Mata Banua Online
Sabtu, Februari 7, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Politisasi Ditengah Bencana Di Sumatera

by Mata Banua
8 Desember 2025
in Opini
0
D:\2025\Desember 2025\9 Desember 2025\8\opini Selasa\Muhammad Zakif.jpg
Muhammad Zakif (Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas)

Genap seminggu dari bencana Banjir besar dan longsor yang melanda wilayah-wilayah di Sumatera, dari Aceh, Sumatera Utara sampai Sumatera Barat, meninggalkan luka sekaligus trauma yang sulit dilupakan oleh masyarakat Sumatera, dikarenakan banyak masyarakat yang kehilangan harta benda seperti rumah dan mobil dalam bencana banjir bandang tersebut. Adapula yang kehilangan anggota keluarganya yang hanyut terbawa air bah yang sangat dahsyat.bencana yang terjadi saat ini memang termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi, yakni bencana yang dipicu langsung oleh dinamika atmosfer atau cuaca.

Namun, di samping faktor cuaca itu sendiri, fakta menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi atau dampak dari bencana hidrometeorologi tersebut.Curah hujan tinggi memang memicu banjir.Banjir Sumatera bukan hanya akibat siklon atau hujan ekstrem. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang salah arah, dari praktik ekonomi yang mengabaikan daya dukung alam, dari politik pembangunan yang menempatkan ekonomi di atas kehidupan. Ia adalah peringatan paling jelas bahwa paradigma lama sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dan harus ada perubahan yang diambil oleh pemerintah agar bencana seperti ini dapat diminimalisir.

Berita Lainnya

Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Makan Bergizi Gratis: Tanggung Jawab Negara untuk Generasi Sehat

5 Februari 2026
Gelap Gempita, Tanya Kenapa?

Gelap Gempita, Tanya Kenapa?

5 Februari 2026

Kerusakan infrastruktur memperkeruh keadaan

Anehnya kayu gelondongan berukuran besar dan kecil pun ikut terbawa arus banjir dan menabrak apapun yang ada di depan nya baik rumah,kendaraan dan masyarakat setempat terkhususnya Di Sumatera Barat, banjir dan longsor menerjang kawasan dataran tinggi dan daerah aliran sungai. Peristiwa ini menyebabkan 165 orang meninggal, 114 hilang, dan memengaruhi lebih dari 219 ribu warga. Setidaknya 41.800 orang mengungsi, dan ratusan rumah rusak berat hingga ringan. Infrastruktur seperti 55 jembatan dan 86 fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan yang sangat parah.

Sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional terputus, antara lain ruas Koto Mambang–Balingka, Pasar Baru–Alahan Panjang, Panti–Simpang IV, serta jalan nasional Padang Panjang–Sicincin dan Simpang Taman–batas Lubuk Sikaping.Hanya jalan penghubung Padang-solok yang masih bisa dilewati dan menjadi jalan nasional satu satuny, penghubung kota padang dengan kabupaten/kota lainmya. Imbasnya akhir akhir ini terjadi kemacetan yang panjang di jalan tersebut dan yang membuat hati pilu kemacetan tersebut memakan banyak sekali korban.

Politisasi pejabat negara

Dengan adanya bencana tersebut para Menteri dan anggotal DPR malah menjadikan bencana tersebut menjadi ajang untuk pencitraan. Salah satunya adalah Zulkifli Hasan, yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia.Namanya mendadak mencuat ke publik lantaran dianggap panjat sosial (pansos) dan pencitraan saat memberikan bantuan kepada par korban bencana banjir di Sumatera, dia membawa sendiri beras seberat 10 kg tersebut padahal kita semua tahu banyak ajudan dan orang suruhannya disamping nya tetapi ia tetap pencitraan didepan kamera untuk mengambil simpati publik.

Tak hanya itu, di sisi lain publik geram karena jejak digitalnya saat menjadi Menteri Kehutanan bak menjadi cerminan pemerintah hingga terjadinya bencana banjir besar tersebut, Sebelumnya netizen ramai mengecam Zulkifli Hasan karena disebut sebagai biang banjir bandang di Sumatera saat menjabat jadi Menteri Kehutanan di tahun 2009 lalu, hal ini setelah tersebar video wawancaranya dengan Harrison Ford. Disisi lain publik dibuat geram dengan aksi Zita Anjani Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, sekaligus anak dari ketua umum partai PAN, Zulkifli Hasan.

Saat membantu korban banjir Sumatra menjadi pusat perhatian setelah video dirinya mengepel lantai rumah warga viral di media sosial. banyak yang menilai gaya memegang pel Zita tampak seperti pencitraan sehingga tidak menunjukkan kemampuan bersih-bersih yang sebenarnya.Penampilan Zita yang tetap stylish di tengah wilayah bencana juga menjadi bahan kritik karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang memerlukan kerja fisik.

Disisi lain Anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, mendapatkan banyak sekali kritikan. Unggahan Verrell memicu berbagai komentar warganet di media sosial, terutama di Threads. Beberapa mempertanyakan fungsi rompi yang dipakainya, ada juga yang menilai penampilannya seperti petugas khusus. Kunjungan Verrell ke Sumatera Barat dilakukan bersama Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, dan Zita Anjani. Mereka meninjau sejumlah titik terdampak banjir serta menyalurkan bantuan sembako kepada warga setempat.

Bencana banjir dan longsor di Sumatra merupakan tragedi ekologis yang sangat memilukan dan menyayat hati. Banyaknya korban jiwa serta besarnya kerusakan memperdalam luka kolektif bangsa. Kondisi ini semakin diperburuk oleh beredarnya temuan mengenai kerusakan hutan dan DAS yang diduga kuat menjadi salah satu faktor penyebab utama bencana. Negara harus hadir sepenuhnya, bukan hanya dengan empati dan bantuan, tetapi juga dengan penegakan hukum yang tegas dan konsisten untuk memastikan tragedi semacam ini tidak terus berulang.

Banjir bandang di sumatera bukan sekadar peristiwa alam, tetapi cermin rapuhnya ekologi akibat kebijakan yang keliru dan pengelolaan ruang yang abai. Air bah ini datang membawa pesan bahwa ruang hidup kita telah terlalu lama menanggung kerusakan. Menyebutnya “bencana alam” justru menutupi jejak kesalahan manusia yang nyata pada hulu yang rusak dan ekosistem yang kehilangan daya tahan. Tidak cukup dengan ukuran tangan pemerintah saja untuk mengembalikan ekonomi dan infrastruktur tapi juga perlu uluran tangan relawan relawan untuk mengembalikan kondisi di sumatera yang saat ini sedang down.

Syukurnya, banyak bala bantuan datang dari pemerintah pemerintah kabupaten/ kota lainya di Indonesia, seperti Lampung, Jawa tengah,Jawa Barat dan kabupaten/kota di sekeliling wilayah yang terdampak banjir bandang. Komitmen semua pihak dalam menjamin pemulihan ekologis, perumahan, infrastruktur, ekonomi dan kesehatan sangatlah perlu untuk membangun/memulihkan kembali Sumatera.Saya sebagai penulis hanya bisa berdoa untuk para korban yang kehilangan harta/benda maupun keluarganya semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan,

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper