Mata Banua Online
Jumat, Januari 9, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kesehatan Mental sebagai Pondasi Masa Depan Bangsa

by Mata Banua
7 Januari 2026
in Opini
0
G:\2026\Januari\8 Januari 2026\8\Opini Kamis\Dicky Choirriyan.jpg
Dicky Choirriyan, S.Tr.Rad (Pegawai Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang)

Setiap fase perjalanan bangsa, pemuda selalu hadir sebagai penanda arah perubahan. Pemuda selalu ditempatkan sebagai simbol harapan, dan motor penggerak kemajuan. Ungkapan legendaris Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno—“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”—kerap dikutip sebagai penegas betapa strategisnya peran generasi muda dalam menentukan arah sejarah.

Namun pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana mungkin pemuda mampu mengguncang dunia dan mengubah nasib bangsa apabila keutuhan dirinya, baik secara fisik maupun mental, belum sepenuhnya terjaga? Di sinilah persoalan mendasar muncul. Kita terlalu sering menuntut pemuda untuk produktif, inovatif, dan kompetitif, tetapi abai terhadap fondasi utama yang menopang semua itu—yakni kesehatan mental.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\9 Januari 2026\8\8\Ahmad Mukhallish Aqidi Hasmar.jpg

Ketika Angka Kejahatan Turun, Tapi Rasa Aman Tak Kunjung Datang

8 Januari 2026
G:\2026\Januari\9 Januari 2026\8\8\Ahmad Mukhallish Aqidi Hasmar.jpg

Tawa, Pilkada, dan Cara Negara Membaca Suara

8 Januari 2026

Pemuda disebut pemuda bukan semata karena faktor usia, melainkan karena jiwa, semangat, dan keberanian untuk terus bergerak. Akan tetapi, ketika urusan kejiwaan dianggap remeh, ditabukan, atau diletakkan di urutan paling akhir, kondisi tersebut sejatinya merupakan sinyal bahaya. Pepatah klasik mens sana in corpore sano—di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat—seharusnya menjadi pijakan berpikir kita bersama. Kesehatan fisik dan kesehatan mental bukan dua entitas yang berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan saling menentukan.

Proses Mental

Berbicara tentang jiwa berarti membahas proses mental yang berlangsung dalam diri manusia: cara berpikir, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan merespons tekanan hidup. Mustahil mengharapkan aktualisasi diri yang tinggi, kreativitas yang berkelanjutan, dan kontribusi nyata bagi bangsa jika aspek mental justru diabaikan. Rendahnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan pemuda berpotensi menjadi bumerang besar bagi Indonesia, terutama dalam menghadapi bonus demografi dan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 mencatat jumlah pemuda Indonesia mencapai 64,92 juta jiwa. Sementara itu, informasi dari Indonesiabaik.id menunjukkan bahwa pada tahun 2045, sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran masa depan bangsa yang sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya hari ini. Bonus demografi dapat menjadi berkah besar, tetapi juga bisa berubah menjadi beban sosial apabila tidak dikelola dengan bijak.

Kondisi tersebut menciptakan ruang sosial yang dinamis, penuh peluang sekaligus tantangan. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh kesiapan lintas generasi. Generasi sebelumnya memiliki tanggung jawab moral untuk mewariskan nilai, kesadaran, dan sistem pendukung yang sehat kepada generasi penerus. Sinergi antargenerasi menjadi kunci agar Indonesia Emas 2045 tidak hanya unggul secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga sehat secara lahir dan batin.

Sangat Menentukan

Dalam konteks ini, jiwa atau mentalitas menjadi aspek yang tak boleh diabaikan. Meski tidak kasatmata, perannya sangat menentukan. Jiwa ibarat mesin penggerak yang mengendalikan seluruh aktivitas manusia. Ketika mesin ini bekerja dengan baik, tubuh mampu melangkah mantap. Sebaliknya, ketika mesin penggerak itu bermasalah, arah dan tujuan hidup menjadi kabur.

Indonesia dapat dianalogikan sebagai sebuah pabrik besar yang dipenuhi mesin-mesin kecil. Pemuda adalah mesin-mesin kecil tersebut. Jika sebagian besar mesin mengalami kerusakan akibat rapuhnya kesehatan mental, maka pabrik besar bernama Indonesia akan kesulitan menghasilkan karya, inovasi, dan kemajuan. Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada daya saing bangsa secara keseluruhan.

Pemuda sejatinya dituntut untuk terus melahirkan gagasan, karya, dan perubahan. Namun produktivitas sejati tidak mungkin lahir dari mental yang tertekan, cemas, atau kehilangan arah. Kesehatan mental yang baik memungkinkan pemuda melakukan aktualisasi diri secara optimal—hari ini dan di masa depan. Sayangnya, persoalan mental masih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang menakutkan, memalukan, atau bahkan tidak penting.

Pandangan keliru ini perlu segera diubah. Fakta menunjukkan bahwa kondisi mental sangat memengaruhi kesehatan fisik. Tubuh yang lemah kerap berawal dari jiwa yang tidak sehat, dan pada akhirnya melemahkan kemampuan seseorang untuk berkarya. Seperti dikatakan David Satcher, mantan Surgeon General Amerika Serikat, “tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental.” Pernyataan ini menegaskan bahwa mental adalah fondasi dari seluruh aspek kesehatan manusia.

Pohon yang Kokoh

Mental yang sehat ibarat akar pohon yang kokoh. Ia menopang batang dan daun agar dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tanpa akar yang kuat, pohon akan mudah tumbang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk usia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta orang mengalami depresi. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin persoalan serius yang dihadapi bangsa, termasuk oleh kalangan muda.

Lebih jauh, Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sekitar 20 persen populasi Indonesia berpotensi mengalami gangguan jiwa. Fenomena bunuh diri, self-harm, penyalahgunaan narkoba, hingga kecanduan digital merupakan bagian dari gejala yang tak bisa diabaikan. Ini adalah “lampu kuning” bagi pemuda Indonesia—peringatan dini bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.

Menjaga Kesehatan Mental

Kesadaran kolektif perlu terus dibangun. Pemuda harus disadarkan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masa depan bangsa. Mengabaikan aspek ini justru berisiko menjerumuskan pemuda pada kerugian personal dan sosial yang lebih besar.

Upaya preventif harus digaungkan secara masif. Kesehatan mental tidak boleh lagi dipandang sebagai isu yang menakutkan atau tabu untuk dibicarakan. Dengan kesadaran dan literasi yang memadai, potensi gangguan mental yang lebih berat dapat diminimalkan. Tidak ada yang perlu dipermalukan dari upaya mengenali dan merawat kondisi mental, karena hal tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap hak dasar manusia untuk hidup lebih bermakna.

William J. Johnson pernah mengatakan bahwa penyakit mental bukanlah sesuatu yang memalukan; yang memalukan justru stigma dan prasangka yang kita pelihara. Pernyataan ini relevan dengan kondisi saat ini, ketika media sosial dan tekanan sosial kerap memperburuk kondisi psikologis pemuda.

Oleh karena itu, pemuda perlu secara sadar membangun pola pikir dan persepsi yang sehat. Cara kita berpikir akan membentuk cara kita bertindak, dan pada akhirnya menentukan arah hidup kita. Pemuda Indonesia saat ini berada di persimpangan zaman. Jika mampu mengelola tantangan mental dengan kesadaran dan dukungan yang tepat, maka bonus demografi akan menjadi pijakan emas menuju masa depan. Namun jika diabaikan, potensi besar itu justru dapat berubah menjadi beban yang merugikan bangsa.

Kesehatan mental bukan isu pinggiran. Ia adalah jantung dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Tanpa mental yang sehat, mimpi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi slogan tanpa makna.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper