
RANTAU-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapin, Kalimantan Selatan mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan regenerasi perajin, serta mengembangkan diversifikasi produk guna memastikan industri lokal tetap kompetitif.
Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Tapin Yustan Azidin mengatakan, pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan industri berbasis bahan lokal, salah satunya anyaman purun yang selama ini masih didominasi oleh perajin berusia di atas 30 tahun.
“Kalau tidak ada regenerasi, lama-lama bisa hilang, 2025 ini kami akan menggelar pelatihan diversifikasi produk lokal berbahan purun agar lebih menarik bagi anak muda,” ujarnya saat dihubungi via telpon di Rantau, Kabupaten Tapin, Sabtu.
Tak hanya terbatas pada produk konvensional seperti tikar dan tas jinjing (bakul), ucap Yustan, anyaman purun akan dikembangkan menjadi aksesori serta dekorasi rumah.
“Dengan inovasi ini diharapkan ayaman purun mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kerajinan tersebut,” katanya.
Selain regenerasi perajin purun, Pemkab Tapin juga menjadikan pelatihan pewarnaan alami pada kain sasirangan sebagai prioritas.
Yustan menyebutkan, penggunaan pewarna alami dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya jual kain khas Banjar tersebut.
“Penggunaan pewarna alami tak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan pewarna sintetis,” ujar Yustan.
Dia juga mengatakan, dengan regenerasi perajin dan diversifikasi produk, Pemkab Tapin berharap, industri kreatif dan UMKM lokal semakin berkembang tidak hanya bertahan tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.{[an/mb03]}

