
BANJARMASIN- Bank Kalsel mencermati bahwa perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian, namun Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.
Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, menyatakan, pada 2026 ini Bank Kalsel mengambil langkah yang terukur dan penuh kehati-hatian dengan tetap menjaga optimisme terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan, sejalan dengan peran kami sebagai Bank Pembangunan Daerah yang mendukung perekonomian Kalimantan Selatan.
“Pertumbuhan global diproyeksikan moderat, dipengaruhi oleh fragmentasi perdagangan, tensi geopolitik, serta normalisasi kebijakan moneter negara maju,” katanya.
Di tengah kondisi global tersebut, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5 perssn.
“Konsumsi rumah tangga, pengendalian inflasi, serta sinergi kebijakan fiskal–moneter menjadi penopang utama stabilitas nasional. Sementara itu, sektor perbankan nasional tetap solid, meskipun menghadapi tantangan berupa pengetatan likuiditas dan tekanan margin,” jelas Fachrudin.
Lebih lanjut dijelaskan, bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD), tahun 2026 membawa tantangan spesifik, antara lain penyesuaian kebijakan fiskal daerah, kebutuhan penguatan modal inti, serta tuntutan efisiensi dan transformasi digital. Kondisi ini menjadi dasar bagi Bank Kalsel untuk memperkuat fundamental, menjaga kehati-hatian, dan mengarahkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Proyeksi Kinerja di 2026 dalam proyeksi tahun 2026, Bank Kalsel menargetkan pertumbuhan Aset sebesar 6,70 persen persen (YoY),Dana Pihak Ketiga tumbuh 6,01 persen (YoY), sedangkan Kredit dan Pembiayaan Bank Kalsel ditargetkan tumbuh 8,06 persen (YoY).
“Dari aktivitas dan ekspansi bisnis bank yang akan dilakukan di tahun 2026, ditargetkan laba bank tumbuh 7,26 persen dan modal inti tumbuh 8,12 persen,” kata Fachrudin.
Potensi Bisnis Bank Kalsel Tahun 2026 Dengan mempertimbangkan lanskap ekonomi global, nasional, dan regional, Bank Kalsel menetapkan target bisnis tahun 2026 secara realistis namun progresif, sebagaimana tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026–2028.
Fokus utama diarahkan pada pertumbuhan kredit yang sehat, terutama pada sektor produktif, penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan strategi peningkatan dana murah (CASA).
Peningkatan profitabilitas dan efisiensi, melalui optimalisasi pendapatan bunga dan fee based income.
Ceruk pasar prioritas Bank Kalsel meliputi segmen ASN dan pensiunan, UMKM lokal, sektor produktif unggulan daerah, ekosistem pemerintah daerah, serta pembiayaan berkelanjutan (green finance).
Strategi ini menegaskan peran Bank Kalsel sebagai motor intermediasi keuangan daerah dan mitra utama pembangunan Kalimantan Selatan.
Pengembangan operasional dan digitalisasi Bank Kalsel tahun 2026 ditetapkan sebagai fase akselerasi pengembangan operasional dan digitalisasi Bank Kalsel. Langkah ini ditempuh untuk menjawab perubahan perilaku nasabah, perkembangan teknologi, serta kebutuhan layanan yang semakin cepat dan efisien.
Arah pengembangan meliputi modernisasi proses operasional dan penyempurnaan SOP layanan. Akselerasi digital banking, termasuk peningkatan layanan mobile banking dan integrasi sistem.rds

