hubungan layak diperjuangkan, dan tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk bertahan lama.

Di tengah dunia yang memudahkan siapa pun untuk menghilang, memilih untuk berkomunikasi secara terbuka memang membutuhkan keberanian moral. Namun keberanian itulah yang membuat relasi tetap manusiawi. Diam mungkin terasa mudah bagi yang pergi, tetapi bagi yang ditinggalkan, keheningan bisa meninggalkan gema luka yang panjang. Maka sebelum memilih untuk diam, ada baiknya kita merenungkan makna di baliknya. Sebab dalam hubungan manusia, yang tak terucap pun dapat melukai—dan yang terucap dengan jujur sering kali justru menyembuhkan.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper