
BANJARMASIN – Kerugian bencana sosial yang di dominasi musibah kebakaran pemukiman penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2025 (Januari-Desember) mencapai Rp 107,430 miliar.
“Dari kerugian bencana sosial itu terbesar di alami Kota Banjarmasin sekitar Rp 47,3 miliar,” ucap Kabid Penanganan Bencana pada Dinas Sosial Provinsi Kalsel H Achmadi SSos, Rabu (14/1).
Selain itu, lanjut Madi –sapaan akrabnya, kerugian bencana sosial yang cukup besar di alami Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) sekitar Rp 11,090 miliar, Hulu Sungai Tengah (HST) ditaksir Rp 10,080 miliar, dan Kabupaten Banjar sekitar Rp 7,8 miliar.
Kemudian, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sekitar Rp 5,548 miliar, Kota Banjarbaru ditaksir Rp 5,390 miliar, dan Tabalong ditaksir sekitar Rp 3,650 miliar.
Selanjutnya, Kabupaten Balangan sekitar Rp 3,447 miliar, Tapin ditaksir Rp 3,265 miliar, Barito Kuala (Batola) Rp 2,980 miliar, Tanah Laut (Tala) Rp 2,335 miliar, Hulu Sungai Selatan (HSS) Rp 2,430 miliar, dan Kotabaru sekitar Rp 1,875 miliar.
Ketika ditanya frekuensi bencana sosial selama tahun 2025, Madi menyebutkan ada 376 kali dan terbanyak di Kota Banjarbaru mencapai 75 kali, tetapi termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain itu, Kota Banjarmasin 66 kali, Kabupaten HST ada 46 kali, Kabupaten Banjar 45 kali, HSS 27 kali, Batola 21 kali, Balangan 20 kali, Tapin 19 kali, dan HSU ada 18 kali.
“Akibat bencana kebakaran pemukiman penduduk itu menyebabkan 662 kepala keluarga (KK) atau 1.887 jiwa kehilangan tempat tinggal, dan sembilan orang di antaranya meninggal dunia dan empat luka-luka,” katanya.
Ke sembilan korban meninggal dunia itu, yakni tujuh di Kota Banjarmasin dan masing-masing satu di Kabupaten HST dan HSU.
Kebakaran tersebut juga menyebabkan 459 buah rumah mengalami kerusakan berat, 124 rumah rusak sedang, dan 113 rumah rusak ringan.
Madi pun mengimbau kepada masyarakat yang bermukim di kawasan kumuh dan rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadan guna mengurangi resiko bencana, terutama kebakaran pemukiman penduduk. ani

