
ata Polda Kalimantan Selatan mencatat sepanjang tahun 2025 terjadi 5.538 kasus kejahatan, turun sekitar 6,92 persen dibandingkan tahun sebelumnya (banjarmasin.tribunnews.com,30/12/2025; dutatv.com, 31/12/2025; kalsel.antaranews.com, 31/12/2025). Secarastatistik, penurunan ini patut diapresiasi. Namun di balik angka-angka itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah masyarakat benar-benar merasa lebih aman?
Sebab jika ditelisik lebih jauh, mayoritas kejahatan yang terjadi masih didominasi oleh kejahatan konvensional, yakni sebanyak 3.769 kasus (klikkalsel.com, 30/12/2025. Kejahatan konvensional yang mencakup seperti pencurian, penganiayaan, perampokan, kekerasan dalam rumah tangga, hinggakonflikantarindividu, menunjukkan bahwa penurunan kriminalitas belum menyentuh kualitas kehidupan sosial masyarakat secara nyata. Masalah utamanya belum benar-benar selesai.
Lebih memprihatinkan lagi, dari Januari hingga September 2025, tercatat 515 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan jumlah korban 544 orang, berdasarkan data SIMFONI PPA di Provinsi Kalimantan Selatan (diskominfomc.kalselprov.go.id, 9/11/2025). Bentuknya beragam, mulai dari kekerasan psikis, fisik, hingga seksual (kalsel.antaranews.com, 22//2025). Angka ini bukan sekadar data kriminal, melainkan cermin rapuhnya ruang paling dasar dalam kehidupan sosial: keluarga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi lokasi kekerasan.
Dominasi kejahatan konvensional sejatinya berkaitan erat dengan tekanan ekonomi dan sosial. Biaya hidup yang meningkat, lapangan kerja yang tidak stabil—terutama bagi buruh dan pekerja sektor informal—serta lemahnya jaring pengaman sosial, menciptakan kondisirentan konflik. Dalam situasi seperti ini, kejahatan kerap muncul bukan semata karena niat jahat, melainkan sebagai respons atas keterdesakan hidup.
Sayangnya, pendekatan penanganan kriminalitas masih lebih banyak bersifat reaktif. Polanya berulang: penindakan dilakukan setelah kejahatan terjadi. Pelaku ditangkap, dihukum, lalu kembali kemasyarakat dengan kondisi ekonomi dan sosial yang nyaris sama. Tanpa perbaikan sistemik, tidak mengherankan jika sebagian kasus terus berulang.
Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak juga memperlihatkan bahwa perlindungan negara terhadap keluarga masih belum optimal. Negara sering hadir ketika konflik sudah meledak, bukan sejak awal untuk mencegahnya. Padahal, keluarga yang kuat adalah fondasi masyarakat yang aman. Ketika keluarga rapuh, kriminalitas menemukan ruang tumbuhnya.
Problem ini tidak berdiri sendiri. Bahkan di dalam institusi negara, muncul kasus-kasus penyimpangan oleh oknum aparat (kompas.id. 24/3/2025). Fakta inimenegaskan bahwa kriminalitas bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem nilai, tata kelola, dan arah kebijakan. Aparat dan masyarakat sama-sama dibentuk oleh sistem yang berlaku.
Karena itu, upaya menekan kriminalitas tidak cukup hanya dengan operasi penegakan hukum. Negara perlu hadir lebih awal dengan pendekatan preventif. Menjamin kebutuhan dasar warga—pangan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan rasa aman—merupakan langkah kunci. Ketika kebutuhan hidup terpenuhi secara layak, kejahatan tidak lagi menjadi pilihan rasional.
Penguatan institusi keluarga juga menjadi agenda mendesak. Pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dimulai dari lingkungan rumah yang sehat, didukung oleh pendidikan yang membentuk karakter, tanggung jawab, dan kesadaran moral. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga manusia berkepribadian.
Pengelolaan sumber daya dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan rakyat akan memberi negara ruang fiskal dan sosial untuk melakukan pencegahan kriminalitas secara berkelanjutan. Penegakan hukum tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan upaya membangun keadilan sosial.
Penurunan angka kejahatan memang patut dicatat. Namun selama kekerasan terhadap kelompok rentan masih terjadi dan rasa aman belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat, pekerjaan besar negara belum selesai. Keamanan sejati bukan hanya tentang angka yang menurun, tetapi tentang kehidupan yang benar-benar terasa aman.

